Minggu, 2 Oktober 2011 kemarin saya menghadiri acara Reuni Akbar SMAN 7 Sby di mana saya pernah bersekolah 35 tahun yg lalu. Acaranya diadakan di ballroom Hotel Garden Palace sejak jam 9 pagi dan baru berakhir sekitar jam 3 sore. Karena yg reuni adalah angkatan 66 (angkatan pertama) sampai angkatan 83 maka yg datang jelas sudah banyak angkatan gaek pensiunan. Saya sendiri termasuk yg sudah ‘pensiun’ dari mencari nafkah meski dalam usia sebenarnya masih belum. Kebanyakan teman-teman saya saat ini sedang berada di puncak kariernya karena dalam beberapa tahun lagi akan pensiun. Tak ada di antara mereka yg berkarir sebagai guru atau dosen yg bisa pensiun pada usia lebih tua.
Karena sudah sekitar 35 tahun tidak pernah bertemu maka ketika bertemu kembali kebanyakan kami tidak bisa langsung saling mengenali. Ada di antara kami yg berubah total penampilannya dan ada juga yg masih dengan mudah diingat-ingat wajahnya karena tidak mengalami banyak perubahan. Beberapa di antara kami memang masih saling berhubungan baik karena lokasi tempat tinggal yg bertetangga atau berdekatan atau karena faktor pekerjaan yg masih berhubungan. Biasanya yg begini adalah teman-teman yg masih tinggal dan bekerja di Surabaya. Saya sendiri hampir tidak berhubungan sama sekali dg teman-teman alumni setelah lepas SMA walau pernah cukup lama kuliah dan bekerja di Surabaya sebelum pindah ke Bontang dan Balikpapan. Faktor pekerjaan dan kesibukan membuat saya tidak punya waktu dan kesempatan utk mencaritahu di mana mereka. Saya sendiri sebetulnya tetap berkumpul dg teman-teman kuliah dulu setiap kali ke Surabaya. Tapi tidak berhubungan lagi dg teman-teman SMA (dan sudah tidak ingat lagi dg teman-teman SMP). Jadi bisa bertemu kembali dg teman-teman SMA kemarin itu adalah sesuatu yg luar biasa bagi saya.
Pertanyaan standar yg kita lontarkan ketika bertemu teman lama adalah : apa kabar, di mana bekerja, berapa anakmu, di mana tinggal skrg, dan dari situ kemudian percakapan meluncur ke mana-mana bergantung seberapa akrab kita dg teman lama tersebut. Semakin akrab kita dulu maka semakin hangat percakapan. Tak jarang ‘pisuhan’ lama berhamburan lagi saking senangnya kita bertemu. Kami kembali berprilaku seperti ketika masih SMA dulu. Saling lempar guyonan, olok-olokan, pisuhan, cerita kekonyolan, dan gablok-gablokan. Tentunya dalam suasana riang gembira. (more…)

Ilustrasi. Google.com
Pertamakali bekerja sebagai guru SMP di Caruban, kota kecil dekat Madiun saya tidak perlu melamar. Saya ditempatkan di sekolah itu sesuai dengan ikatan dinas yang harus saya penuhi karena ikut program Tunjangan Ikatan Dinas dari program PGSLPYD. PGSLPYD itu singkatan dari Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama Yang Disempurnakan dan merupakan program pendidikan guru setara Diploma 1 yang nantinya lulusannya akan ditempatkan sebagai guru SMP di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Begitu lulus kuliah dari jurusan Bhs Inggris saya langsung mendapat penempatan di Caruban. Sebuah kota kecil yang susah payah harus saya cari di peta Jawa Timur.
Saya tidak langsung berangkat untuk memenuhi kewajiban saya meski SK PNS saya sudah turun. Terus terang saya tidak ingin untuk berangkat pada awalnya karena menjadi guru PNS, apalagi ditempatkan di sebuah kota kecil yang belum pernah saya injak sebelumnya, sungguh bukan tujuan hidup saya. Ogah rasanya saya menjadi guru. Sebagai anak muda kota metropolis macam Surabaya karir sebagai guru sungguh tak menarik samasekali. Di kepala saya waktu itu saya masih berharap bisa jadi seorang psikolog, wartawan atau guide yang bisa melancong ke mana-mana tapi malah dibayar.
Jadi guru…?! Puih…! Nehi lah yaow…! Saya mau ikut program TID dari PGSLPYD hanya karena tertarik pada uang tunjangan dinasnya yang lumayan besar bagi saya waktu itu yang saya peroleh setiap tiga bulan tersebut. Lagipula perkuliahannya saya anggap sebagai kursus bahasa Inggris gratis saja!
(more…)

Ilustrasi. gotpetsonline.com
Mohon maaf… saya tidak sedang mengumpat atau mengata-ngatai apa pun dan siapa pun dengan judul di atas. Saya hanya hendak menulis tentang anjing.
Apa saya seorang pemelihara anjing? Tidak. Sebenarnya hubungan saya dengan anjing tidak pernah akrab, apalagi mesra. Saya bahkan pernah traumatik karena pernah dikejar anjing waktu masih kecil. Sejak itu saya selalu waspada dan jantung saya berdebar lebih kencang kalau melewati anjing. Lagipula saya dibesarkan dalam lingkungan budaya agama yang tidak simpatik pada anjing meski sering dikatakan bahwa anjing adalah ‘man’s best friend’.
Anjing adalah binatang yang tidak patut saya jadikan teman karenanya dan saya butuh waktu cukup lama untuk mengalahkan rasa takut saya pada anjing. Saya sudah tidak terlalu takut lagi pada anjing setelah berhasil mengalahkan rasa takut saya secara ‘self-hypnosis’. Meski demikian saya masih sering tegang jika melewati seekor anjing yang berukuran besar. Apalagi anjing tersebut sedang berombongan dengan rekan-rekan sejawatnya! Satu saja bikin repot, apalagi kalau dengan konco-konconya. Repotnya saya pernah membaca bahwa anjing itu bisa membaui rasa takut kita dengan mencium keringat yang keluar dari tubuh kita. Kalau anjing itu tahu kita takut maka ia akan semakin terprovokasi untuk menyerang kita. Bayangkan…! Maksud saya, bayangkan betapa tersiksanya saya dengan ‘pengetahuan’ saya tentang anjing tsb. Saya tidak tahu benar apakah hal itu benar atau tidak tapi mengetahui itu sudah cukup membuat saya harus ekstra keras untuk tidak berkeringat ketika melewati anjing, terutama kalau anjing itu memandangi saya. Oh ya…!
(more…)
Beberapa waktu yang lalu Mrs. Kathryn Rivai , Principal Seri Insan Secondary School Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, beserta salah seorang stafnya, berkunjung ke beberapa sekolah di Balikpapan, termasuk ke SDIT Istiqamah dimana anak-anak saya bersekolah.
Sekolah Seri Insan adalah salah satu sekolah yang dijadikan tujuan sekolah pertukaran pelajar siswa SMU Balikpapan baru-baru ini. Kunjungan Kathryn ini selain untuk berlibur juga untuk melihat sistem pendidikan di Indonesia, khususnya Balikpapan dan untuk menemui beberapa orang tua yang tertarik untuk mengirimkan putra-putrinya untuk melanjutkan sekolah di Seri Insan. Pada kunjungannya kali ini mereka melihat SMUN 4, SMUN 2, dan Istiqamah. Selain itu mereka juga bertemu secara formal dengan Dinas Pendidikan Kota Bontang beserta beberapa kepala sekolah yang diundang untuk mendengarkan presentasi mereka tentang sistem pendidikan di Seri Insan.
(more…)
Apa arti penting Muhammad Yunus dan Grameen Bank bagi umat Islam? Muhammad Yunus dan proyek Grameen Banknya yang memenangkan hadiah Nobel Perdamaian sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Ini artinya seorang umat Islam diakui oleh dunia sebagai pelopor dan pejuang bagi perdamaian dunia. Ini sungguh luar biasa! Sekarang tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa Islam (atau umatnya) tidak mampu membawa perdamaian pada dunia yang kacau balau ini. Muhammad Yunus adalah tonggak sejarah yang sangat penting dalam sejarah perjuangan Islam. Beliau adalah satu-satunya umat Islam yang diakui sebagai Pahlawan Pembawa Perdamaian bagi umat manusia sampai saat ini. Justru pada saat Islam dituding sebagai biang terror dimana-mana!
Jika Anda hanya punya kesempatan untuk membaca satu buku saja tahun ini, maka saya akan menganjurkan Anda untuk membaca buku tentang Muhammad Yunus dan Grameen Bank, “Bank for the Poor”. Saya sendiri membaca dari buku terjemahannya yang berjudul “Bank Kaum Miskin” yang diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri. Di sampul depan buku ini ada sambutan dari Hugo Chavez, Presiden Venezuela, :”Beri tepuk tangan untuk kawan kita, teladan perjuangan melawan kemiskinan.” Jika seorang presiden negara sosialis terkenal macam Hugo Chavez saja sampai angkat topi untuk Muhammad Yunus ,(dan mantan presiden Clinton membawanya ‘runtang-runtung’ di Amerika untuk mengadopsi sistem Grameen Bank di Amerika) Anda bisa bayangkan betapa besar kharismanya. Penganugrahan Nobel Perdamaian 2006 sendiri untuk usaha pengentasan kemiskinan yang dilakukannya melalui usaha mikro kredit menunjukkan betapa pentingnya dan betapa berhasilnya sistem Grameen Bank dalam memerangi kemiskinan, bukan hanya di Bangladesh tapi di seluruh dunia. Apa yang beliau lakukan selama dua puluhan tahun benar-benar menunjukkan hasil yang menakjubkan dan membuktikan bahwa metodenya bisa diterapkan di berbagai negara dengan berbagai budaya. Buku ini menceritakan beberapa pendekatan yang digunakan di berbagai negara yang berbeda kultur dan tingkat social dengan tingkat keberhasilan yang fantastis dalam memerangi kemiskinan yang menjadi musuh bersama bagi kemanusiaan Ya, kemiskinan adalah musuh bersama bagi kemanusiaan. Tidak perduli apa agama Anda, tidak perduli apa suku dan bangsa Anda, tidak perduli apa paham politik Anda, begitu bicara tentang kemiskinan maka ia langsung akan menjadi musuh bersama kita dimana tiba-tiba kita bisa saling mengubur perbedaan dan pertikaian dan bergandengan tangan untuk menghadapinya. Terorisme menjadi tidak relevan dan kehilangan pijakan dalam perspektif ini.
Pernahkah Anda bertanya-tanya dalam hati dimana sekarang teman-teman sekolah Anda dulu, 10 … 20… 30 tahun yang lalu? Dimana mereka sekarang berada dan apa pekerjaan mereka? Saya sering bertanya-tanya dalam hati saya kemana perginya teman-teman sekolah saya dulu ketika SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Kalau teman-teman kuliah masih bisa saya jejaki sebagian meski banyak juga lainnya yang saya tidak tahu informasinya. Saya bahkan sering menghubungi mereka satu persatu jika saya mampir ke Surabaya dan kamipun mengadakan reuni kecil-kecilan. Saat-saat yang selalu menyenangkan bertemu dengan teman-teman lama. Tapi teman-teman SMA? Hampir tidak ada satupun yang saya ketahui kemana perginya mereka sekarang. Saya benar-benar kehilangan jejak dan tidak tahu kemana harus mencari mereka.
Beberapa tahun yang lalu saya diundang reuni oleh sebuah SMP dimana saya pernah mengajar di Surabaya. Reuni ini agak unik karena yang reuni bukan bekas siswanya tapi para bekas gurunya dengan pemrakarsa para bekas muridnya. Saya pernah mengajar di sekolah itu selama beberapa tahun pada tahun 80an. Saya sendiri sebelumnya juga lulus dari sekolah itu dan juga diajar oleh para guru yang akhirnya jadi kolega saya pada saat itu. Saya mengajar di sekolah itu setelah pindah dari sebuah sekolah di sebuah kecamatan kecil di kabupaten Madiun. Saya pindah ke kota Surabaya karena kuliah lagi. Jadi sambil kuliah di IKIP saya mengajar di sekolah itu dengan status PNS.
Dulu saya tinggal di daerah Wonokromo di Surabaya. Waktu itu tidak banyak anak di kampung saya yang meneruskan sekolah hingga perguruan tinggi. Paling banter mereka hanya bersekolah sampai SMA dan sebagian besar hanya lulusan SMP. Mereka berpikir praktis saja. Kalau bisa bekerja untuk apa sekolah? Lagipula sekolah memang membutuhkan biaya yang keluarga mereka tidak miliki. Idaman pemuda kampung saya adalah jika bisa bekerja di PT Colibri (sekarang PT Unilever). Tapi memang tidak banyak yang bisa bekerja di sana karena perusahaan tersebut juga punya persyaratan. Biasanya hanya mereka yang punya keahlian di bidang olahraga, seperti volley atau sepakbola, saja yang bisa diterima. Tak
heran jika banyak teman saya yang giat berlatih sepakbola atau volley jaman itu. Tapi memang tidak banyak yang bisa lolos seleksi. Sebagian besar ya terpaksa menganggur. Karena dekat dengan terminal Joyoboyo maka banyak dari teman-teman saya yang nongkrong dan jadi anak terminal. Sebagaimana umumnya anak-anak terminal kemudian banyak yang jadi preman. Tak heran jika kampung saya dulunya banyak premannya. Bagi preman siapa yang paling berani maka itu yang paling disegani. Otot (keberanian berkelahi) sangat dihargai.
(more…)
Kemarin Yufi, anak kedua saya, sunat. Kebetulan kakaknya juga baru saja sunat ketika berada di Surabaya dan ia merasa terdorong untuk ikut sunat. Karena salah seorang keluarga kami adalah perawat yang biasa melakukan proses sirkumsisi d rumah sakit maka kamipun sepakat mengadakan proses sunatan tersebut di rumah. Ruang makan kami sulap untuk menjadi ruang ‘OK’ sementara dan keluarga-keluarga dekat kami undang untuk turut membantu dan menyaksikan prosesi tersebut.
Begitulah, akhirnya anak saya akhirnya sunat bersama dua orang sepupunya yang lain yang juga ingin sunat. The more the merrier, kata kami. Ketiganya diundi siapa yang lebih dahulu dan siapa berikutnya karena ternyata mereka merasa agak takut-takut juga untuk disunat pertama kali.
Ketika anak pertama disunat dan menangis karena ketakutan dan kesakitan akhirnya dua anak berikutnya juga menjadi takut dan stress. Anak saya sendiri menjadi trauma melihat saudara sepupunya menangis dan menjerit-jerit. Ia berontak tidak mau disunat.
Hwarakadah…! Petugas sunat dan para keluarga sudah siap je lha kok mau membatalkan niat. Ya, ndak bisa!
Pokoknya mereka berdua harus menyerahkan ‘burung’ mereka untuk disunat hari itu juga. Berbagai cara kami lakukan untuk membujuk mereka untuk maju ke ‘meja bedah’. Ada yang berjanji untuk membelikan mainan, ada yang menjanjikan bonus uang, makanan dan minuman, dll. Pokoknya mereka harus bersedia disunat hari itu.
Meski masih setengah menolak kami berusaha keras untuk menelentangkannya di meja ‘OK’ untuk disunat. Lima orang bertugas memegangi mereka selama proses berlangsung. Sepanjang prosesi anak saya memberontak, menangis, dan menjerit-jerit. Ketika saya usulkan agar ia membaca surat-surat pendek dalam AlQur’an sebagai ganti dari menangis dan mengaduh-aduh maka ia pun membaca AlFatihah, AnNas, Al-Ahad, dll surat pendek yang ia ketahui sambil terus merintih. Ia juga kami tuntun untuk berdoa dan berselawat. Entah berapa banyak surat dan doa yang ia baca selama prosesi tersebut. “Wah, tamat satu jus, nih!” ledek Om-nya yang bertugas memegangi kakinya. Proses sunat kedua anak tersebut akhirnya selesai dengan susah payah. “Wah, belum pernah saya menyunat anak seheboh ini!” kata tukang sunatnya sambil menyeka keringat yang membanjiri wajahnya. Syukurlah!
(more…)












Recent Comments