Anak TK Tidak Boleh Diajari Membaca?

Pagi ini ada acara silaturrahmi orang tua siswa sekolah anak kami dan salah satu acaranya adalah ceramah tentang pendidikan yang disampaikan oleh Prof Suharyadi dari UI. Ceramahnya disampaikan dengan sangat menarik karena beliau pandai berkomunikasi dan suka humor.

Tapi ada hal yang disampaikan beliau yang mengganjal pikiran saya. Sebetulnya saya pingin berdiskusi dengan beliau tapi beliau terburu-buru ada acara lain sehingga pertanyaan saya ini terpaksa saya lemparkan ke milis ini. Saya berharap bisa memperoleh jawaban.

Pada ceramahnya beliau mengatakan bahwa batas usia masuk SD yang ideal adalah 7 tahun. Yang menjadi pertanyaan saya adalah : Apa dasar penentuan usia tujuh tahun tersebut? There should be argument behind this. Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama menggoda saya tapi belum pernah dapat jawaban yang memuaskan. Tentunya penentuan batas usia tersebut tidak muncul begitu saja tapi memiliki argumen di belakangnya. Mungkin ada teman milis yang bisa menjawabnya. Terus terang pada saat ceramah argumennya tidak muncul sehingga pertanyan ini kembali menggoda saya.

Selain itu ada pernyataan beliau yang juga menggoda saya. Beliau mengatakan bahwa jika ada anak yang sampai usia tujuh tahun belum bisa membaca maka para orang tua semestinya berbahagia karena itu yang benar. Pernyataan ini tentu saja sangat provokatif dan mungkin bertujuan untuk ‘menenangkan’ sebagian orang tua yang mungkin anaknya belum juga bisa membaca meski sudah berusia tujuh tahun. Saya sulit menebak kemana arah dari pernyataan tersebut dengan Sayang sekali bahwa tidak terjadi diskusi mengenai hal ini setelah ceramah tersebut.

Pernyataan lain yang juga saya anggap ‘provokatif’ adalah bahwa sebelum usia tujuh tahun anak jangan diajarkan untuk membaca karena akan membuat otak anak justru tidak bisa berkembang dengan optimal. Saya tentu tidak meragukan kemampuan intelektual beliau apalagi beliau adalah dosen UI dengan gelar professor tapi pernyataan semacam ini tentunya membutuhkan argumen yang bersifat akademis, yang sayangnya tidak muncul karena memang bukan forumnya. Saya terus terang jadi penasaran.

Penelitian tentang kecerdasan anak belakangan ini semakin lama semakin meneguhkan adanya masa ‘usia emas 1 s/d 5 tahun’ bagi perkembangan otak anak, baik otak belakang-muka, kiri maupun kanan dan orang tua yang meyia-nyiakan masa usia emas tersebut dianggap akan merugikan perkembangan mental anak di masa-masa berikutnya. Tentu saja pro dan kontra tentang ini sangat riuh-rendah dan banyak diantara kita yang bersifat ‘wait and see’ dan banyak yang bersikap ambil aman daripada terjadi apa-apa nantinya. Tetapi pernyataan bahwa anak baru siap dididik pada usia tujuh tahun bagi saya adalah ‘out of date’ dan patut dipertanyakan argumentasinya.

Pernyataan ini mungkin dipicu oleh keprihatinan dalam melihat betapa sekolah sebagai tempat belajar secara formal ternyata telah menjadikan proses belajar menjauh dari proses bermain yang sebenarnya merupakan sumber inspirasi dalam belajar bagi anak-anak. Anak-anak telah dipisahkan dari proses bermain yang merupakan wahana bagi mereka dalam belajar dan meningkatkan kecerdasan. Dengan menekankan rasionalitas dan logika semata dalam proses belajar , terutama pada anak-anak, memang akan mengerdilkan kemampuan anak dalam belajar. Anak-anak di Taman Kanak-kanak (Kindergarten) belajar melalui bermain. Bermain bukanlah konsep yang terpisah dengan belajar.

Pernyataan beliau bahwa otak belakanglah yang menentukan kecerdasan seseorang juga perlu dipertanyakan. Kecerdasan nampaknya lebih ditentukan oleh otak bagian depan, yang kita kenal dengan otak kiri dan otak kanan. Otak bagian belakang ‘cuma’ berperanan penting dalam mengatur pernapasan dan koordinasi gerakan tubuh, atau yang disebut dengan ‘kegiatan vegetatif’ (“Revolusi IQ/EQ/SQ : Antara Neurosains dan Al-Qur’an. Taufiq Pasiak hal 72). Menurut ‘Tiga Otak’ Paul McLean otak belakang termasuk dalam Otak Reptil (Batang Otak) yang memiliki fungsi motorik sensoris, kelangsungan hidup(makan, minum,reproduksi, tempat tingal), dan respon lawan atau lari (ibid. hal 134).

Mungkin yang dimaksudkan oleh beliau adalah bahwa keberhasilan dalam pemikiran dan akal dikemudian hari ditentukan pada tahap perkembangan motorik yang banyak ditentukan oleh otak belakang ini. Tahap perkembangan motorik memang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam tahapan perkembangan dalam berbicara, membaca, atau pemikiran logis lainnya.

Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan saya adalah ketidaksetujuan beliau terhadap anak TK yang belajar membaca. Meski ini bukan hal yang aneh tapi tidak jelas apa yang menjadi keberatan beliau. Apakah karena materi belajar membaca (mengenal huruf sampai bisa membaca kalimat dan paragraf) dianggap belum mampu untuk dicerna oleh intelektualitas anak sehingga dikuatirkan akan dapat membuat otak anak menjadi terforsir dan dapat menjadikannya kelelahan (fatigue) dan memperngaruhi perkembangan intelektualitas mereka kelak, ataukah proses dalam belajar membaca tersebut dikuatirkan akan menjadi begitu formal dan terstruktur sehingga seolah tercerabut dari dunia anak yang semestinya lebih kepada bermain, suatu proses yang ‘memaksa dan’membebani’ anak secara mental? Kita mesti jelas dalam hal ini agar kita tidak salah dalam menganalisa permasalahan. Sekedar mengingatkan, otak kita telah berkembang 80% pada usia 5 tahun dan dianggap telah mencapai sempurna 100% pada usia 8 tahun sehingga menunggu otak berkembang sampai sempurna dulu baru dilatih tentu merupakan hal yang mubazir.

Satu hal yang paling ‘mengganggu’ saya adalah pernyataan bahwa ada peraturan yang menyatakan bahwa anak TK TIDAK BOLEH diajar untuk membaca. Sayang sekali tidak jelas peraturan tersebut tercantum dimana karena tentu saja peraturan tersebut patut dipertanyakan. Apakah memang benar ada peraturan tersebut dan dimana kita bisa melihatnya?

Sekedar untuk menutup ‘uneg-uneg’ saya perlu saya sampaikan bahwa Prof. DR. Dedi Supriadi, Guru Besar Universtas Pendidikan Bandung, dengan tegas menjawab bahwa anak usia dini dapat diajari membaca, menulis, dan berhitung ketika ditanya pendapatnya tentang kontroversi bisa tidaknya anak usia dini diberikan materi pelajaran. Bahkan menurutnya anak usia dini dapat diajar tentang sejarah, geografi, dan lain-lainnya. Pertanyaannya bukan lagi apakah seorang balita bisa diajar membaca atau tidak tapi BAGAIMANA MENGAJAR ANAK BALITA MEMBACA. Di Jepang dan negara-negara maju lainnya anak-anak telah diperkenalkan untuk membaca sejak mereka masih Pra-TK dan kita yakin bahwa bangsa Jepang tentu tidak ingin ‘mengorbankan’ anak-anak mereka jika mereka tahu bahwa belajar membaca tersebut akan berakibat buruk bagi anak-anak mereka di masa depan.

Wallahu alam bissawab.

Komentar dan pendapat teman-teman saya harapkan.

Wassalam

SD

Related posts:

  1. Guru yang Tidak Bisa Membaca
  2. MEMBACA ATAU MATI!
 

24 Responses to “Anak TK Tidak Boleh Diajari Membaca?”

  1. agorsiloku says:

    anak saya belajar membaca umur 4-5 tahun, sebelum masuk TK. Pingin sendiri, ayah dan ibunya juga “bosan” terus harus membacakan cerita untuk anaknya. TK umur 5 tahun sudah mulai bisa baca. Lha, anak saya kok nggak bodo-bodo amat. Kemarin ikutan test pra toefl sih di lembaga penyelenggara. hasilnya lumayan, dapat 643, padahal nggak pernah ikut kursus bahasa. Bapaknya nggak bisa ngajarin, karena cuma bisa basa medok daerah saja. Jadi, kesimpulan saya, biarkan anak memilih yang disukainya. Belajar membaca karena suka dan menikmatinya….

  2. Farida ch says:

    Mungkin saja pak prof itu menyoroti pend. Tk yang kini kelewat batas, karena banyak TK yang membebani anak dengan ‘bacaan’ tak bermakna minus gambar ditambah diberi PR hitungan dan menulis sampai harus rapi banget…Coba aja tengok anak-anak TK sekarang. Sibuknya sudah kayak anak SD. Tapi…kalau pernyataan pak prof itu ditafsirkan langsung seperti apa adanya, saya juga ga setuju. Saya pernah baca, bahwa sejak dini..malah dari sejak bayi harus dikenalkan dengan bacaan. Tentu bukan membaca huruf..tapi diberi gambar-gambar menarik yang sesuai dg dunia mereka. Efek pengenalan itulah yang membuat mereka merasa perlu bisa baca sendiri. Jadi tak ada paksaan dan target tertentu. Yang terjadi skrg ..banyak SD yg ga mau nerima kalau lulusan TK belum bisa baca. Mgkn itu yang bikin pa prof buat pernyataan kontroversial.

  3. dewi says:

    sekarang sudah ada cara mengajar balita membaca dan berhitung sambil bermain. orang tua pun hanya perlu waktu kurang dari 10 menit sehari untuk melakukan aktifitas ini. Cara yang fun dan membuat anak lebih cerdas dengan metode sangat sederhana. Silakan mampir ke kartupintar.blogspot.com

  4. Riri says:

    Saya tinggal di Switzerland dan anak saya waktu ditaman kanak-kanak mendapat peraturan seperti itu, orang tua tidak diperbolehkan mengajar anak membaca atau menulis dan itu peraturan pemerintah loh. Tetapi anak saya sangat berkeinginan dan mencoba mengenal huruf dimasa taman kanak-kanak karena sejak umur setahun kami selalu membacakan buku untuknya dan juga pada usia 4 tahun kami membacakan buku cerita anak sebelum tidur. Di sini anak masuk kelas satu pada usia 7 tahun dan anak-anak yg memulai tanpa mengenal huruf dan angka sebagian besar menjadi masalah karena terlalu berat untuk anak tsb karena di TK hanya bermain. untuk sementara menjadi topik oleh pemerintah untuk mengenal huruf dan menulis sejak taman kanak-kanak. Pendapat saya sebagai ibu kita tidak boleh memaksa anak untuk belajar tetapi kita dapat mengarahkan anak untuk mengenal huruf dan angka serta belajar sambil bermain sehingga anak itu tidak merasa terpaksa, dimana paksaan atau tekanan menyebabkan anak menjadi pasif atau tidak kreatif. Pada saat disekolah mereka tidak dapat belajar berdiri sendiri sehingga selalu harus dibantu oleh orang tua, yang sebenarnya anak itu dapat belajar dengan sendirinya. Dan setiap anak mempunyai kepandaian yg berbeda beda karena antara aktif di otak kiri atau di otak kanan ada juga kedua-duanya. Bila anak semasa satu sampai lima tahun kita sebagai orang tua tidak boleh terlalu mengkritik atau melarang didalam hal yang positif. karena dapat membuat anak tersebut tidak termotifasi dan tidak kreatif. kita dapat mengarahkan anak untuk senang membaca dan menyukai masuk sekolah. apabila kita menyiapkan dan mengarahkan tanpa memaksa anak untuk belajar menghitung atau membaca anak akan termotifasi untuk bertanya akan keingintahuan dan anak tidak merasa terpaksa untuk mempelajari sesuatu. tanpa pengarahan juga membuat anak hanya bermain sampai usia 7 tahun ada efeknya anak tersebut tidak dapat duduk diam konsentrasi dan tidak tertarik terhadap sekolah dan merasa terbeban untuk belajar membaca, menulis dan menghitung. anak tersebut menjadi nakal dan motorik juga terlambat. pengertian didlm komunikasi juga terhambat. dan anak diusia satu sampai lima sangatlah berperan jangan dimanja denga materi atau kasih sayang yg berlebihan. anak diusia ini masa untuk memberikan kelembutan rasa nyaman, perhatian dan batas-batas dimana sebagai usia tersebut untuk belajar apakah diperbolehkan atau tidak, berbahaya atau tidak pada usia inilah sangat diperlukan dan banyak menjelaskan atau menerangkan karena anak dapat belajar tanpa dipukul atau dibentak. kemanjaan hanya membuat anak tidak hormat pada orang tua atau pada orang lain hanya membuat egois dan lemah. Sekian pengalaman saya sebagai ibu dg dua anak. Di eropa byk org tua yg tidak punya waktu untuk anak dan banyak anak yg dimanja dengan materi dan pada usia 1-5 tahun tanpa batas akibatnya banyak anak yang kurang ajar dan tidak hormat pada orang tua dan guru.
    dan banyak juga orang tua yang membirkan anak menonton TV dan Main Nitendo itu juga mempunyai efek sampingan tidak mempunyai perasaan/ rasa simpati. banyaknya kebrutalan pada usia remaja. menurut saya kunci untuk membuat anak lebih cerdas berilah perhatian dan kasih sayang lahir dan batin bukan dengan harta benda serta waktu untuk bersama-sama dan bukanlah orang tua yang berkuasa tetapi menjadi pantun untuk sianak.

  5. Satria Dharma says:

    Sayang sekali tidak dijelaskan alasan akademis mengapa anak TK tidak boleh diajari membaca di Switzerland. Saya juga bertanya-tanya bagaimana orang tua kok DILARANG mengajar anaknya yang masih TK (dibawah 7 tahun) untuk membaca. Mana mungkin ada peraturan yang membatasi seperti itu? Mungkin yang dimaksudkan adalah agar orang tua tidak memaksakan anaknya untuk membaca. It makes more sense.

  6. saya seorang mahasiswa tingkat akhir yang saat ini kebetulan sedang melakukan brbagai macam penelitian untuk tugas akhir yang kebetulan memiliki tema yang sama.
    saya sangat setuju sekali apa yang pa prof utarakan. apa yang beliau katakan semua tedapat di dalam beberapa buku psikologi perkembangan yang merupakan hasil pemikiran dari tokoh tokoh-tokoh besar psikologi perkembangan anak seperti plato, piagiet, jhon amus commenius dan masih angat banyak tokoh tokoh terkenal lainya.
    jadi menurut saya anda sbaiknya mencoba membaca beberapa buku psikologi sbagai refeensi shingga unek-unek selama ini bisa terjawab.

    -terima kasih-

  7. Sari says:

    Sebetulnya di Indonesia ini semua serba dilematis, disatu sisi tidak boleh, tapi disisi lain SD menuntut lulusan TK harus bisa membaca. Kebetulan saya mengajar di sebuah TK, dan itu terjadi di TK saya. banyak orang tua bingung Kebetulan TK saya tidak menekankan siswanya utk bisa membaca, tetapi ada yg perlu digaris bawahi bahwa TK saya memberi rangsangan kepada semua anak tentang huruf dan suku kata-suku kata, label atau logo dan hurufnya. kemudian memberitahukan mereka apa sich manfaat membaca, ketika anak sudah terstimulus, otaknya mulai terbuka sehingga dapat mudah menerima pemahaman akan perbedaan bunyi. Jadi mengapa di LN dilarang diajarkan membaca, karena membaca berkaitan dengan pemahaman logika, dan ini baru dimiliki oleh anak usia 6 s/d 12 thn. Tapi kita boleh memberi rangsangan dengan melalui tahapan2 sehingga anak tidak “belajar” tapi “bermain” tanpa sadar mereka akan paham perbedaan bunyi tersebut, yg merupakan gerbang awal utk membaca. Lebih bagus lagi kalau anak mulai diajarkan membaca iqro, karena disitu juga diajarkan perbedaan bunyi. Berdasarkan pengalaman, jika anak pemahamn iqronya bagus, maka membaca akan mudah dilakukan. Alhamdulillah di TK saya semua naka yg masuk jenjang TK B tanpoa sadar mereka sudah bisa membaca. Jadi kesimpulan saya kita sebagai ortu harus banyak memberi rangsangan tanpa anak merasa terbebani sampai mereka menyenangi dan paham bahwa membaca itu menyenangkan. selamat mencoba

  8. Mas Djo says:

    Assalaamu’alaikum
    Sebenanya sih sejak umu 1,5 tahun anak sudah bisa diajar membaca. Anakku umur 1tahun 10 bulan sudah tahu mana gambar kelinci, pepaya, nanas, sapi dll. Artinya anak sudah bisa membaca lambang. Huruf kan juga sebuah lambang to.
    Kami sedang mengembangkan metode pengajaran membaca (huruf latin) yang cocok untuk anak usia dini. Sebenarnya sih sudah diterapkan di paud dan tk temen, tetapi disini ada perubahan-perubahan.
    Intinya pengenalan bukan huruf per huruf, tetapi suku kata
    Salah satu contoh : a da ma ta
    namun di awal kita jangan langsung memaksa anak membaca kata. Tunjukkan dengan kartu atau board a, da, ma, ta. Di bolak-balik urutannya. Sehari cukup 5 sampai 10 menit (klasikal). Selanjutnya dikenalkan melalui permainan-permainan terintegrasi dengan kegiatan pengajaran di tk. Contoh, melompat. Buat 5 kotak di lantai dan ditulis suku kata a, da, ma, ta. anak duduk di kotak tengah, kemudian diberi aba-aba “lompat ke da, a dst.
    Dari pengalaman kami dan dalam waktu 3 bulan anak sudah bisa diberi bacaan (sesuai suku kata yang sudah dikenalkan). Ingat 3 bulan pertama tidak kita kenalkan ke buku, hanya lewat permainan-permainan.
    Alham dulillah buku panduan sudah hampir selesai disusun. Insya Allah akan kita cetak dan dipublikasikan supaya bermanfaat bagi orang banya

    Wassalaamu’alaium ww.
    Mas Djo

  9. Mas Djo says:

    email ku ingin tahu lebih banyak : kirim ke agrodjo@yahoo.com

  10. Lidya says:

    Anak balita (dibawah 7 tahun) belum boleh dipaksa belajar calistung karena pd usia tsb, anak2 masih masanya untuk bermain. Karna itu, terapkan saja metode belajar sambil bermain sehingga belajar menjadi hal yg menyenangkan & tdk membosankan. Biarpun belum usianya belajar calistung, tp kalau kita selipkan unsur2 belajar calistung saat bermain..berarti secara tidak langsung si anak sdh mengenal calistung. Kesiapan anak utk menerima materi bukan ditentukan oleh faktor usia semata. Tapi kejelian org tua mendeteksi potensi & kondisi anak sehingga pendidikan bisa diberikan secara tepat & optimal.

  11. sri wahyuni says:

    Saya seorang dosen bahasa Indonesia di Universitas Islam Malang yang saat ini sedang menempuh program doktor di Universitas Negeri Malang. Saya termasuk salah satu orang yang sangat menyenangi dunia baca. Oleh karena itu, sejak dini anak-anak saya sudah berikan keterampilan membaca. Kalau menurut saya masalahnya bukan ‘apakah anak TK boleh diajarkan membaca’ tetapi yang terpenting adalah “bagaimanakah cara yang tepat mengajarkan anak membaca”. Anak saya pertama dapat membaca pada usia 4 tahun, anak saya kedua dapat membaca pada usia 4,5 tahun,dan anak saya ketiga dapat membaca pada usia 3 tahun. Saya membelajarkan mereka sesuai dengan KEMAMPUAN dan KEMAUAN mereka. Saya kira kemampuan membaca dapat dilatihkan pada anak sejak dini, bahkan sebelum mereka memasuki TK. Menurut penelitian Glenn (1998), membaca sudah dapat diajarkan pada balita, bahkan lebih efektif daripada sudah memasuki usia sekolah. Ia menemukan fakta, bahwa anak umur 4 tahun lebih efektif daripada umur 5 tahun, dan umur 3 tahun lebih mudah daripada 4 tahun. Jadi, makin kecil (usia balita) makin mudah untuk diajar karena balita bisa menyerap informasi secara luar biasa. Saat ini saya sedang menyusun buku membaca untuk balita dan anak dengan menggunakan paduan metode suku kata dan metode lembaga kata. Dengan metode ini,anak akan cepat membaca dalam waktu singkat dan tanpa paksaan.Buku ini saya program 2 bulan lancar membaca. Semoga buku ini nanti berguna khususnya bagi guru atau orang tua yang menginginkan anak mampu membaca sejak dini untuk menyiapkan generasi literat handal di masa mendatang. Dan semoga dengan kemampuan yang dimiliki ini merupakan jalan yang akan mengantarkan mereka mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna.

  12. dhamayanti says:

    Menarik bahasan dari bpk SD ini,mungkin sekedar berbagi pengalaman kepada teman teman yang lain, saya kebetulan mendirikan semacam tempat belajar untuk anak2 yang kurang mampu untuk ke TK krn masalah biaya, dan alhamdulillah saya mempunyai 100 anak didik, mereka rata usia 3 sd 6 tahun, kmdian saya dan teman membagi klas berdasarkan usia, anak 3 tahun dengan anak 3 tahun , 4 dan 5 dengan seusianya pun untuk anak usia 6 thn yang akan masuk SD. Hasilnya anak yang usia 3,4 cenderung lebih cepat membaca dibanding usia 5 tahun keatas. Kami tidak menggunakan metode2 yang muluk2, kami hanya membrikan kondisi yang nyaman saja buat anak ketika jam membaca mulai, hasilnya ketika jam membaca mulai anak2 dengan sendirinya mengantri kadang sampai rebutan karena mereka ingin membaca tidak 1 halaman saja tapi lebih.Semoga pengalaman ini bisa berguna buat teman2 karna bagaimanapun mengkondisikan anak yang akan kelak hobby membaca pun, itu lebih baik di mulai sedini mungkin.

  13. satriadharma says:

    Mbak Dhamayanti, sebaiknya pengalaman Anda ini ditulis dan dijadikan buku agar bisa dipakai oleh guru-guru atau orang tua lain yang ingin melakukan hal yang sama. Catalah perkembangan dari setiap anak sehingga ada dokumentasinya. Kalau bisa ambil foto-foto sebagai ilustrasi nantinya.
    Saya yakin buku tersebut akan laris. :-)
    Salam
    Satria

  14. asih sofii says:

    yuk sharing2 di webku juga

  15. Warindra says:

    Salam kenal.. Meski saya telat nimbrung, tapi saya menganggap tema ini tdk pernah basi. Selalu ada update pendapat, teori, dan praksis. Mbak Damayanti, Mas Satriadharma, atau siapa pun boleh loh nulis pengalamannya. Saya mau dikirimi gagasan dasarnya dulu. Trus, kita diskusikan, nanti setelahnya baru ditulis. Tidak usah jadi buku tebal. Cukup 15.000 kata. Ini bakal jadi buku ringan untuk dibaca ortu sibuk sekalipun. Oh ya, saya editor buku keluarga dari sebuah penerbit di Yogyakarta. Kontak saya: keluarga-red@kanisiusmedia.com

  16. andre says:

    menurut saya anak TK nda’ pa2 di ajar membaca karena membaca dapat menambah pengetahuan anak dari tidak tahu menjadi tahu dan ada baiknya bila pengajaran tersebut dilakukan sejak dini.

  17. herman says:

    Saya seorang ayah,saat ini anak saya dikelas TK A,sampai saat ini anak saya masih sulit untuk bisa mengenal huruf dan angka secara lancar.Saya tertarik tentang buku yang ibu utarakan,dimana saya bisa memperolehnya

  18. aisyh says:

    kbtln saya juga slh satu pengajar di sbuah lmbga pendidikan kursus 3M (membaca, menulis, mtk) usia 3 – 6 thn yg berbasis teknologi. sbnrnya anak2 usia pra tk sampai tk boleh di ajarkan untuk membaca, kembali kpda fungsi dari seorang guru dan orangtua tidak memaksakan anak untuk bisa membaca krn setiap anak memiliki daya ingat yg berbeda, ada yg cpt menangkap ada yg lambat artinya buatlah seenjoy mngkn untuk mengajarkan membaca kpda anak shnga anak merasa apa yg diberikan ortu dan guru adalah bkn sebuah beban yg besar buat dirinya, justru di sini anak bisa lebih mengembangkan daya pikirnya dan beranggpn apa yg diberikan ortu dan guru adalh hal yg menyenangkan buat dirinya, bisa dgn berbagai cara yaitu permainan, nyanyian, visualisasi, dongeng dan yg lainny

  19. deby says:

    Anak saya umur 5 thn Tk B,termasuk anak yang teramat aktif dan tidak betah duduk di tempat, sedangkan di tk pelajaran nya begitu banyak dari jam 07.15 s/d 12.00.jadi anak saya sering bolos pada jam pelajaran malah main sepeda, saya keluarkan anak saya dari tk karna tidak ada kemajuan dan saya masukkan di kursus seminggu 4 kali,yang hanya ada 3 materi membaca menulis,berhitung dan bhs inggris dalam bentuk nyanyian,ada kemajuan sudah pintar menulis huruf2 dgn baik tanpa bantuan namun membaca dalam penyambungan kata belum bisa, yg saya mau tanyakan apakah saya salah mengeluarkan anak saya dari tk,dan bagaimana cara mengajarkan anak supaya dia dapat membaca ejaan nya karna anak saya sangat aktif.
    Anak saya betah berjam2 kalo kutak atik komputer dan hafal program nya,apakah baik buat anak yg senang berlama2 di komputer.
    Mohon bantuan nya,trimakasih.

  20. deby says:

    Manakah sekolah yang cocok untuk anak aktif apakah home scholling atau SD, saya agak bingung karna umur 6 thn rencana akan masuk sekolah dasar, karna anak saya sudah kepingin sekolah dan anak saya senang bermain dan agak jail dengan teman2nya dalam bentuk bercanda, dan suka mengkritik guru nya.Mohon bantuan,trimakasih.

  21. rakasatya says:

    Definisi membaca dan menulis itu apa ?
    Jika membaca itu berarti mengucapkan abjad a-z dan rangkaiannya hurufnya dan menulis itu menuliskan ulang abjad a-z dan rangkaiannya maka saya setuju dengan pendapat Prof Suharyadi dari UI.

    Apa hebatnya sih anak TK bisa menulis dan membaca ? Menambah pengetahuan ? pengetahuan apa yang maksimal diserap anak usia pra sekolah ? Paling kan hanya ranah pemahaman dan pengertian ? bukan analisa kan !

    Karena TK bukan Sekolah (pra sekolah) maka yang perlu diciptakan adalah kebiasaan2 yang nantinya bermanfaat di Sekolah (SD), misal : tanggung jawab, toleransi, disiplin, kerjasama dll.

    Yang harus dikembangkan oleh anak pra sekolah adalah kemampuan bertanya dan berpendapat. bereksploarasi dan berkreasi. Anak TK harus “fun and enjoy” kalaupun ada menulis dan membaca itu hanya pengenalan bukan kewajiban apalagi tuntutan.

  22. AYU WAHYUNINGTYAS says:

    Saya mahasiswi PGTK UNESA. Sebagai calon guru TK saya lumayan binggung juga menentukan sikap dalam menghadapi masalah pengajaran membaca pada anak TK.Namun menurut saya mengajarkan membaca pada anak TK itu sah-sah saja TAPI jangan sampai pengajarannya membuat tekanan bagi anak.Jadikan APE sebagai fasilitator jadi anak tetap bisa Belajar sambil bermain,Bermain seraya Belajar……………

  23. fiedra says:

    saya sangat setuju dengan pendapat prof UI yang mengatakan bhw anak ketika usia matang memasuki SD dan diajarkan baca tulis sesuai dengan beberapa penelitian para ahli. namun tidak dapat dipungkiri bhw anak yang memiliki tingkat responsivitas tinggi terhadap stimulus yang diberikan oleh guru atau orang tua akan membuat anak lebih dini untuk belajar membaca dan menulis. trend orang tua yang bangga ketika lebih dini anak bisa membaca dan menulis yang seperti itulah yang harus pelan-pelan diubah jika stimulus terhadap anak juga kurang. mereka pada umumnya membebankan tugas belajar anak kepada guru, padahal kita tahu bahwa anak berada di sekolah (TK) hanya 2 jam dan kebanyakan di rumah. beberapa penelitian membuktikan bahwa anak yang hidup di lingkungan atau suasana yang kaya dengan benda-benda cetak akan membuat anak terkondisikan tertarik dengan literasi (baca-tulis-pikir)
    “Buah kelapa jauh tidak jauh dari pohonnya”.Kalo orang tua senang membaca dan dilengkapi dengan fasilitas dan stimulus buat anak, WHY NOT?

  24. kaffah says:

    assalamu alaikum.
    menanggapi masalah anak Tk boleh atau tidak di ajari membaca memang sangat dilematis. karena banyak sekolah Tk di Indonesia sistem pengajaran mengajarkan membaca, menulis dan berhitung (CALISTUNG). kalau menurut hemat saya seorang anak haruslah enjoy dengan keadaannya maksudnya sesuai dengan tingkatan berpikir, bertindak dengan taraf sesuai dengan perkembangan pribadi anak. semua ada tahapannya. memang sebahagian pakar pendidikan menganjurkan agar anak usia TK belum saatnya di ajari calistung. adapun mengajarkan Aspek pembelaqjaran lainnya, seperti yang dituliskan geografi, sejarah, biologi dll. hanya sebatas introduction saja. dalam artian pengembangan konsep dasar saja. seperti mengajarkan kerbau misalnya. “ini kerbau, kerbau punya 4 kaki, 2 telinga juaga ada tandukna”. dst.Dan yang harus dingat usia mereka dalam bermain. bermain sambil belajar. jadi menurut saya lalui dengan tahapan. Beberap tahun lalu saya sempat bertanya akan hal itu dari beberapa tokoh diantaranya seorang teman Okupasi Terapis yang menangani anak- anak autis menurutnya bisa saja anak diajari membaca asalkan bukan otaknya yang dijejali maksudnya cukup dikenalkan aja. dan anaknya sudah bisa membaca dengan lancar pada usia 3,5 tahun. tokoh yang lain seorang kandidat doktor pendidikan mngatakan hampir sama dengan prof. suharyadi. dengan alasan riset yang mengatakan bahwa anak usia Tk yang diajari calistung. banyak mengalami gagal belajar pada saat dikelas 3 -5 SD. justru anak yang berkembang secara alami indeks prestasi belajarnya meningkat. memang kalau kita melihat dibeberapa Tk di Indonesia apalagi yang Mengarah kepada Sekolah bertaraf Internasional target pembelajarannya tinggi tidak sesuailagi dengan usia mereka, sehingga ynag terjadi “pemaksaan belajar” padahal dibanyak negara. pembelajaran usia Tk lebih berfokus pada pengembangan yang seimbang antara tiga ranah yang harus diterapkan seperti cognitive, affection & psychomotor. Ini yang harus dipersiapkan untuk anak-anak kita yang akan lanjut ke SD nantinya. Yang terpenting adalah motivasi kepada anak dan mengedepankan sistem belajar yang joyfull, smart & creative.

Leave a Reply