SAKSI JEHOVAH DI RUANG TAMU SAYA

Dear all.
Ini tulisan saya setahun yang lalu. You might want to enjoy it.
Salam
Satria

SAKSI JEHOVAH DI RUANG TAMU SAYA

Hari ini saya dapat dua orang tamu istimewa. Istimewa karena mereka adalah misionaris dan lebih istimewa lagi karena mereka masih begitu muda. Salah satunya bernama Kolin masih remaja, atau baru beranjak dewasa dan satunya, yang bernama Andre, bahkan baru berusia 12 tahun.
Baru berusia 12 tahun dan dia sudah dilatih untuk menjadi seorang ‘da;i’! Bukti bahwa kaderisasi da’i di agama Nasrani memang tidak main-main. Mereka berdua adalah ‘witness’, sebutan bagi misionaris dari Saksi Jehovah. Bagi Anda yang awam, Saksi Jehovah adalah pecahan atau aliran dalam agama Nasrani yang berbeda dengan Protestan, Katolik,Advent, Mormon, dan aliran lainnya. Saksi Jehovah sangatlah gigih dalam mewartakan kebenaran ajaran mereka bahkan pada sesama Nasrani. Mereka
telah melatih kader-kader mereka sejak begitu kecil untuk menjadi ‘witnes’, alias ‘saksi’ kebenaran ajaran mereka. Andre yang baru berusia 12 tahun pun telah diminta untuk mencari pengalaman langsung di lapangan. Dan pagi itu mereka datang ke rumah saya.

Dengan sopan mereka membuka pembicaraan dengan mengatakan bahwa mereka bukan ‘sales’ yang hendak menawarkan barang. Dengan mudah saya menebak bahwa mereka tentulah ‘misionaris’ Nasrani, meskipun belum tahu dari aliran apa. Mereka punya ciri khas, penampilannya sopan, kata-katanya halus dan pakaiannya rapi dan bersetrika licin. Saya bahkan bisa mengetahuinya sejak mereka masuk. Itu sudah menjadi ‘brand image’ mereka (bandingkan dengan ‘brand image’ yang melekat pada ‘misionaris’ Islam).
Ketika saya persilakan untuk masuk dan duduk mereka langsung menyodorkan buletin tipis “Sedarlah” dan berkata bahwa mereka ingin berbagai informasi tentang masalah-masalah umum. Saya langsung tahu bahwa mereka dari Saksi Jehovah. Majalah “Sedarlah” adalah versi bahasa Indonesia dari buletin “Awake” terbitan Brooklyn, Newyork dan telah terbit bahkan sebelum saya lahir. Saya tidak tahu sejak kapan buletin tersebut dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia.
Bertemu dengan misionaris yang datang ke rumah sebenarnya suatu kesenangan bagi saya karena saya menikmati berdiskusi dengan mereka. Ahmed Deedat almarhum (semoga Allah merahmatinya) telah mengajarkan bagaimana menghadapi mereka. Sayang sekali saya jarang mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Jadi ini suatu kesempatan yang istimewa bagi saya.
Setelah menerimanya saya langsung bertanya pada mereka apakah mereka tahu bahwa buletin yang mereka tawarkan tersebut aslinya bernama “Awake”? Mereka ternyata tahu karena memang ada penjelasannya di buletin tersebut. Saya kemudian menyampaikan bahwa saya pernah membaca
artikel di buletin “Awake” terbitan tahun 1957. Mereka tentu heran.
Mereka kemudian menjelaskan bahwa buletin “Awake” itu terbitan New York yang saya jawab ‘Ya, di daerah Broolyn.” Mereka menjadi lebih heran.

Saya kemudian masuk ke kamar dan mengambil buku berjudul “The Choice” yang merupakan kumpulan tulisan Ahmed Deedat dan menunjukkan kopi artikel “Awake” pada tanggal 8 September 1957. Judul artikel tersebutadalah “50.000 Errors in Bible” Saya kemudian menjelaskan bahwa pada artikel “Awake” tersebut Saksi Jehovah menyatakan bahwa ada 50.000 kesalahan dalam Alkitab mereka sehingga perlu direvisi. Revisi itu dilakukan pada tahun 1971 oleh lima puluhan sarjana dan ahli AlKitab paling top pada masa itu sehingga muncullah Revised Standard Version 1971 yang merupakan revisi dari RSV 1952. Tapi untuk versi Indonesianya baru diterjemahkan pada tahun 1974
menjadi ALKITAB yang diterima dan diakui oleh Konperensi Waligereja Indonesia. Saya memiliki sebuah AlKitab hadiah dari seorang teman.

Mereka memeriksa Alkitab mereka dan membenarkan.
Kami kemudian ngobrol dan saya lebih banyak mendengar. Saya ingin tahu apa sebenarnya yang hendak disampaikan. Seperti yang saya duga, mereka sangat halus dan tidak main tembak langsung. Mereka hanya ingin menyampaikan buletin dan brosur, hanya itu. Mereka tidak menjawab pertanyaan-pertanya an saya yang bakal menimbulkan adu argumentasi.
Mereka bahkan tidak tertarik ketika saya tunjukkan beberapa kaset video dan buku tentang diskusi antara Islam dan Saksi Jehovah. Nampaknya mereka sudah dilatih untuk tidak meladeni diskusi ataupun pembicaraan yang lebih jauh mengenai kepercayaan mereka.
Tapi mereka akhirnya bercerita banyak tentang kepercayaan mereka dan bedanya dengan aliran lain seperti Protestan dan Katolik. Mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, melainkan hanya Nabi, yang artinya sama dengan Islam. Mereka juga tidak minum minuman keras dan makan daging babi, yang sekali lagi sama dengan kepercayaan dalam Islam.
Mereka juga menganggap bahwa 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus dan Natal sebenarnya pada bulan Oktober. Mereka bahkan dengan lancar menjelaskan sejarah tentang terjadinya kekeliruan penetapan Natal tersebut yang merujuk ke tradisi pagan kerajaan Romawi yang menyembah dewa matahari pada waktu itu.
Si Andre yang masih anak-anak tersebut lantas bercerita tentang beberapa anekdot tentang perlawanan dan tentangan terhadap apa yang mereka lakukan tapi kemudian menjadi berbalik menjadi simpati karena mereka mampu meyakinkan orang-orang tersebut. Seorang anak berumur 12
tahun bercerita pada saya tentang nilai-nilai yang diyakini dan perjuangannya! Amazing! Sementara itu anak saya yang berusia sama dengannya sedang bertengkar dengan adiknya karena berebut main game di komputer.

Tidak ada yang baru bagi saya dari apa yang mereka sampaikan dan bagikan karena saya memang pernah membaca tentang kepercayaan mereka.
Tapi saya dengan gembira mendengarkan mereka karena beberapa hal.
Pertama, pagi itu saya kebetulan tidak sibuk dan jarang ada misionaris datang kerumah saya. Kedua, saya salut dan hormat pada mereka yang mampu membuat dua remaja ini bersedia untuk berkeliling menyampaikan ‘dakwah’ mereka. Ketiga, saya juga kagum pada kehalusan dan kesopanan mereka dalam menyampaikan ‘dakwah’ mereka. ‘Da’i’ canggih seperti initentunya tidak mudah dan butuh pelatihan yang hebat untuk mencetaknya.
Militansi seperti ini membuat saya iri. Seandainya saja kita bisa mencetak kader-kader “Saksi Islam” yang bukan hanya berdedikasi tinggi tapi juga memiliki kehalusan, kesopanan, dan kecanggihan dalam menyampaikan pesan dan berdiskusi semacam ini pada usia yang begitu muda. Kita punya ‘produk’ yang jauh lebih baik ( dan kita anggap sempurna) dan universal tapi ‘marketer’ dan ‘human relation staff’ yang payah. Mereka, para ‘marketer’ Islam tersebut kalau boleh disebut begitu, bukannya menjelaskan ‘produk’ mereka, tapi justru meminta-minta sumbangan ‘in the name of Islam’. Jadi sebenarnya kita tidak punya ‘marketer’ seperti mereka yang ‘memasarkan’ ke luar. Da’i kita sibuk
meladeni ‘orang dalam’ dan tidak ada yang bertugas untuk ‘memasarkannya’ ke luar seperti yang dilakukan oleh para misionaris.
Padahal sebenarnya ‘Balighu anni walau ayah’, Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat’ demikian anjuran Rasulullah. Kita terlalu yakin dengan kehebatan ‘produk’ kita sehingga merasa tidak perlu untuk ‘memasarkannya’ . The product speaks for itself, alasan kita.

Apakah kita tidak bisa mencetak kader yang militan? Tentu saja bisa. Islam terkenal dengan militansi kadernya. Sayang sekali bahwa militansi tersebut belum diikuti dengan kecanggihan dalam menjelaskan produk. Sebaliknya justru banyak sekali umat Islam yang mendatangi rumah-rumah
orang Nasrani, bukannya untuk menjelaskan tentang kebenaran Islam tapi justru untuk minta sumbangan! Sebuah ironi. Bisa dibayangkan ‘brand image’ yang muncul dari ‘campaign’ macam begitu.
Saya juga lantas teringat betapa kita menghancurkan sesama Islam karena perbedaan keyakinan seperti yang terjadi pada orang-orang Ahmadiyah. Benarkah Islam mengajarkan hal ini? Bukankah Rasul sendiri pernah menyatakan bahwa Islam akan terpecah menjadi 73 bagian dan hanya 1
bagian yang benar, yaitu yang menegakkan AlQur’an dan hadist. Hanya itu. Tidak ada anjuran ataupun perintah Rasul agar mereka yang merasa sebagai bagian yang benar itu menghantam, menghakimi dan menghabisi 72 golongan lainnya yang salah dan tersesat.
Kepada umat beragama lain kita tidak kurang kerasnya. Semakin hari semakin banyak kita dengar keluhan dari umat lain yang kesulitan untuk mendirikan rumah ibadah maupun yang gerejanya dibongkar karena tidak ada ijinnya. Sebagian dari kita merasa bahwa menghalang-halangi umat
lain untuk beribadah sesuai dengan agamanya adalah suatu kebajikan.
Toleransi seolah bukan ruh atau spirit Islam.

Ironi yang paling menyesakkan dada adalah digunakannya nama Islam oleh para teroris untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Bagaimana mungkin kita bisa bilang pada umat lain bahwa Islam adalah agama yang membawa kebenaran dan keselamatan jika ternyata ada umatnya yang justru melakukan terorisme dan pembunuhan massal pada orang-orang yang tidak bersalah dan menganggapnya sebagai ‘ajaran suci’ agama Islam dan merasa berhak untuk masuk surga dan bertemu dengan para bidadari! Ini bukan hanya ‘bad campaign’ tapi sudah masuk dalam kategori pengkhianatan perjuangan Islam dan pelakunya patut dipancung kepalanya. Bayangkan seandainya pada jaman Rasulullah ada oknum yang mengaku beragama Islam dan membunuhi anak-anak, perempuan, dan orang tua di rumah-rumah mereka bukan pada saat perang dan dengan bangganya mengatakan,”Ya Rasulullah, lihatlah pedangku yang berlumuran darah ini.Saya telah membunuhi mereka yang bukan Islam pada saat mereka lengah di rumah-rumah mereka. Kuhabisi mereka dengan cepat bahkan tanpa mereka sadari. Saya merasa layak untuk masuk ke surga dan patut mendapat pelayanan beberapa bidadari untuk ganjaran perbuatan saya tersebut.” Saya bisa bayangkan betapa marahnya Rasulullah pada oknum yang mencemarkan ajaran Islam seperti ini. Hukum qisas pasti akan dijatuhkan padanya.

Seandainya kita bisa belajar dari ini semua.

Balikpapan, 4 Desember 2005
Satria Dharma

Related posts:

  1. SSR DI RUANG MAKAN SAYA (PART II)
  2. “SUSTAINED SILENT READING” DI RUANG MAKAN SAYA
 

11 Responses to “SAKSI JEHOVAH DI RUANG TAMU SAYA”

  1. Gene Netto says:

    Berkaitan dengan tulisan ini:
    Saya juga lantas teringat betapa kita menghancurkan sesama Islam karena perbedaan keyakinan seperti yang terjadi pada orang-orang Ahmadiyah. Benarkah Islam mengajarkan hal ini? Bukankah Rasul sendiri pernah menyatakan bahwa Islam akan terpecah menjadi 73 bagian dan hanya 1 bagian yang benar, yaitu yang menegakkan AlQur’an dan hadist. Hanya itu. Tidak ada anjuran ataupun perintah Rasul agar mereka yang merasa sebagai bagian yang benar itu menghantam, menghakimi dan menghabisi 72 golongan lainnya yang salah dan tersesat.

    Barangkali hadith ini bermanfaat:
    Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Tolonglah saudaramu yang melakukan kezoliman dan yang dizolimi, seseorang berkata : wahai Rasulullah saya akan menolongnya jika dia seorang yang dizolimi, lalu bagaimana saya menolongnya jika dia melakukan kezoliman? Rasulullah bersabda: kamu menahannya, atau menghalanginya dari kezoliman, maka hal itu adalah cara untuk menolongnya.” (H.R. Bukhari).

    Bukan maksudnya bahwa orang yang keliru harus dibunuh, tetapi orang yang jelas2 keliru (seperti kaum yang menolak semua hadiths) sebaiknya diajak kembali ke golongan yang “satu”.

  2. Iyed says:

    Assalamu alaikum, saudaraku Bpk. Satria Darma

    saya mohon bantuannya. ditempat saya bekerja telah dibangun sebuah gereja. warga masyarakat sebernarnya tidak menyetujui atas pembangunan gereja tersebut karena warga mayoritas muslim, yang membuat kami umat muslim bingung adalah GKI pusat tidak mengakui, setelah kami berbicara dengan beberapa rekan kerja kami mengapa gereja sudah dibangun kok bermasalah (tidak diakui/ alasam mereka belum diakui)padahal gereja tersebut sudah diresmikan. tapi saya melihat ada yg lucu dan aneh diantaranya :
    1. Ini negara Indonesia kok meresmikan gereja ada orang Bule warga Inggris, apa pendeta mereka yang di Indonesia tidak mampu meresmikan gereja sehingga harus minta tolong pada bule( saya yakin mereka misionaris vatikan.

    2. Alasan mereka tidak diakui, karena yang memprakarsai dan pendanaan pembangunan gereja tersebut adalah aliran baru kristen di indonesia dan yang pertama di jawa barat serta belum diakui oleh GKI Pusat.

    pertanyaan saya apakah gereja ini gereja jehovah/jehoa.

    Untuk mereka yg suka membom, membunuh, mengkafirkan sesama muslim dan memusuhi agama lain :

    Rasulullah tidak pernah mengajarkan untuk menyiarkan Islam dengan pedang. mereka yang menyiarkan Islam dengan pedang adalah umat yang dulu selalu “memotong tali Unta Nabi”

    terima kasih pak

    wassalamu alaikum

  3. Tony Setyawan says:

    Saksi Yehuwa adalah cerminan dari murid Kristus yang benar! Org dunia dan agama lain mnurut saya kalah dgn mereka meskipun mereka ditentang abisan di Indonesia! Salut kepd Saksi Yehuwa!

  4. Saksi-Saksi Yehuwa Di Indonesia memang tidak diakui oleh GKI Pusat, karena memang Saksi Yehuwa Bukan Bagian dari Orang-orang Gereja..

    Saksi-saksi Yehuwa sudah di Akui Pemerintah sejak Jamannya Presiden Abdurahman Wahid. dan Saksi Yehuwa sangat Jauh berbeda dengan ajaran-ajaran Gereja, dan Saksi Yehuwa adalah Agama yang Paling Kristen dibanding Agama yang lain.

    Majalah Awake! sudah di Translate ke “Sedarlah” kalau nggak salah sekitar tahun 1980an

  5. [...] pengalaman Pak Satria Dharma di blognya ketika beliau didatangi tamu dari Saksi Jehovah, [ di sini ]. Pasca membaca postingan tersebut, dan tentu saja pasca membaca-baca berbagai postingan hebat Pak [...]

  6. Monica Darumurti says:

    Jujur saja, saya tidak begitu menikmati saat saya mengikuti acara kotbah saksi yehovah beberapa waktu yang lalu. Saya adalah orang Katolik, dan saya tidak merasa nyaman dengan perbedaan apa yang dikatakan oleh Yesus dan oleh para misionaris itu.

    Acaranya memang menyenangkan, namun saya tidak ingin lagi mengikuti kotbah itu…

  7. ngana makang jo says:

    Perkenalkan, saya bekas anggota aliran saksi jehovah sudah 8 tahun ini saya memilih mengasingkan diri dengan rutinitas yang biasa saya lakukan karena saya tidak menemukan kebahagiaan dan arti hidup di organisasi ini.

    Mungkin indah dipandangan Bapak Satria Dharma, tapi kami sebenarnya di paksa untuk melakukan itu, dipaksa dengan cara halus, di jauhi jika kami tidak menyiarkan,dan disindir terus dalam khotbah,termasuk didatangi oleh orang dari kantor pusat tiap 6 bulan dan bertanya apa kendala nya sehingga jam dinas kami sedikit sekali, dan kadang seperti pesakitan kami ditemani oleh senior yg datang kerumah dan mau gak mau kami harus jalan.

    Kami harus membuat laporan tertulis brp jam sudah kami habiskan untuk menyiar,peta daerah yang kami cetak dari peta jakarta sudah dibagikan per bagian dan per daerah mana penugasan kami ada ditas kami ketika syiar dan ada tanda masjid atau gereja yang km harus hidari takut memicu debat,kami pun harus melaporkan situasi kondusif atau tidaknya suatu daerah, termasuk laporan berapa banyak buku atau sedarlah sudah kami bagikan.

    Kami diajar untuk membenci semua agama lain dan agama lain adalah pengikut IBLIS atau bahasa kami susunan besar, baik itu katolik islam budha hindu protestan advent atau agama apapun adalah pengikut IBLIS, orang yang tidak mau mendengar syiar kami adalah pengikut IBLIS dan layak BINASA.

    Kami makan daging babi dan anjing, juga minum sesuai kebutuhan tidak sampai mabuk itu tidak dilarang, yang haram adalah rokok darah sirih ulang tahun hormat bendera, banyak rekan2 saya dulu yang mati karena tidak boleh transfusi darah di rumah sakit, kasihan melihat keluarga mereka terlantar karena ditinggal oleh anggotanya, menurut saksi yehuwa transfusi = makan darah.

    Kehidupan didalamnya tidak seindah yang Bapak Satria Dharma lihat, bahkan jauh dari bahagia, yang ada adalah beban dan pola pikir yg dikejar2 hari armagedon dan menjadi budak dari watchtower.

    Banyak dari kami yang sejujurnya sangat tertekan dengan pengaturan yang dibuat, beban saya lepas seketika ketika saya menjauhi rutin saksi yehuwa.

    Rutin itu adalah, wajib membayar iuran walau tidak dipaksa, tapi khotbahnya sangat menyindir jika tidak membayar,wajib melapor syiar tiap bulan jika dibawah 11 jam anda terhitung sakit rohani, apalagi kadang2 melapor anda terhitung sakit rohani sekali, alias rohani anda tidak bagus, yah benar, walau anda tidak melakukan kesalahan apapun anda dinilai tidak rohani dan salah jika tidak ada laporan syiar.

    Rutinitas tiap minggu : hari minggu berkumpul utk ibadah 3-4 jam sore hari berkumpul untuk syiar, hari senin persiapan utk berkumpul hari selasa, hari selasa malam berkumpul untuk ibadah 2-3 jam, hari rabu pagi berkumpul untuk syiar hari malamnya persiapan utk ibadah kamis, hari kamis malam berkumpul ibadah 2-3 jam, hari jumat persiapan ibadah untuk sabtu, hari sabtu berkumpul utk syiar dari pagi sampai siang malamnya persiapan utk ibadah minggu.

    Rutinitas yang kaku dan keras seperti itu terus begitu di kehidupan saya, bertahun-tahun. sangat melelahkan hidup tak jelas arahnya antara menjadi orang yang rohani tapi juga harus makan, kami diajar menjadi seorang pendeta tetapi sekaligus harus hidup duniawi, berbeda dengan kristen lain yang memang menjadi pendeta bisa fokus menjadi pendeta tidak disimpangkan.

    Definisi hidup saksi yehuwa adalah bahagia menjadi “budak” watchtower benar benar dalam arti BUDAK.

    Sungguh bahagia saya sudah tidak lagi bergabung lepas sudah semua beban dan tekanan saya, pekerjaan saya menjadi lebih terarah dan jelas, pendamping hidup pun juga saya sudah dapat dan saya sangat bahagia sekarang.

  8. daniel santoso says:

    Kristus = yang diurapi anti kristus = anti urapan,saksi Yehova bukan saja menentang urapan Roh Kudus tapi menganggap Yesus hanya titisan malaikat michael,jelas2x anti christ,penyesat jaman akhir,mengenai baju wangi dan rapih,Tuhan tidak melihat penampilan luar tetapi hati,percuma luarnya bersih dan wangi kalo hatinya busuk,JBU

  9. daniel santoso says:

    Islam dan saksi Yehova ada setali 3 uang,sama saja,anti christ,bagai kaum musilm baca surat al imron,al baqaroh,al maryam < ayat yang paling anti diajarkan di pesantren karena Muhammad jelas berkata : Juruselamat adalah Isa,saya punya teman mantan kyai dan dia bongkar semua ayat tsb,yg dianggap ga penting dan ga pernah diajarkan di pesantren,bagaimana islam dgn kitab sucinya sebagian penting sebagian tidak?mau nurut sebagian2x saja,kalo ditanya mantan kyai itu bilang "ah,ga penting itu,ga usah dibaca"tapi sekrg dia sudah sadar,di islam ada banyak surat contohnya Yasin,yg masih bisa digunakan untuk memanggil jin islam,bahkan utk menyakiti org lain,Alkitab tdk mengijinkan kita bersekutu dgn apapun selain Tuhan,dan mengajarkan kasih,tdk ada menyakiti org lain

  10. satriadharma says:

    Bung Daniel, umat Islam itu umat yang paling menghormati Jesus Christ (Nabi Isa). Di AlQur’an justru lebih banyak ayat tentang Nabi Isa daripada Nabi Muhammad sendiri. Baru tahu kan! :-) . Bagi umat Islam semua nabi adalah juru selamat. Mereka memang bertugas menyelamatkan umat manusia dari kesesatan. Jadi salah besar kalau disebut bahwa umat Islam tidak percaya bahwa nabi Isa bukan juru selamat.
    Anda telah dibohongi oleh seseorang yang mengaku sebagai ‘kyai’. Ia jelas tidak paham tentang Islam dan Al-Qur’an. Tak ada ayat yang ditutup-tutpi dalam Islam. Itu benar-benar nonsense. Sama omong kosongnya dengan menyatakan menggunakan ayat Al-Qur;’an untuk memanggil jin dan menyakiti orang lain. Kalau mau menyakiti orang lain cukup dengan tidak menegur dan melengos kalau ketemu dengannya. :-)
    Jika Alkitab mengajarkan agar kita tidak bersekutu dengan apa pun selain Tuhan (bukan Nabi Isa lho!), mengajarkan kasih sayang dan tidak menyakiti orang lain (kecuali dalam perang) maka rasanya itu sama dengan ajaran AlQur’an.
    Saran saya, bacalah sendiri Al-Qur’an. Saya jamin tidak ada yang ditutup-tutpi disitu. :-) Enjoy yourself!
    Salam
    Satria

  11. nunik says:

    Kewajiban seorang saksi adalah bersaksi kepada siapapun, kapanpun, dimanapun. jadi kalau tidak bersedia bersaksi artinya dia bukan saksi. Untuk bisa mendapatkan sebutan ” Saksi Yehuwa” tentu seseorang akan bersaksi tentang kebesaran Yehuwa yang menyebabkan kita ada dengan sukarela. Yehuwa tidak pernah memaksa umatNya, kita manusia diberi akal, pikiran, hati dan kebebasan untuk memilih yang tentunya masing-masing pilihan mengandung konsekwensi sendiri-sendiri, jadi apakah kita bersedia menjadi saksiNya atau tidak, apakah kita mau menerima tranfusi darah atau tidak, apakah kita mau memperbaiki diri setiap waktu atau tidak, itu adalah pilihan dan masih banyak pilihan lain.
    Ada pengalaman yang membuat saya sebagai orang tua tersentuh. Anak saya perempuan (12 tahun) suatu hari menderita sakit demam berdarah yang cukup kritis, dokter meminta saya menandatangani tindakan yang akan diambil yaitu “tranfusi darah”, ketika anak saya tahu, dia langsung menolak keras, tidak mau menerima tranfusi darah. Anak saya mengatakan “Ma, aku mau ikut Yesus dan Yehuwa, jangan lakukan tranfusi, karena itu sama dengan makan darah, hanya umumnya kalau orang makan lewat mulut tapi tranfusi langsung masuk ke aliran darah saya sama dengan infus ini saya kan minum obat juga. Ma, meskipun saya mati hari ini karena tidak tranfusi darah, saya masih punya harapan untuk dibangkitkan dan hidup abadi dibawah pemerintahan Yesus. Jadi tolong Mama jangan tanda tangan”. Akhirnya saya orangtuanya tidak tanda tangan tetapi diminta membuat pernyataan tidak menyalahkan pihak rumah sakit jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap anak saya. Kami orang tua mencari obat alternatif atas saran dokter dan dengan dukungan doa dari saudara dan handai taulan anak saya sembuh secara fisik sekaligus rohaninya tetap bersih karena “tidak melanggar Hukum Allah”. Inilah yang disebut pilihan, kita bebas melakukannya.
    Tanpa menjelekkan pihak lain, kalau kita sudah membuat pilihan, marilah kita setia dengan pilihan kita karena Yehuwa itu Setia.
    Salam untuk sdr. Satria Dharma.

Leave a Reply