<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Sekolah Bertaraf Internasional : Quo Vadiz?</title>
	<atom:link href="http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/</link>
	<description>Centre for the Betterment of Education (CBE)</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 08:59:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Miss. Dwi</title>
		<link>http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/comment-page-2/#comment-631</link>
		<dc:creator>Miss. Dwi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 05:59:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#comment-631</guid>
		<description>pembahasan pak satria bener bgt.banyak sekolah yang &quot;ngakunya&quot; SBI dengan memakai nama sekolah kebarat-baratan ditambah embel2 International atau preschool, dengan mematok harga memakai US Dolar, dan pake bahasa inggris 100%. tapi coba tengok pendidikan gurunya, fasilitas sekolahnya, dan tanya memakai kurikulum International apa di sekolah itu, pasti kita bakal geleng2...kok berani buka sekolah &quot;ngaku&quot; SBI tapi kualitasnya indonesia banget. dan itu adalah bom waktu yang bakal jadi boomerang. 

mengerikan memang pendidikan di indonesia saat ini.bisanya cuma ngekor aja.ikut2an tren.biar dibilang kerrennnn</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pembahasan pak satria bener bgt.banyak sekolah yang &#8220;ngakunya&#8221; SBI dengan memakai nama sekolah kebarat-baratan ditambah embel2 International atau preschool, dengan mematok harga memakai US Dolar, dan pake bahasa inggris 100%. tapi coba tengok pendidikan gurunya, fasilitas sekolahnya, dan tanya memakai kurikulum International apa di sekolah itu, pasti kita bakal geleng2&#8230;kok berani buka sekolah &#8220;ngaku&#8221; SBI tapi kualitasnya indonesia banget. dan itu adalah bom waktu yang bakal jadi boomerang. </p>
<p>mengerikan memang pendidikan di indonesia saat ini.bisanya cuma ngekor aja.ikut2an tren.biar dibilang kerrennnn</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: eva</title>
		<link>http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/comment-page-2/#comment-533</link>
		<dc:creator>eva</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 02:01:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#comment-533</guid>
		<description>pak satria,,terima kasih atas tulisannya ini..tulisan bapak menginspirasi saya untuk menganalisis artikel mengenai SBI ini,,semoga ke depannya pendidikan di Indonesia dapat lebih maju dan orang-orang lain pun dapat lebih menyadari ketertindasan dan penjajahan akan pendidikan kita melalui program seperti ini....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pak satria,,terima kasih atas tulisannya ini..tulisan bapak menginspirasi saya untuk menganalisis artikel mengenai SBI ini,,semoga ke depannya pendidikan di Indonesia dapat lebih maju dan orang-orang lain pun dapat lebih menyadari ketertindasan dan penjajahan akan pendidikan kita melalui program seperti ini&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Andika</title>
		<link>http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/comment-page-2/#comment-525</link>
		<dc:creator>Andika</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 06:37:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#comment-525</guid>
		<description>wah bagaimana nanti nasib Bahasa Indonesia
klo semuanya serba Inggris

jadi inget lagunya Jambrut Asal British

...ya teranga aja seleramu berubah 
mungkin terlalu banyak gaul sama turis 
jadi hobinya ngonomng yang inggris-ingris 
biar bingung asal british....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah bagaimana nanti nasib Bahasa Indonesia<br />
klo semuanya serba Inggris</p>
<p>jadi inget lagunya Jambrut Asal British</p>
<p>&#8230;ya teranga aja seleramu berubah<br />
mungkin terlalu banyak gaul sama turis<br />
jadi hobinya ngonomng yang inggris-ingris<br />
biar bingung asal british&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Satria</title>
		<link>http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/comment-page-2/#comment-512</link>
		<dc:creator>Satria</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 02:26:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#comment-512</guid>
		<description>Dear all pengelola sekolah RSBI (atau SBI),
Berikut ini saya kirimkan sebuah e-mail dari Bambang S. PhD, dosen 
UTM di Johor Malaysia yang baru saja mengikuti seminar tentang penggunaan
bahasa Inggris di sekolah.
Tolong dibaca baik-baik dan resapkan. Jangan sampai kita ikut terjerumus hanya
karena tidak berani berkata tidak.
Semoga kita tidak mengalami kehancuran hanya karena latah dan tidak mau belajar
dari kesalahan.
salam
Satria


Kepada semuanya, kebetulan sore tadi saya ikut seminar tentang pengajaran sains
dan matematik di sekolah-sekolah di Malaysia [disini disebut PPSMI] yang akan
dihentikan pada 2012 nanti. Dari berbagai paparan dijelaskan bahwa
dimunculkannya itu memang terlebih sebagai ide dari seorang saja, yaitu Mahatir,
di ujung pemerintahannya dulu, tahun 2002. Ibaratnya, untuk menumbuhkan hal yang
baru maka perlu membinasakan yang lama [model yang kerap dipakai beliau saat
menjalankan pemerintahannya] . Para hardliner penentangnya dari awal memang
sudah ramai-ramai menunjukkan berbagai dampak yang bakalan terjadi (tergerusnya
identitas bahasa dan bangsa, penurunan pemahaman pelajaran sains dan matematik,
menurunya prestasi pendidikan, ketidaksiapan guru dll). Tapi bukan Mahatir kalau
tidak keukeuh-peteukueh (Sunda: keras kepala), yang ternyata kebijakan itu
ditetapkan tanpa merubah berbagai regulasi yang berhubungan dengan politik
bahasa nasional seperti mengenai
bahasa pengantar di sekolah, buku teks dan ujian dll, singkatnya ini syndrome
Malaysia Boleh-ness (Melayu: boleh = bisa).

Dari satu hasil riset skala besar yang diterangkan (melibatkan pakar dari
sembilan universitas negeri disini dan lebih dari 15 ribu siswa), PPSMI ini
memang tidak menghasilkan apa yang diharapkan pendetusnya. Yang bisa survive
hanya sekolah yang berada di kota besar dan sekolah berasrama di kota; jenis
sekolah lainnya nyaris tanpa ampun terjadi degradasi penurunan mutu. Misalnya
disebutkan jumlah siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian nasional
Malaysia (UPSR di tingkat SD dan SPM di tingkat SMA) [disini ujian nasional ada
juga, tapi penyelenggaraannya sangat ketat dan tidak ada yang berani main mata
seperti di kita], populasinya menurun [yang mendapat nilai A, sekitar 90%
menjawab benar]; yang meningkat hanya populasi yang mendapat nilai C. Jurang
prestasi antara siswa di kota besar dan daerah lain (kota kecil, desa dan
pedalaman) pun makin besar. Yang mencemaskan bagi puak Melayu adalah, populasi
siswa di kota besar yang berprestasi bagus
itu mayoritas justru keturunan Cina bukannya bumiputera. Praktek yang terjadi
di kelas pun bukan menggunakan Inggris sebagai bahasa komunikasi, namun lebih
pada menggunakan kata Inggris dalam kalimat dan konteks Bahasa Melayu. Tidak
aneh bahwa ini dianggap sebagai model kebijakan kontoversial yang sekaligus
membasmi kemampuan Berbahasa Ibu (bahasa Melayu), Bahasa Inggris dan juga
pemahaman terhadap sains dan matematik.

Dijelaskan juga fakta yang ada bahwa guru-guru di Malaysia pada saat program ini
dimulai, tahun 2003, memang tidak didisain untuk mengajarkan sains dan matematik
dalam English, sehingga &#039;akrobat&#039; penggunaan English setiap hari terjadi di
kelas sains dan matematik; yang tentunya membawa dampak membekas bagi siswa
bahwa sains dan matematik sebagai pelajaran menakutkan dan susah dipahami. Hal
yang wajar berhubung ketidakpahaman semantik memang berlanjut pada kegagalan
syntax.

Gejala di Indonesia adalah justru sedang ke arah yang sebaliknya, khususnya
dalam program RSBI; dimana guru MIPA diarahkan untuk berkomunikasi dalam
English, menyiapkan administrasi pelajaran dalam English dan bahkan mengevalusi
belajar siswanya pun dengan English. Kalau dengar cerita kegagalan PPSMI di
Malaysia yang memang didukung dana mencukupi dan training intesif saja begitu,
apalagi di RSBI yang cuman dapat tambahan &#039;modal usaha&#039; Rp 0,5 M per tahun? tapi
siapa tahu kita kan penuh akal, modal nekat dan tentu berani :).

wassalam,
Bambang

Kalau mau baca lengkap dengan bukti penelitiannya bisa dilihat di sini.
Pengajaran dan Pembelajaran Sains dan Matematik dalam Bahasa Inggeris
Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas.
http://ms.wikipedia.org/wiki/Pengajaran_dan_Pembelajaran_Sains_dan_Matematik_dalam_Bahasa_Inggeris#Hasil_dan_reaksi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear all pengelola sekolah RSBI (atau SBI),<br />
Berikut ini saya kirimkan sebuah e-mail dari Bambang S. PhD, dosen<br />
UTM di Johor Malaysia yang baru saja mengikuti seminar tentang penggunaan<br />
bahasa Inggris di sekolah.<br />
Tolong dibaca baik-baik dan resapkan. Jangan sampai kita ikut terjerumus hanya<br />
karena tidak berani berkata tidak.<br />
Semoga kita tidak mengalami kehancuran hanya karena latah dan tidak mau belajar<br />
dari kesalahan.<br />
salam<br />
Satria</p>
<p>Kepada semuanya, kebetulan sore tadi saya ikut seminar tentang pengajaran sains<br />
dan matematik di sekolah-sekolah di Malaysia [disini disebut PPSMI] yang akan<br />
dihentikan pada 2012 nanti. Dari berbagai paparan dijelaskan bahwa<br />
dimunculkannya itu memang terlebih sebagai ide dari seorang saja, yaitu Mahatir,<br />
di ujung pemerintahannya dulu, tahun 2002. Ibaratnya, untuk menumbuhkan hal yang<br />
baru maka perlu membinasakan yang lama [model yang kerap dipakai beliau saat<br />
menjalankan pemerintahannya] . Para hardliner penentangnya dari awal memang<br />
sudah ramai-ramai menunjukkan berbagai dampak yang bakalan terjadi (tergerusnya<br />
identitas bahasa dan bangsa, penurunan pemahaman pelajaran sains dan matematik,<br />
menurunya prestasi pendidikan, ketidaksiapan guru dll). Tapi bukan Mahatir kalau<br />
tidak keukeuh-peteukueh (Sunda: keras kepala), yang ternyata kebijakan itu<br />
ditetapkan tanpa merubah berbagai regulasi yang berhubungan dengan politik<br />
bahasa nasional seperti mengenai<br />
bahasa pengantar di sekolah, buku teks dan ujian dll, singkatnya ini syndrome<br />
Malaysia Boleh-ness (Melayu: boleh = bisa).</p>
<p>Dari satu hasil riset skala besar yang diterangkan (melibatkan pakar dari<br />
sembilan universitas negeri disini dan lebih dari 15 ribu siswa), PPSMI ini<br />
memang tidak menghasilkan apa yang diharapkan pendetusnya. Yang bisa survive<br />
hanya sekolah yang berada di kota besar dan sekolah berasrama di kota; jenis<br />
sekolah lainnya nyaris tanpa ampun terjadi degradasi penurunan mutu. Misalnya<br />
disebutkan jumlah siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian nasional<br />
Malaysia (UPSR di tingkat SD dan SPM di tingkat SMA) [disini ujian nasional ada<br />
juga, tapi penyelenggaraannya sangat ketat dan tidak ada yang berani main mata<br />
seperti di kita], populasinya menurun [yang mendapat nilai A, sekitar 90%<br />
menjawab benar]; yang meningkat hanya populasi yang mendapat nilai C. Jurang<br />
prestasi antara siswa di kota besar dan daerah lain (kota kecil, desa dan<br />
pedalaman) pun makin besar. Yang mencemaskan bagi puak Melayu adalah, populasi<br />
siswa di kota besar yang berprestasi bagus<br />
itu mayoritas justru keturunan Cina bukannya bumiputera. Praktek yang terjadi<br />
di kelas pun bukan menggunakan Inggris sebagai bahasa komunikasi, namun lebih<br />
pada menggunakan kata Inggris dalam kalimat dan konteks Bahasa Melayu. Tidak<br />
aneh bahwa ini dianggap sebagai model kebijakan kontoversial yang sekaligus<br />
membasmi kemampuan Berbahasa Ibu (bahasa Melayu), Bahasa Inggris dan juga<br />
pemahaman terhadap sains dan matematik.</p>
<p>Dijelaskan juga fakta yang ada bahwa guru-guru di Malaysia pada saat program ini<br />
dimulai, tahun 2003, memang tidak didisain untuk mengajarkan sains dan matematik<br />
dalam English, sehingga &#8216;akrobat&#8217; penggunaan English setiap hari terjadi di<br />
kelas sains dan matematik; yang tentunya membawa dampak membekas bagi siswa<br />
bahwa sains dan matematik sebagai pelajaran menakutkan dan susah dipahami. Hal<br />
yang wajar berhubung ketidakpahaman semantik memang berlanjut pada kegagalan<br />
syntax.</p>
<p>Gejala di Indonesia adalah justru sedang ke arah yang sebaliknya, khususnya<br />
dalam program RSBI; dimana guru MIPA diarahkan untuk berkomunikasi dalam<br />
English, menyiapkan administrasi pelajaran dalam English dan bahkan mengevalusi<br />
belajar siswanya pun dengan English. Kalau dengar cerita kegagalan PPSMI di<br />
Malaysia yang memang didukung dana mencukupi dan training intesif saja begitu,<br />
apalagi di RSBI yang cuman dapat tambahan &#8216;modal usaha&#8217; Rp 0,5 M per tahun? tapi<br />
siapa tahu kita kan penuh akal, modal nekat dan tentu berani <img src='http://satriadharma.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>wassalam,<br />
Bambang</p>
<p>Kalau mau baca lengkap dengan bukti penelitiannya bisa dilihat di sini.<br />
Pengajaran dan Pembelajaran Sains dan Matematik dalam Bahasa Inggeris<br />
Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas.<br />
<a href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Pengajaran_dan_Pembelajaran_Sains_dan_Matematik_dalam_Bahasa_Inggeris#Hasil_dan_reaksi" rel="nofollow">http://ms.wikipedia.org/wiki/Pengajaran_dan_Pembelajaran_Sains_dan_Matematik_dalam_Bahasa_Inggeris#Hasil_dan_reaksi</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: VERAWATI</title>
		<link>http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/comment-page-2/#comment-501</link>
		<dc:creator>VERAWATI</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 09:45:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#comment-501</guid>
		<description>Salam kenal buat mas ahmad ridwan.
Jika anda telah banyak membaca dan mengkaji kurikulum SBI, mohon berikan info dimana saya bisa mndapat sumbr-sumber trsebut. terima kasih, hidup kurikulum indonesia! saya bangga menjadi WNI.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal buat mas ahmad ridwan.<br />
Jika anda telah banyak membaca dan mengkaji kurikulum SBI, mohon berikan info dimana saya bisa mndapat sumbr-sumber trsebut. terima kasih, hidup kurikulum indonesia! saya bangga menjadi WNI.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: VERAWATI</title>
		<link>http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/comment-page-2/#comment-500</link>
		<dc:creator>VERAWATI</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 19:03:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#comment-500</guid>
		<description>Salam kenal Pak Satria.
Saya mahasiswa S2 Pendidikan di University Kebangsan Malaysia. Say baru saja dapat kesemptan dari Ford Foundation untuk ambil master di UKM sini. Saya sediiih melihat proses blajar mengajar di salahsatu kampus terbaik  malaysia ini jauh di bawah standar di Indonsia. saya menyesal memilih negara ini karena ternyata faktanya indonesia saya rasakan lebih baik (S1 saya di UNJ Jakarta). di negara ini pun mencuat isu yang sama yang disbt PPSMI yakni pengajaran matematika dan sains dg bahasa inggris dan banyak pula yg menentangnya. sekolah saya adalah sekolah kejuruan yang juga statusnya SBI. saya yakin jika sekolah kejuruan jarang ada yang mau melanjutkan karena kebanyakan murid-murid saya berlatarbelakang orang tak mampu. saya ingin sekali mengevaluasi program SBI ini untuk dapat menjlaskan kepada pembuat kebijakan di tingkat kabupaten (minimalnya) bahwa SBI bukan identik untuk anak-anak orang berpenghasilan tinggi.saya pernah juga menjadi salahsatu pengajar di SMA 1 Tambun Selatan tapi batin saya tertekan karena saya lihat para pejabatnya semakin kaya sementara kami guru-gurunya hanya dituntut kerja ekstra. saya yakin semua yang setuju SBI mengambil untung dari proyek ini. Oleh sebab itu saya sangat ingin menulis penelitian tentang kegaglan SBI ini tapi dan saya kurang bahan untuk memberikan argumen, data dan fakta bahwa program ini salah. Ford foundation akan membiayai penelitian saya ke negara manapun di seluruh dunia asalkan tujuan riset saya jelas dan terukur. saya rasa sekaranglah saatnya saya berbuat sesuatu untuk bangsa. saya mohon nasehat bapak di email saya :verawati_smkn277@yahoo.co.id. Ke negara mana saya seharusnya melakukan penelitian? saya ingin membuktikan bahwa program ini memang KURANG TEPAT. Terimakasih sebelumnya, semoga penelitian saya akan bermanfaat, minimal ntuk kabupaten saya, yakni BEKASI.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal Pak Satria.<br />
Saya mahasiswa S2 Pendidikan di University Kebangsan Malaysia. Say baru saja dapat kesemptan dari Ford Foundation untuk ambil master di UKM sini. Saya sediiih melihat proses blajar mengajar di salahsatu kampus terbaik  malaysia ini jauh di bawah standar di Indonsia. saya menyesal memilih negara ini karena ternyata faktanya indonesia saya rasakan lebih baik (S1 saya di UNJ Jakarta). di negara ini pun mencuat isu yang sama yang disbt PPSMI yakni pengajaran matematika dan sains dg bahasa inggris dan banyak pula yg menentangnya. sekolah saya adalah sekolah kejuruan yang juga statusnya SBI. saya yakin jika sekolah kejuruan jarang ada yang mau melanjutkan karena kebanyakan murid-murid saya berlatarbelakang orang tak mampu. saya ingin sekali mengevaluasi program SBI ini untuk dapat menjlaskan kepada pembuat kebijakan di tingkat kabupaten (minimalnya) bahwa SBI bukan identik untuk anak-anak orang berpenghasilan tinggi.saya pernah juga menjadi salahsatu pengajar di SMA 1 Tambun Selatan tapi batin saya tertekan karena saya lihat para pejabatnya semakin kaya sementara kami guru-gurunya hanya dituntut kerja ekstra. saya yakin semua yang setuju SBI mengambil untung dari proyek ini. Oleh sebab itu saya sangat ingin menulis penelitian tentang kegaglan SBI ini tapi dan saya kurang bahan untuk memberikan argumen, data dan fakta bahwa program ini salah. Ford foundation akan membiayai penelitian saya ke negara manapun di seluruh dunia asalkan tujuan riset saya jelas dan terukur. saya rasa sekaranglah saatnya saya berbuat sesuatu untuk bangsa. saya mohon nasehat bapak di email saya :verawati_smkn277@yahoo.co.id. Ke negara mana saya seharusnya melakukan penelitian? saya ingin membuktikan bahwa program ini memang KURANG TEPAT. Terimakasih sebelumnya, semoga penelitian saya akan bermanfaat, minimal ntuk kabupaten saya, yakni BEKASI.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ibu Didin</title>
		<link>http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/comment-page-2/#comment-476</link>
		<dc:creator>Ibu Didin</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 17:12:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#comment-476</guid>
		<description>SBI ini memang &#039;proyek&#039; ancur2an, sy justeru mempertanyakan pengambil kebijakan yg standar internasional itu apanya? materi dalam bahasa inggris? kalau itu sahaja tidak cukup layak digarap sbg program nasional, belum lagi permasalahan yg muncul terkait bhs inggris guru spt yg disebutkan pak SD diatas. Kemudian standar internasional yg mana? mau berkiblat ke internasional belahan mana? sistem pendidikan Amerika, Jepang, Singapur, Eropa, Australia atau luar negeri yang lain beda-beda, setau saya Eropa lebih manusiawi dan menekankan aspek kualitatif, Jepun dan Singapure tensi tinggi, US Australia lebih menekankan aspek kuantitatif, dan lagi, masing2 negara itu punya persoalan pendidkan yang khas, sebagaimaan Indonesia juga PASTI punay kekhasan. Mungkin siy yang namanya taraf internasional itu tarifnya :))

Apa siy manfaatnya jor-joran mengejar status internasional?! emang bakal diakui dunia? emang bakal di acknowledge scientist atau pakar pendidikan dunia?!

Ingat loh ada dana besar yang digelontorkan, dan ini TIDAK ADIL, untuk anak-anak yang bersekolah di sekolah2 swasta yang bukan swasta elit, mereka ekonomi sulit, bayar sekolah tinggi, angka kelulusan jg secara umum kalah dibanding sekolah negeri, kenapa bukan standar sekolah mereka yang dinaikkan, sekolah2 dibawah standarlah yang seharusnya dipelihara pemerintah, di support habis2an untuk menaikkan kualifikasinya.

Ngeri..makin kacau aza nie negara.

wass,
Ibu Didin
Ibu Rumah Tangga, Praktisi IT, Student</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SBI ini memang &#8216;proyek&#8217; ancur2an, sy justeru mempertanyakan pengambil kebijakan yg standar internasional itu apanya? materi dalam bahasa inggris? kalau itu sahaja tidak cukup layak digarap sbg program nasional, belum lagi permasalahan yg muncul terkait bhs inggris guru spt yg disebutkan pak SD diatas. Kemudian standar internasional yg mana? mau berkiblat ke internasional belahan mana? sistem pendidikan Amerika, Jepang, Singapur, Eropa, Australia atau luar negeri yang lain beda-beda, setau saya Eropa lebih manusiawi dan menekankan aspek kualitatif, Jepun dan Singapure tensi tinggi, US Australia lebih menekankan aspek kuantitatif, dan lagi, masing2 negara itu punya persoalan pendidkan yang khas, sebagaimaan Indonesia juga PASTI punay kekhasan. Mungkin siy yang namanya taraf internasional itu tarifnya <img src='http://satriadharma.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>Apa siy manfaatnya jor-joran mengejar status internasional?! emang bakal diakui dunia? emang bakal di acknowledge scientist atau pakar pendidikan dunia?!</p>
<p>Ingat loh ada dana besar yang digelontorkan, dan ini TIDAK ADIL, untuk anak-anak yang bersekolah di sekolah2 swasta yang bukan swasta elit, mereka ekonomi sulit, bayar sekolah tinggi, angka kelulusan jg secara umum kalah dibanding sekolah negeri, kenapa bukan standar sekolah mereka yang dinaikkan, sekolah2 dibawah standarlah yang seharusnya dipelihara pemerintah, di support habis2an untuk menaikkan kualifikasinya.</p>
<p>Ngeri..makin kacau aza nie negara.</p>
<p>wass,<br />
Ibu Didin<br />
Ibu Rumah Tangga, Praktisi IT, Student</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: henny kartikawati</title>
		<link>http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/comment-page-1/#comment-473</link>
		<dc:creator>henny kartikawati</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 15:33:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#comment-473</guid>
		<description>saya seorang ibu yg kebetulan anak laki-laki saya cukup berprestasi. sekolah di sd al azhar smg. rencana mau masuk rsbi yg nampaknya insya Allag diterima. Dgn melihat ekonomi indonesia saat ini dimana biaya PTN juga tinggi (kedokteran 200 jt) dimana saya berharap anak saya kelak menjadi praktisi it. Saat ini saya mengamati lulusan indonesia sulit mencari kerja di indonesia dan kalaupun dapat pekerjaan tdk mencukupi. Bijaksanakah saya jika menyekolahkan anak saya di sekolah int siste.m cambridge dgn harapan S1 anak saya di singapore. Padahal spp sekolah tsb 3.5 jt sebulan. itung-itung investasi betulkah? kalau kerja di LN kan gajinya mencukupi. Sebagai catatan keuangan saya juga pas-pasan, bukan bermercy dgn penghasilan berdua kurang dari 12 JT perbulan.  Apakah cita-cita saya terlalu berlebihan.  Jangan anggap saya tdk nasionalis..justru saya tdk ingin membebani indonesia yg saya harapkan bisa menghidupi generasi anak saya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya seorang ibu yg kebetulan anak laki-laki saya cukup berprestasi. sekolah di sd al azhar smg. rencana mau masuk rsbi yg nampaknya insya Allag diterima. Dgn melihat ekonomi indonesia saat ini dimana biaya PTN juga tinggi (kedokteran 200 jt) dimana saya berharap anak saya kelak menjadi praktisi it. Saat ini saya mengamati lulusan indonesia sulit mencari kerja di indonesia dan kalaupun dapat pekerjaan tdk mencukupi. Bijaksanakah saya jika menyekolahkan anak saya di sekolah int siste.m cambridge dgn harapan S1 anak saya di singapore. Padahal spp sekolah tsb 3.5 jt sebulan. itung-itung investasi betulkah? kalau kerja di LN kan gajinya mencukupi. Sebagai catatan keuangan saya juga pas-pasan, bukan bermercy dgn penghasilan berdua kurang dari 12 JT perbulan.  Apakah cita-cita saya terlalu berlebihan.  Jangan anggap saya tdk nasionalis..justru saya tdk ingin membebani indonesia yg saya harapkan bisa menghidupi generasi anak saya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ratna UNY</title>
		<link>http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/comment-page-1/#comment-466</link>
		<dc:creator>ratna UNY</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 09:18:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#comment-466</guid>
		<description>menurut hasil penelitian selama 3 bulan di salah satu kelas RSBI SMP di Yogyakarta saya bisa menyimpulkan bahwa dalam penyelenggaraan RSBI disana sama halnya dengan kelas bilingual.
data yang saya dapat sebagian besar guru RSBI mempunyai keterbatasan dalam penguasaan b.inggris &amp; ICT.beberapa siswa mengeluhkan kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan guru yang menggunakan bahasa Inggris. 
kurikulum di kelas tersebut juga sebenarnya sama dengan kelas reguler yaitu KTSP.kepala sekolah di SMP tsb mengungkapkan bahwa unsur X (dalam SNP+X) adalah unggul penguasaan bahasa inggris dan kemampuan ICT. 
sedang dalam penerapan Teknologi pembelajaran yang ada disana saya bisa menyimpulkan kurang optimal, baik dalam kawasan pengolaan,pemanfaatan,dan pengembangan. padahal penerapan teknologi pembelajaran sangat penting guna mengoptimalkan kualitas mengajar dari guru misalnya. usul bagi semua sekolah RSBI di seluruh indonesia dalam penyelenggaran RSBI semua guru harus/wajib menerapkan teknologi pembelajaran dengan baik, jangan cuma teori saja n jangan salah kaprah bahwa arti teknologi pembelajaran itu hanya yang berhubungan perangkat keras saja.
 benar nggak pak? oh ya pak klo bapak mempunyai bahan tentang dasar pemikiran RSBI atau RSBI saya minta tolong kirimkan ke alamat email saya adsvanze@yahoo.com 
makasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>menurut hasil penelitian selama 3 bulan di salah satu kelas RSBI SMP di Yogyakarta saya bisa menyimpulkan bahwa dalam penyelenggaraan RSBI disana sama halnya dengan kelas bilingual.<br />
data yang saya dapat sebagian besar guru RSBI mempunyai keterbatasan dalam penguasaan b.inggris &amp; ICT.beberapa siswa mengeluhkan kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan guru yang menggunakan bahasa Inggris.<br />
kurikulum di kelas tersebut juga sebenarnya sama dengan kelas reguler yaitu KTSP.kepala sekolah di SMP tsb mengungkapkan bahwa unsur X (dalam SNP+X) adalah unggul penguasaan bahasa inggris dan kemampuan ICT.<br />
sedang dalam penerapan Teknologi pembelajaran yang ada disana saya bisa menyimpulkan kurang optimal, baik dalam kawasan pengolaan,pemanfaatan,dan pengembangan. padahal penerapan teknologi pembelajaran sangat penting guna mengoptimalkan kualitas mengajar dari guru misalnya. usul bagi semua sekolah RSBI di seluruh indonesia dalam penyelenggaran RSBI semua guru harus/wajib menerapkan teknologi pembelajaran dengan baik, jangan cuma teori saja n jangan salah kaprah bahwa arti teknologi pembelajaran itu hanya yang berhubungan perangkat keras saja.<br />
 benar nggak pak? oh ya pak klo bapak mempunyai bahan tentang dasar pemikiran RSBI atau RSBI saya minta tolong kirimkan ke alamat email saya <a href="mailto:adsvanze@yahoo.com">adsvanze@yahoo.com</a><br />
makasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Santi</title>
		<link>http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/comment-page-1/#comment-460</link>
		<dc:creator>Santi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 03:11:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#comment-460</guid>
		<description>Wah sekolah kami (SMP swasta) baru mau mulai RSBI  tuch Semester depan (July 2009 ini). Tim Kami Alhamdulilah still young &amp; fresh graduate dgn English yang lumayan.Jadi ngga ada tuch guru pendamping &amp; training. Kami maju dengan modal PD abiss. The show must go on. No extra money, no incentive, we are paid under RSBI standard. But keep smiling keep shining. Namanya juga masih muda...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah sekolah kami (SMP swasta) baru mau mulai RSBI  tuch Semester depan (July 2009 ini). Tim Kami Alhamdulilah still young &amp; fresh graduate dgn English yang lumayan.Jadi ngga ada tuch guru pendamping &amp; training. Kami maju dengan modal PD abiss. The show must go on. No extra money, no incentive, we are paid under RSBI standard. But keep smiling keep shining. Namanya juga masih muda&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
