prev next

The Iron Lady

Saya dan istri kemarin siang nonton film ‘Iron Lady’ di E-Walk, Balikpapan. Ini film yg sangat bagus tentang perjalanan hidup Margaret Thatcher, PM Inggris, yg pernah memerintah Inggris selama 11,5 tahun. Ia seorang pemimpin dunia yg tegas dan keras. Itu sebabnya ia dijuluki ‘Wanita Besi’ saking kerasnya pendiriannya. Perannya dimainkan dengat sangat bagusnya oleh Meryll Streep, bintang wanita favorit saya sejak dulu. Sudah lama sekali rasanya sy tidak nonton filmnya. Dan aktingnya dalam film ini benar-benar memukau saya.

Kekerasan dan keteguhan hati Margaret Thatcher bisa dilihat ketika ia memutuskan perang thdp Argentina perkara sengketa Falklands (atau Malvinas menurut Argentina). Utusan dari Amerika yg diharapkan dapat mengubah pandangannya samasekali tak diberi kesempatan utk menyampaikan pandangan-pandangannya. Tegas dan keras bagai karang. Perang dimenangkan oleh Inggris dan Malvinas jadi sejarah.
(more…)

Percobaan Sains Tara

Karena Tara mendapat informasi dari teman sekolahnya (sebetulnya HOAX) bahwa Cocacola dapat melarutkan ceker (kaki ayam) hanya dalam satu jam maka saya mengajaknya utk membuktikan sendiri apakah informasi itu benar atau salah. Saya sudah menunjukkan padanya tautan di internet mengenai bantahan tentang hoax tersebut. Tapi saya pikir ini sebuah kesempatan bagus bagi kami utk mengajaknya melakukan eksperimen sains sederhana untuk membuktikannya sendiri. Seeing is believing. Apalagi experiencing itself.

Mengapa diisukan bahwa ceker dapat hancur jika direndam oleh Cocacola? Ceker adalah tulang kaki yg merupakan bagian yang terkeras dari ayam. Jika ceker yg merupakan tulang terkeras saja bisa hancur jika direndam dalam minuman Cocacola maka bayangkan betapa kerasnya dan berbahayanya minuman ini jika kita masukkan dalam tubuh kita…!
(more…)

Tags:
 

YUDI

Saya sedang masuk ke kamar saya untuk beristirahat siang ini ketika saya mendengar bunyi mesin mobil berhenti di depan rumah. Saya mencoba melihat dari jendela kamar saya dan melihat seorang anak muda keluar dari mobil sambil membawa bungkusan, sekotak donat J-Co. Saya mengamati pemuda tersebut dan terkejut melihatnya. Ia seperti Yudi tapi nampak lebih gemuk, lebih bersih, dan lebih percaya diri. Ia membuka pintu pagar dan langsung masuk begitu saja.

Saya segera menyambutnya setelah mendengar suara salam di pintu masuk. Ya, ternyata ia memang Yudi. Ia tersenyum lebar dan setelah itu ia menyambut tangan saya dan menciumnya. Ia memang menganggap saya sebagai pengganti ayahnya selama di Balikpapan.

Yudi adalah anak teman kuliah saya. Seperti bapaknya, Ia lulusan IKIP Surabaya tapi dari jurusan bahasa Jepang. Setelah lulus ia kembali ke Tulungagung dan bekerja sebagai tenaga sales. Ijazah sarjana bahasa Jepangnya ternyata tidak laku di kota kecil macam Tulungagung sehingga ia harus mencari pekerjaan apa saja yang mungkin ia peroleh. Tak banyak sekolah yang mengajarkan bahasa Jepang di Tulungagung dan juga tak ada perusahaan jepang yang membutuhkan ketrampilannya. Dan akhirnya tenaga sales sepeda motor adalah pekerjaan yang bisa ia peroleh. Tentu saja ini bukan pekerjaan yang ia dambakan tapi tentu saja lebih baik bekerja apa saja ketimbang tidak bekerja sama sekali. Setelah bekerja beberapa waktu ia kemudian mendapat masalah dengan pekerjaannya sehingga ayahnya menitipkannya pada saya di Balikpapan. ‘Titip anakku ya, Cak. Tolong carikan pekerjaan apa saja disana.’ Kata teman saya itu. Maka terbanglah Yudi ke Balikpapan.
(more…)

Tags:
 

Gelar vs Kompetensi

“Satria, anakku asyik bekerja dan tidak mau meneruskan kuliah. Ia yakin banget bisa hidup meski tanpa ijazah sarjana. Tapi aku ingin dia meneruskan kuliahnya dulu sampai selesai dan setelah itu kembali meneruskan pekerjaannya. Tapi otomatis ia harus berhenti bekerja dulu. Anak saya akhirnya manut tapi katanya ia akan melakukan itu hanya demi ibu dan akan menyerahkan ijasahnya kepada saya nanti. Bagaimana pendapatmu sebagai orang tua, Sat?”

Seorang teman bertanya pada saya kira-kira seperti itu melalui surel dan saya tertawa geli membacanya. Kalau ia berharap dukungan dari seorang ‘veteran dan sekaligus ketua organisasi guru’ seperti saya dalam soal sikap anaknya ini maka ia bertanya pada orang yang salah. Saya tidak akan mendukungnya. Saya justru akan mendukung anaknya. :-)
(more…)

Tags:
 

Assalamu Alaikum Wr Wb.
Saudara-saudaraku yg kucintai.
Marilah kita akhiri polemik ttg Unas. Gak capekkah mengritik terus…?! Kami ini ‘brebeken’. Tahu ‘brebeken’ ndak…?!
UNAS itu wajib utk semua siswa. Seperti sholat bagi seorang muslim. Tanpa Unas apalah artinya pendidikan…?! Pendidikan model apa yang tidak pakai Unas itu…?! Pendidikan yang tak terukur dan tak punya standar…! Tanpa Unas berarti tidak bermutu…! Pendidikan Indonesia HARUS bermutu. Ingat itu…!

Unas itu standar dan tingkat kesulitannya harus sama di seluruh Indonesia. Kok tanya mengapa sih…?! Yo wis jelas toh. Kita tidak ingin mutu pendidikan di Papua dan NTT kalah mutunya dibandingkan dengan yg di Jakarta. Tidak bisa…! Harus sama. Harus sama bermutunya. Kasihan anak-anak kita di pelosok-pelosok kalau mutu pendidikannya kalah dg yang di kota besar. Itu diskriminasi namanya. Apakah kita tega anak-anak kita yg tinggal di pedalaman dan pulau terpencil mendapat mutu pendidikan, maksud saya mutu Unas, yg lebih rendah mutunya…?! Itu kejam dan diskriminatif namanya.

Ya…ya…saya tahu bahwa masih banyak sekolah yg tidak layak sarprasnya, tidak punya guru, gurunya memble dan mbolosan, tak punya buku utk dibaca, letaknya sangat terpencil dan harus jadi Indiana Jones kalau mau sekolah. Justru itu…!
Justru itu mereka HARUS kita beri Unas yg bermutu sama dengan anak-anak di sekolah RSBI. Dengan Unas yg bermutu sama maka mutu pendidikan otomatis akan sama. Daerah yg tertinggal otomatis akan meningkat mutu pendidikannya. Itulah kunci keberhasilan kita dalam meningkatkan mutu pendidikan yg tidak dipahami oleh negara-negara lain. Keadilan dalam Unas! Pokoknya untuk soal Unas ini kita harus adil seadil-adilnya. Inilah makna hakiki dari filosofi ‘Education for All’ yg kita dengung-dengungkan selama ini. ‘Education for all’ makna hakiki sebenarnya adalah ‘Unas for all’. Saat ini kita sedang menjalankan prinsip ‘Unas for all’ dan ‘All for Unas’. Kita pertaruhkan semuanya utk Unas yg bermutu tinggi ini. Mari kita bersama-sama menunjukkan semangat kita utk pendidikan bermutu bagi semua ini.
(more…)

Tags:
 

Harga Kaget

Ilustrasi. blogspot.com

Sebagai warga Balikpapan (kota yg terkenal mahal) saya sering terkaget-kaget dengan harga makanan di Jawa. Sebagai contoh, saya kemarin iseng-iseng mencegat penjual bakmi dorong yg lewat di depan rumah mertua saya di Rungkut Surabaya. Meski tahu bahwa rasanya pasti di bawah standar Mie Tokyo langganan saya tapi saya pikir bolehlah sesekali makan mie ‘ecek-ecek’.

Saya perhatikan penjualnya masih sangat muda. Seperti pemuda yg baru saja lepas dari masa remajanya. Wajahnya bersih dan tampangnya lugu. Saya langsung merasa simpati padanya. Anak ini mau bersusah payah jualan mie dorong utk membangun kehidupannya. Ia memilih jualan dan tidak larut dalam kehidupan pengangguran kebanyakan pemuda putus sekolah yg cuma nongkrong-nongkrong saja di pinggir jalan. Saya selalu ‘jatuh hati’ pada anak-anak muda seperti ini. Minimal mereka telah mengambil keputusan penting untuk menjadi sesuatu dalam hidup ketimbang jadi pengangguran tak jelas yang lama-lama jadi parasit. Kapan hari saya bertemu dengan seorang remaja berusia 17 tahunan yg jualan pukis di pinggir jalan hanya dengan berbekal gerobak sangat mungil. Namanya Hanafi. Saya langsung ingat anak saya yg seusia dengannya. Anak saya sungguh beruntung punya orang tua yg bisa terus membiayai sekolahnya sehingga tidak harus jualan pukis di pinggir jalan. Apa jadinya jika kita tidak mampu lagi membiayai sekolah anak kita pada usia tersebut? Apakah kita akan mendorong mereka utk melakukan pekerjaan apa saja utk bisa hidup agar tidak jadi pengangguran yg menyedihkan? Pengangguran bisa mendorong anak-anak muda utk terjerembab dalam tindak kriminal. Dan itu jauh lebih menyedihkan. Itu sebabnya saya selalu angkat topi pada anak-anak muda yg mau bekerja apa saja utk bisa hidup dan tidak jadi pengangguran. Rasa hormat dan kagum saya yang tinggi utk mereka para pekerja belia (anak-anak yg tidak beruntung memiliki orang tua yg mampu membiayai pendidikan mereka lebih lanjut).

Mie pesanan saya ternyata porsinya cukup besar utk ukuran saya (dan terpaksa tidak bisa saya habiskan) dan cukup lengkap isinya. Selain mie juga ada sayuran sawi, siomay, potongan ayam, dan gorengan. Semua yg reguler di resto Chinese food ada juga di situ. Saya perhatikan bahwa pengerjaannya juga butuh waktu lumayan lama. Tentu saja berbeda dengan menu pecel yg tinggal ambil dan masukkan ke piring. Mie ayam perlu direbus dalam jangka waktu tertentu sebelum bisa disajikan.
(more…)

 

Bukti Kegagalan Pembelajaran Fisika

Ilustrasi. blogspot.com

Pernahkah Anda melihat orang yg mengisi bensin sambil menggoyang-goyang mobilnya supaya bensin bisa masuk lebih banyak ke tangki? Saya seringkali melihat orang yg melakukan hal tersebut. Tindakan tersebut sungguh menggelikan. Mungkin ia pikir mobil perlu digoyang-goyang agar tangkinya tidak menyisakan ruang kosong utk bensin dan tangki bisa mengisi bensin lebih banyak. Kayak mengisi krupuk di kaleng saja. Sambil bergurau saya katakan pada istri saya bahwa itu adalah bukti kegagalan pembelajaran Fisika di Indonesia….! :-D

Jelas sekali bahwa orang ini tidak tahu bahwa sifat zat cair seperti bensin akan turun mengisi semua ruangan. Lagipula tangki bensin memang sudah dirancang utk bisa diisi penuh sesuai kapasitasnya tanpa perlu digoyang agar bensin bisa mengisi tangki dg penuh.

Jadi darimana orang-orang tersebut mendapatkan ide utk menggoyang-goyang mobil agar tangki terisi penuh? Saya menduga bahwa mereka melihat orang lain melakukan hal tersebut dan kemudian mengikutinya tanpa pernah memikirkannya. Masyarakat kita memang penuh dg orang-orang yg anut grubyug melakukan hal-hal yg dilakukan orang lain tanpa mereka pahami mengapa hal tsb harus dilakukan. Mungkin juga mereka terinspirasi oleh orang yg menggoyang-goyangkan toples ketika mengisinya dg krupuk, peyek, kacang, dll. Jika kita mengisi wadah seperti toples dengan makanan spt itu maka kita memang menggoyang-goyangnya agar isinya bisa lebih masuk ke dalam toples mengisi ruang yg kosong. Tapi itu kan benda padat. Benda cair tidak perlu diperlakukan demikian dan ia akan masuk sendiri mengisi ruang yg kosong.

Lantas mengapa masih banyak orang yang tidak paham dengan masalah sepele seperti ini?
(more…)

Tags:
 

What’s Wrong with SBY?

Nasrudin Hoja. blogspot.com

Suatu ketika Nasruddin Hoja dan anaknya pergi ke pasar dengan menunggangi seekor keledai.

Di tengah jalan mereka bertemu dengan serombongan orang yang berbisik-bisik “Alangkah kejamnya! Apa dua orang itu tidak punya rasa kasihan pada seekor keledai kecil dan lemah itu?”

Mendengar ini Nasruddin menyuruh anaknya turun dan mengikutinya dengan berjalan kaki. Ia tetap menaiki keledai tersebut.

Mereka kemudian bertemu lagi dengan serombongan orang yang berbisik-bisik “Orang tua yang kejam! Anaknya yang lemah disuruh jalan kaki sementara dia enak-enakan naik keledai!”

Mendengar ini Nasruddin menyuruh anaknya naik keledai dan Nasruddin mengikutinya dengan berjalan kaki.
(more…)

Tags:
 

Meanwhile…

Dunia adalah keajaiban, yang indah dan misterius!
Saat saya menyantap hidangan dessert ice cream Walls di ketinggian lebih dari 10.000 kaki dalam perut pesawat Garuda pada perjalanan pulang dari Jakarta ke Balikpapan…

Anak bungsu saya mungkin sedang mengayuh sepeda meluncur dari ketinggian ujung jalan bersama anak-anak tetangga sambil berteriak-teriak gembira. Kesenangan tak terperikan.

Pada saat yang sama ribuan jamaah haji baru saja mendarat di bandara King Abdul Aziz, Jeddah dengan seragam ihram putih berbaris rapi dengan bibir tetap melantunkan dzikir. Kelelahan yang penuh khidmat.

Para induk burung elang di ketinggian puncak-puncak gunung sibuk menyuapi bayi-bayi mereka dengan mulut menganga kelaparan satu persatu. Cinta yg tak terlukiskan.

Ikan-ikan berenang dengan cepat dalam gerombolan besar menuju perairan yg lebih hangat di Samudera Pasifik. Keharusan yg tak pernah ditanyakan.
(more…)

 

How Did You Write?!

Saya biasanya menulis di PC atau laptop saya tapi kini saya mulai menulis dg Blackberry saya. Beberapa tulisan terakhir saya di web adalah hasil tulisan melalui Blackberry yg lebar layarnya cuma beberapa senti dan tuts ketiknya begitu kecilnya sehingga hanya akan efektif jika dipencet dg kuku jempol. Lapangan menulis saya mengkerut dengan drastis.

Tentu saja ada perbedaan antara keduanya. Di PC saya menggunakan 10 jari untuk mengetik dengan kecepatan yg bisa membuat kagum anak-anak saya karena bunyi tombolnya bak rentetan tembakan mitraliur yg menggunakan peredam. Retetetet…retetetet… retetetet…!
“Kok bisa sih Bapak ngetik secepat itu…?!” kata mereka dengan kagum. “Kalau kamu berlatih terus menerus maka kamu akan bisa mengetik secepat Bapak.” jawab saya sok wise.
(more…)

Tags: