Saya punya sifat usil yang spontan dalam masalah membuang sampah. Jika ada orang yang membuang sampah; baik itu kertas tisu, kulit buah-buahan, atau apapun dari jendela mobil di depan mobil yang saya kendarai maka otomatis saya membunyikan klakson panjang sebagai bentuk protes. Bahkan ketika saya duduk di sebelah sopir saya masih ‘sempat’kan untuk memencet klakson ketika melihat ada orang yang membuang sampah dari jendela mobil di depan kami sehingga membuat teman yang menyetir keheranan. Setelah saya jelaskan baru ia paham mengapa saya ‘usil’ seperti itu. Tentu saja mobil di depan saya tersebut akan bertanya-tanya apa yang terjadi. Tapi saya amati ternyata beberapa orang sadar bahwa mereka ditegur gara-gara membuang sampah seenaknya. Kalau itu terjadi maka saya akan sangat senang karena sudah melakukan tugas saya sebagai ‘a good citizen’. Saya sungguh tidak tahan melihat orang dengan seenaknya membuang sampah seolah menganggap seluruh muka bumi ini sebagai tempat sampah.
Apa yang sedang ‘hit’ di pedalaman Peru? 50 Siswa SD di pedalaman desa di bukit Andean baru saja memperoleh laptop dari proyek OLPC (One Laptop Per Child) delapan bulan yang lalu. Bagi Anda yang belum pernah mendengar OLPC, bisa membacanya di Wikipedia
One Laptop Per Child (satu laptop untuk setiap anak) (disingkat OLPC) atau The Children’s Machine atau XO-1 atau Laptop $100 adalah sebuah program penyediaan laptop dengan harga terjangkau untuk anak-anak di seluruh dunia, khususnya anak-anak di negara berkembang dengan harapan agar mereka dapat mengakses pengetahuan dan pendidikan modern.
OLPC adalah ide dari Nicholas Negroponte (1943) seorang ilmuwan komputer yang dikenal sebagai pendiri dan direktur dari Media Lab di MIT (Massachusetts Institute of Technology). Organisasi ini bertugas mendesain , membuat dan mendistribusikan laptop yang dimaksud.
Laptopnya sendiri akan berupa komputer mini yang membutuhkan tenaga sangat minim, menggunakan flash memory sebagai pengganti dari harddisk serta menggunakan Linux sebagai sistem operasinya. Mobile-adhoc networking akan digunakan untuk memungkinkan beberapa laptop dapat mengakses internet secara bersama-sama dari satu akses internet.
Mengajarkan keberagaman melalui pendidikan multikultural semakin penting bagi bangsa Indonesia guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik di beberapa daerah. Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap dan pola pikir siswa akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman. Selain itu pendidikan multikultural bisa menanamkan sekaligus mengubah pemikiran peserta didik untuk benar-benar tulus menghargai keberagaman etnis, agama, ras, dan antargolongan.
Sikap menghargai keberagaman harus mulai ditanamkan di sekolah. Sebenarnya, sekolah adalah tempat menghapuskan berbagai jenis prasangka yang bertujuan membuat siswa terkotak-kotak sehingga sekolah harus bebas diskriminasi.
Bagaimana mengajarkan keberagaman pada anak? Cara paling murah mungkin dengan menggunakan krayon. Krayon? Ya. Ide ini dilakukan oleh Kim Troncone di Veterans Memorial Elementary School pada siswa-siswa SD kelas 1 yang diajarnya. Inspirasi ini diperolehnya dari Martin King Luther Jr.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan ketika dimintai pendapatnya tentang perkembangan pendidikan Indonesia pernah berkata. “Jangan terlalu ribut soal kurikulum dan sistemnya. Itu semua bukan apa-apa, justru pelaku-pelakunya itulah yang lebih penting diperhatikan,” Sebagai mantan Mentri Pendidikan beliau tentu sadar betul bahwa kualitas gurulah yang justru menjadi permasalahan pokok pendidikan dimana pun. Baik itu di Indonesia, di Jepang, Finlandia, di AS, di manapun di dunia ini kualitas pendidikan ditentukan oleh kualitas gurunya, bukan oleh besarnya dana pendidikan dan juga bukan oleh hebatnya fasilitas. Jika guru berkualitas baik maka baik pula kualitas pendidikannya.
Contohnya adalah Finlandia, negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia, yang dengan serius menjaga kualitas gurunya.










Recent Comments