
Satria Dharma : For the Love of Reading and Writing. Something to Remember at My Birthday
Akhirnya buku saya jadi dan bisa sampai di tangan saya hari ini…! Sebuah buku dengan judul “Satria Dharma : For the Love of Reading and Writing. Something to Remember at My Birthday.” Tebalnya 481 halaman, hard-cover , dengan ilustrasi foto saya sedang tersenyum. Foto saya yang paling ganteng selama ini. (Berkat photoshop tentu saja.). Rasa capek menungguinya di bagian kargo bandara Sepinggan selama 5 jam langsung rontok! It’s like an ecstasy…!
Kemarin malam saya menungguinya tiba dan mengambilnya langsung dari pengiriman kargo port-to-port di bandara dan baru berhasil mengambilnya tengah malam…! Pesawat terakhir yang membawanya dari Juanda tertunda dan barang baru bisa dikeluarkan setelah semua urusan administrasi dan tetek-bengek lainnya selesai. Jam 12 malam lebih baru paket berisi 16 buah buku kiriman pertama saya terima. Jika ditotal saya telah menunggu di bagian kargo selama 5 jam karena kesalahan informasi. Informasi awal adalah bahwa barang bisa diambil jam 7 lebih malam itu. Setelah saya nongkrong dan bertanya kesana kemari sejak jam 7:15 ternyata baru dapat info baru bahwa maksudnya pesawat dari Surabaya jam 7 lebih. Padahal ada beda satu jam antara Surabaya dan Balikpapan. Lalu yang dimaksud jam 7 lebih itu ternyata pesawat jam 7:45 (berarti jam 8:45). Jika butuh waktu untuk membongkar dan administrasi sekitar 45 menit berarti kan sudah jam 9:30. Saya garuk-garuk kepala. Ok then..!
(more…)
Yufi. dok. pribadi.
Untuk urusan rumah kami punya pembantu yang setiap pagi datang mengurusi rumah dan kembali siang hari. Urusan makan siang sudah diselesaikan di sekolah karena mereka full-day school dan makan siang di sekolah. Urusan makan malam biasanya dibuatkan oleh pembantu kami dan kadang mereka beli sendiri. Mereka tidak pernah mengeluhkan soal makan. Mereka bisa membuat sendiri apa yang mereka mau karena ibunya telahmeninggalkan segala macam bahan makanan yang mereka sukai sebelum berangkat. Soal bangun pagi dan sholat Subuh yang setiap pagi mesti kami kontrol di mana pun kami berada. Jadi meski pun kami sedang travelling ke Bali, Malaysia, atau Sinjai, umpamanya, kami tetap menelpon mereka ke rumah untuk membangunkan mereka sholat Subuh. Itu sudah jadi ritual keluarga. Kalau tidak dbangunkan maka mereka akan bangun kesiangan dan gelagapan untuk mempersiapkan diri ke sekolah.
(more…)
Saya dan istri masih menunggui bapak mertua yg baru keluar dari rumah sakit (dan dimasukkan ICU hampir seminggu) di Surabaya ketika ada telpon bahwa anak sulung saya, Yubi, sakit perut sejak pagi dan minta dibawa ke emergency. Kami pikir tidak ada apa-apa karena Yubi tak ada riwayat penyakit apa pun sebelum ini. Kami hanya menganjurkannya utk istirahat dan minta ijin tidak masuk sekolah Tapi karena ia merasa sangat kesakitan dan kami tidak ingin ada masalah dengan kesehatannya maka kami minta ia utk dibawa ke emergency RS Pertamina Balikpapan.
Satu jam kemudian datang kabar bahwa ia harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut karena ada kemungkinan ia terkena usus buntu. Kalau positif maka ia harus segera dioperasi utk mengangkat appendixnya. Jika appendix ini pecah dan infeksi maka akibatnya akan fatal. Kami setujui utk pemeriksaan lebih lanjut dengan menguji darah dan kencingnya.
(more…)

Source: wikipedia.org
Tapi tiba-tiba terjadi perubahan. Tiba-tiba Bapak (ayah saya) meminta kami anak-anaknya untuk berlebaran di Balikpapan saja. Anaknya ada 11 (sebelas) orang dan kami semua diminta untuk berlebaran di Balikpapan saja. Dan itu tidak biasanya! Biasanya Bapak tidak pernah mengatur di mana kami akan berlebaran karena biasanya Mama yang mengaturnya. Tapi sekarang Mama telah tiada. Beliau telah meninggalkan kami beberapa bulan yang lalu dan Bapak ingin agar kami berkumpul berlebaran seperti biasanya di Balikpapan saja.
Akhirnya kami putuskan bahwa saya akan tetap di Balikpapan untuk berlebaran bersama Bapak dan saudara-saudara dan istri saya, bersama anak-anak , pulang ke ayahnya juga di Surabaya. Ternyata anak sulung saya juga membatalkan pulang ke Surabaya karena sepupu-sepupunya akan datang semua ke Balikpapan. Dan ia ingin berlebaran bersama sepupu-sepupunya. Suasana tentu akan meriah dan semarak dibandingkan pulang ke Surabaya dan Madiun. Dan tiketnya pun diberikan pada seorang kerabat yang ingin mudik.
(more…)

Kelelawar. wikipedia.org
Berbeda dengan penghuni lain yang sesekali datang ke rumah kami dan menginap entah di kamar atas atau di kamar belakang yang memang kami persiapkan bagi tamu, penghuni baru ini tidak dikenal oleh anak-anak kami dan bahkan tidak pernah minta ijin kami untuk tinggal. Ia datang dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kami menamainya sebagai ‘penghuni gelap’.
Bagaimana kami tidak menamainya penghuni gelap jika ia tidak pernah minta ijin untuk tinggal, tidak pernah mengucapkan salam baik ketika ia datang atau pun keluar? Ia datang ketika hari menjelang sore dan menghilang sebelum kami bangun pada subuh hari! Tak satu pun di antara kami yang disapanya. Bahkan ia lewat begitu saja suatu kali ketika saya memergokinya keluar rumah. Saya hanya bisa terpana melihatnya lewat dengan cepat tanpa bisa sekedar mengucapkan “Hai…!” padanya. Meski demikian kami tahu bahwa ia selalu datang dan tinggal di rumah kami SETIAP HARI seolah rumahnya sendiri karena ia meninggalkan kotoran bekas makannya di lantai rumah kami yang secara rutin dibersihkan oleh pembantu kami yang datang setiap pagi untuk menyapu dan mengepel lantai. Berhari-hari ini saya juga melihat sisa-sisa makanannya berserakan di atas lantai kayu rumah kami.
(more…)

Fernando Alonso. Google.com
Saya sedang mengerjakan tugas rutin saya (membuka dan membalas email) ketika Tara, anak bungsu saya muncul di ruang komputer dan berkata,”Pak, Mas Alif nggak masuk sekolah.”. Alif itu sepupunya yang satu sekolah dengannya dan ia biasanya ikut dengan Alif berangkat mau pun pulang sekolah. Kebetulan Alif tinggal satu jalan dan jaraknya hanya beberapa rumah dari rumah kami.
Karena tak ada antaran pagi itu maka mau tak mau saya harus mengantarkan Tara ke sekolah. Komputer kutinggalkan dan segera berkemas. Ketika mobil mulai meluncur kuperhatikan jam penunjuk waktu di dashboard. 7:05.
“Jam berapa sekolahmu masuk, Nak?” tanyaku
“Gak tahu. Jam 7:15 barangkali.” jawabnya tak yakin. Ia tak pernah memperhatikan jam berapa sekolahnya mulai karena ia tidak pernah terlambat masuk sekolah.
“Kenapa Mas Alif gak masuk hari ini? Sakitkah” tanyaku.
“Nggak. Mau bolos aja.” Jawabnya.
“Soalnya semua orang libur jadi dia juga mau libur.” Tambahnya seolah tahu bahwa saya akan menanyakan hal ini.Saya lalu ingat bahwa kakaknya, Yufi, libur hari ini.
(more…)

Ilustrasi. Tenggang Rasa
Apa tepa slira itu…?! Bagi yang tidak mengenal kultur Jawa istilah ‘tepa slira’ paling tepat diterjemahkan menjadi tenggang rasa. Kita menenggang rasa terhadap apa yang diyakini, disikapi, dan dilakukan oleh orang lain.
kalau kita beda, itulah fakta,
bila tidak sama, itupun nyata,
namun dalam beda, kita bisa bersama,
saling tepa-selira, harmoni tercipta.Perbedaan adalah kenyataan yang kita hadapi setiap hari. Tidak ada di dunia ini dua benda yang persis sama, masing-masing pasti memiliki perbedaan. Manusiapun berbeda-beda, terdiri atas berbagai ras, dan tiap-tiap ras memiliki bermacam suku, sukupun memiliki bermacam daerah asal, daerah asal memiliki bermacam keluarga/marga dan seterusnya. Di dalam satu keluargapun memiliki perbedaan, ada yang lebih tua dan yang lebih muda. Demikianlah fakta hidup di dalam dunia ini yang memiliki berbagai macam perbedaan.
Perbedaan antara suami dengan istri bisa menjadi cerita yang sangat panjang, seperti dalam tayangan televisi yang gencar menayangkan perceraian para selebritis. Lebih luas lagi perbedaan antara golongan dapat menjadikan perang saudara, saling mencederai dan bahkan saling membunuh. Mengapa hal demikian terjadi? Semuanya dikarenakan ego masing-masing, entah itu ego pribadi, marga, daerah, golongan dan sebagainya. Sepanjang manusia mementingkan diri sendiri tanpa mau mengerti orang lain, pasti akan bersinggungan kepentingan dengan yang lainnya, kemudian terjadilah saling bertentangan, saling bermusuhan, saling menyakiti satu terhadap yang lain. (more…)
KENANGAN UNTUK IBUNDA
ALMARHUMAH IBU HAJJAH HAFSAH BINTI ISMAIL
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamua alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Innaa Lillahi wa Innaa Ilaihi Raji’un
Sesungguhnya setiap mahluk hidup akan mengalami kematian.
Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kita semua akan kembali ke Hadirat-Nya.
Pertama-tama saya mewakili keluarga besar Hasyim Mahmud, Yayasan Airlangga di Balikpapan dan Yayasan Widya Dharma Shanti di Denpasar mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas kesediaan saudara-saudara sekalian untuk hadir pada acara pelepasan jenazah Ibunda kami ini untuk dikebumikan.
Yang saya cintai Ayahanda M Hasyim Mahmud dan saudara-saudaraku semua serta para Hadirin dan Hadirat yang saya muliakan,
Pada pagi hari ini kita berkumpul disini untuk mengantarkan Ibunda kami Hajjah Hafsah Ismail. Beliau telah dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa dengan tenang pada hari Senin, 24 Januari,pada sekitar pukul 20.00 WIB di rumah sakit Medika Serpong BSD Tangerang
(more…)

Skiiping School. Ilustrasi. ourfamilynest.com
“ Hai Adul! Kamu tidak sekolahkah…?!” Tanya saya. Saya biasa memanggilnya “Adul” seperti semua tetangga lain (meski kemudian saya baru tahu bahwa ia punya panggilan lain di sekolah).
“Tidak Pak. Saya bolos, Pak.” Jawabnya singkat dan meneruskan pekerjaannya menggores-gores.
Bolos…?! Saya langsung terkesiap. Anak sulung saya paling kerap membolos dulu dan itu membuatnya diganjar tidak naik kelas. Tingkat bolosnya sudah begitu tinggi sehingga bahkan status orang tuanya dan hubungan baik dengan kepala sekolah tetap tidak bisa membantunya untuk naik kelas. Lagipula kami orang tuanya memang tidak berniat untuk ‘membantu’nya naik kelas dengan cara apa pun. Sudah menjadi prinsip kami bahwa setiap anak harus menerima konsekuensi dari tindakannya sendiri. Jika membolos membuatnya tidak bisa naik kelas so be it!
(more…)
Rabu, 2 Juni 2010, Saya dan Ika mengadakan tur ke Singapore selama 3 hari.
Tour ini kami lakukan tanpa persiapan jauh-jauh hari seperti biasanya dan boleh dibilang cukup mendadak. Persiapan matang jauh-jauh hari sebelumnya adalah ciri khas Ika sedangkan saya lebih suka mempersiapkan diri last minute seperti ini.
Entah kenapa tiba-tiba saya ingin jalan-jalan ke Singapore. Mungkin karena ingin menemani orang tua saya yang ingin berobat ke Singapore tapi tidak bisa karena saya ada jadwal rapat yayasan di STIKOM Bali. Akhirnya adik saya yang menemani mereka. Tapi ternyata mereka samasekali tidak bisa menikmati perjalanan karena sepenuhnya berada di rumah sakit Mount Elizabeth.
Sebenarnya minggu ini jadwal kerja saya adalah mengikuti rapat pembahasan Naskah Kurikulum di Kemendiknas karena diundang oleh seorang teman. Saya diundang dalam kapasitas sebagai Ketua IGI, katanya.
Saya sudah pesan tiket untuk berangkat Rabu hari ini karena rapatnya pada hari Kamis dan Jum’at. Entah kenapa tiba-tiba saja kemarin pagi teman saya tersebut mengirim SMS memberitahu bahwa ternyata nama saya tidak ada dalam undangan dan ia sangat malu akan hal tersebut. Bagi saya hal tersebut justru sebuah kebetulan yang menyenangkan karena saya tidak terlalu tertarik dengan acara tersebut. Saya sudah bosan melakukan rapat-rapat akademis seperti itu dan biasanya kami cuma jadi stempel saja. Semuanya sudah diatur oleh mereka dan tidak ada masukan berarti yang akan diterima.
(more…)










Recent Comments