Pendidikan dasar gratis adalah amanat UUD 1945 hasil Amandemen yang tercantum pada Pasal 31 Ayat (2) yang berbunyi : Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Untuk menegaskan amanat tersebut maka dalam UU Sisdiknas Pasal 34 Ayat (2) dinyatakan lagi bahwa :”Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.” Jadi apalagi yang hendak diperdebatkan? Jelas bahwa sesuai dengan amanat UUD 1945 hasil amandemen dan UU Sisdiknas 2003, pemerintah memang sudah seharusnya menanggung biaya pendidikan dasar bagi semua warga negara tanpa membedakan antara si kaya dan si miskin. Karena itu, penyediaan sekolah gratis bagi semua warga negara jauh lebih mendasar ketimbang pemberian subsidi silang kepada siswa dari kalangan miskin.
Tapi fakta menunjukkan lain. Tidak banyak pemerintah kota dan kabupaten yang berusaha untuk memenuhi amanat Undang-undang tersebut dan bahkan memberikan tafsiran sendiri mengenai adil, perlu, dan menguntungkan atau tidaknya pendidikan dasar gratis tersebut.
Apakah pendidikan dasar gratis itu mustahil dilaksanakan dari segi finansial, tidak adil bagi si miskin, menurunkan mutu, sekedar mimpi, dll? Tentu saja tidak. Fakta menunjukkan bahwa semua negara maju menggratiskan pendidikannya sampai pada perguruan tinggi. Bahkan di Jerman orang asingpun boleh menikmati sekolah gratis tersebut sampai perguruan tinggi. Itu sebabnya banyak orang kita yang pergi ke Jerman untuk memperoleh pendidikan tinggi gratis dan berkualitas tinggi.
Assalamu alaikum wr. Wb.
Saudara-saudaraku,
Menurut pendapat saya pendapat yang menyatakan bahwa mengucapkan selamat natal kepada umat nasrani adalah merusak akidah adalah hanya mitos. Mitos adalah sesuatu yang dipercaya sebagai sesuatu yang benar tanpa adanya bukti-bukti dan fakta-fakta. Mitos itu lebih berdasarkan asumsi yang dipercayai tanpa diteliti dengan sebaik-baiknya lebih dahulu yang kemudian dibesar-besarkan sehingga menjadi pendapat umum. Begitu juga pendapat ucapan selamat natal dalam mainstream Islam. Bagaimana untuk membuktikan bahwa ini cuma mitos? Mudah saja. Coba cari bukti tentang adanya orang yang rusak akidahnya karena mengucapkan selamat natal kepada umat nasrani. Cari satu saja sebagai bukti dan setelah itu baru kita bisa katakan bahwa ternyata terbukti ada orang yang rusak akidahnya karena mengucapkan selamat natal kepada temannya yang nasrani.
Tentu saja kita tidak akan dapat menemukan satupun karena kita tidak punya alat ukur dan kewenangan untuk menentukan apakah seseorang rusak akidahnya atau tidak karena sebuah ucapan selamat. Tidak di jaman Rasulullah tidak pula di jaman sekarang. Saya telah mengucapkan selamat natal selama bertahun-tahun kepada teman-teman Nasrani saya dan saya samasekali tidak pernah merasakan adanya kerusakan pada akidah saya. Lagipula emangnya ada ‘alat ukur kerusakan akidah’?
Keceriaan ada dimana-mana. Anda tinggal memungutnya… kapan saja Anda mau. Keceriaan ada pada semburat cahaya matahari ketika kita bangun dan membuka jendela dan pintu rumah dengan perasaan segar di pagi hari.
Keceriaan ada pada anak-anak kita yang masih meringkuk di kamar tidur masing-masing ketika kita membangunkannya agar bersiap untuk mempersiapkan diri ke sekolah setiap pagi.
Keceriaan ada pada hangat dan harumnya aroma segelas kopi dan setangkup roti berlapis krim ‘peanut and chocolate’ yang disodorkan istri kita untuk memulai aktifitas kita pagi itu. Keceriaan ada pada bunga-bunga berbagai warna yang mekar di muka rumah yang seolah hendak berkata,:”Hey! Look at me. I’m beautiful today, right?”.
Apakah Anda pernah mengalami ‘Epifani’? Kalau Anda tidak tahu apa itu ‘epifani’ tidak mengapa. Saya sendiri juga baru mengetahuinya setelah membaca buku “Authentic Happiness”nya Martin E.P. Seligman yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Istilah itu disampaikan oleh Jalaluddin “Kang Jalal” Rakhmat dalam kata pengantarnya.
Epifani adalah ”peristiwa istimewa dalam kehidupan seseorang yang menjadi titik balik dalam kehidupannya. Pengaruhnya berbeda-beda, bisa negatif atau positif, bergantung pada apakah epifaninya besar atau kecil” (Denzin, 1989). Kang Jalal menjelaskannya dengan berbagai contoh dimana ia mengalami ’epifani’ sehingga mendorongnya menulis buku-bukunya yang populer seperti ”Psikologi Komunikasi”, ”Psikologi Agama” dan ”Meraih Kebahagiaan” tersebut.
Ketika membaca ini saya lantas bertanya dalam hati saya apakah saya pernah mengalami ’epifani’ yang dapat mendorong saya untuk menghasilkan karya sesuatu, seperti Kang Jalal, umpamanya? Saya tertawa kecut ketika menyadari bahwa selama hidup ternyata saya belum menghasilkan karya apa pun yang bisa saya sebut sebagai suatu ’monumen’ dalam hidup saya. Berarti saya tidak pernah mengalami ’epifani’ dong? Tanya saya dalam hati. Tapi tak mungkin saya tidak pernah mengalami ’epifani’. Saya berfikir….
Dan saya tiba-tiba ingat sebuah peristiwa yang membuat saya berubah dan menjadi titik balik dalam kehidupan saya. Yes! Saya juga pernah mengalami ’epifani’!
Saya kaget ketika membaca judul posting Kang Muzi dari Dian Ilma (http://www.cakrawala-ilma.com/) dengan judul “Ternyata Pak Tjandra tidak istimewa”. Ia tentu menunjuk ke Pak Tjandra Heruawan seorang guru Fisika SMAN 10 Malang yang mampu membuat puluhan alat peraga Fisika dari barang bekas yang telah dibukukan dan divideokan oleh Yayasan Medco dan kini dibagikan secara gratis tersebut. Ia juga tampil dalam acara Kick Andy di Metro TV tadi malam dan membuat orang kagum dengan hasil karyanya. Tidak mungkin Pak Tjandra tidak istimewa, kata saya memprotes dalam hati. Tapi setelah membaca postingnya saya lalu tertawa ngakak. Kang muzi memang bilang bahwa “Ternyata Pak Tjandra tidak istimewa” tapi setelah itu disambung dengan kalimat “Tapi Amat Sangat Istimewa!.” Ya. Pak Tjandra memang sangat istimewa.
Konferensi Guru Indonesia (KGI) 2007 yang diselenggarakan di Balai Kartini Jl Gatot Subroto Jakarta selama dua hari berturut-turut pada tanggal 27 dan 28 November kemarin brakhir dengan sangat baik. Ini adalah KGI kedua yang diselenggarakan oleh kerjasama Sampoerna Foundation dan Provisi Education dengan jumlah peserta tidak kurang dari 1000 orang dari hampir seluruh pelosok tanah air. Konferensi tahun ini jelas jauh lebih baik, lebih terorganisir, lebih megah, dan lebih berbobot ketimbang KGI pertama yang diselenggarakan pada tahun lalu di arena Jakarta Fair. Pada tahun lalu terjadi kekacauan karena banyaknya peserta yang mendaftar pada saat penyelenggaraan sehingga membuat panitia terkaget-kaget dan sulit untuk menolak karena mereka berdatangan dari daerah-daerah yang jauh dan untuk menolak mereka sungguh tidak tega rasanya. Akibatnya peserta memang melebihi kapasitas ruangan dan banyak peserta yang terpaksa berdiri pada acara pembukaan yang dibuka sendiri oleh Mendiknas pada saat itu. Seperti tahun lalu, peserta kali ini juga berdatangan dari semua penjuru mulai dari Aceh sampai Papua. Ada yang datang sendirian dan dengan biaya sendiri dan ada yang datang berombongan mengenakan seragam PGRI.
Pernah dengar istilah ‘Bandit Ekonomi’? ‘Bandit Ekonomi’ atau ‘Economic Hit Man’ adalah istilah bagi orang yang mempunyai tugas untuk membangkrutkan sebuah negara dengan memberinya hutang yang begitu besarnya sehingga tidak mungkin dapat dibayar oleh negara tersebut. Hutang yang dibuat-buat dengan dalih pembangunan dan pengurangan kemiskinan tapi sebenarnya bertujuan untuk membangkrutkan negara tersebut karena tidak mungkin akan mampu dibayar dengan proyek yang dibangun dengan dalih hutang tersebut. Setelah tidak mampu membayar barulah pemberi hutang menagihnya dalam bentuk penguasaan SDA negara korbannya.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, mereka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikulllah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.
(Al-Ahzab :72)
Ayat ini selalu membuat saya penasaran dan bertanya-tanya setiap kali membacanya. Saya sering bertanya dalam hati apa maksud Allah dengan ayatnya ini. Mengapa manusia yang bersedia menerima amanat – yang bahkan langit, bumi dan gunung pun takut untuk menerimanya – justru dikatakan sebagai mahluk yang zalim dan bodoh? Mengapa Allah tidak justru memberi ‘penghargaan’ kepada orang-orang yang bersedia untuk menerima amanat, yang bahkan mahluknya yang lain takut dan menolak untuk menerimanya? Bukankah setiap dari kita itu ditunjuk untuk menjadi khalifah, menjadi pemimpin, yang artinya mendapat amanat untuk memimpin dan mengelola alam ini? Lantas mengapa manusia yang bersedia menerima amanat lantas disebut zalim dan bodoh? Syukur-syukur kita sebagai manusia sudah bersedia menerimanya! Demikian pikir saya yang naif ini.
Itu adalah salah satu ayat Al-Qur’an (dari banyak sekali ayat) yang tidak saya pahami maknanya. Ayat-ayat yang tidak saya pahami maknanya dan menimbulkan pertanyaan saya beri tanda tanya di AlQur’an saya dan berharap suatu saat saya akan memahaminya. Sampai suatu ketika saya membaca koran dan membaca berita di koran.
Seorang anak dibangunkan oleh ibunya agar ia bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dengan mata masih setengah tertutup dan sikap ogah-ogahan ia berkata, :”Aku masih mengantuk, Ma.”
Si ibu menjawab dengan sabar, :”Tapi kamu kan harus sekolah, Nak. Ayo bangunlah!”
Si anak tidak beranjak dari tempat tidurnya yang nyaman. Ia malah menjawab, :”Untuk apa sih aku harus sekolah, Ma?” Si ibu mengelus-elus rambut anaknya. Ia nampak begitu ganteng dengan rambut hitamnya yang mengkilat itu. “Apakah kamu tidak ingin bertemu dengan kawan-kawanmu di sekolah?. Mereka tentu akan mencarimu kalau kamu tidak masuk hari ini Mereka tentu akan kehilangan seorang teman bermain yang mereka sayangi.” Si anak sesaat tergerak untuk bangun. Ia membuka matanya sebentar, dan kemudian kembali memejamkan mata. “Untuk hari ini aku mungkin tidak ingin bertemu dengan mereka, Ma. Besok aja aku temui mereka.” Si ibu mengernyitkan keningnya. Tapi ia tetap berusaha untuk membujuk anaknya. “Tapi kamu harus tetap sekolah, Nak! Kamu harus belajar kan.”
Si anak menggeliat dan membuka matanya. Nampaknya percakapan tersebut membuatnya kehilangan kantuk. “Tapi… kenapa aku harus belajar, Ma? Lagipula kenapa aku harus ke sekolah untuk belajar? Kenapa aku tidak belajar di rumah saja?”
Si ibu tidak menjawab. Ia kini menghadapi dua pertanyaan anaknya :
1. mengapa ia harus belajar dan
2. mengapa harus belajar di sekolah.
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia menanti bantuan jawaban dari para anggota milis…
Salam
Satria
Berikut ini tanggapan dan komentar dari anggota berbagai milis yang saya peroleh :
Pernahkah Anda mengenal seseorang yang sangat kaya, sangat dermawan, dan sangat sederhana sekaligus?
Saya mengenal seorang konglomerat yang sangat dermawan dan mungkin merupakan philantrophist terbesar di Indonesia (tapi tentu saja ia tidak mengenal saya). Ia baru saja menyerahkan dana pribadinya sebesar
US $150 juta untuk dimasukkan dalam yayasan pendidikan yang didirikannya untuk membantu peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Jika dimasukkan ke deposito dana tersebut akan menghasilkan bunga minimal 10 M setiap bulannya. Ia sangat kaya dan sangat dermawan. Tapi sederhana? Ia tidak masuk dalam kategori ini. Ia hidup sebagaimana layaknya seorang konglomerat. Rolls Royce warna maroonnya sangat mencerminkan gaya hidupnya. Jika Anda mencari orang dengan tiga kategori tersebut: kaya, dermawan, dan hidup sangat sederhana- maka ada dua orang yang bisa Anda contoh : Warren Buffet dan Chuck Feeney.









Recent Comments