Saya dan istri masih menunggui bapak mertua yg baru keluar dari rumah sakit (dan dimasukkan ICU hampir seminggu) di Surabaya ketika ada telpon bahwa anak sulung saya, Yubi, sakit perut sejak pagi dan minta dibawa ke emergency. Kami pikir tidak ada apa-apa karena Yubi tak ada riwayat penyakit apa pun sebelum ini. Kami hanya menganjurkannya utk istirahat dan minta ijin tidak masuk sekolah Tapi karena ia merasa sangat kesakitan dan kami tidak ingin ada masalah dengan kesehatannya maka kami minta ia utk dibawa ke emergency RS Pertamina Balikpapan.
Satu jam kemudian datang kabar bahwa ia harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut karena ada kemungkinan ia terkena usus buntu. Kalau positif maka ia harus segera dioperasi utk mengangkat appendixnya. Jika appendix ini pecah dan infeksi maka akibatnya akan fatal. Kami setujui utk pemeriksaan lebih lanjut dengan menguji darah dan kencingnya.
(more…)
Pencetus Ujian Nasional adalah Jusuf Kalla, ketika beliau masih menjabat sebagai Wakil Presiden. Beliau beranggapan bahwa Ujian Nasional dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
Benarkah UN bisa meningkatkan kualitas pendidikan? Tidak ada studi yang mendukung pendapat tersebut. Jadi pendapat JK itu sekedar pendapat pribadi yang sama sekali tidak punya dasar. Itu jelas-jelas cuma asumsi karena JK juga tidak pernah hasil studi mana pun. Sebuah studi dari Stanford University’s Institute for Research on Education Policy and Practice mengungkapkan bahwa ujian kelulusan ternyata tidak mampu memberikan penilaian tingkat ketrampilan dasar yang adil bagi anak-anak minoritas, kulit berwarna, dan pelajar perempuan.
Berdasarkan studi itu kebijakan UN ternyata lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya utamanya bagi pelajar wanita dan kulit berwarna ‘high school exit-exam policy may be doing more harm than good for the state’s lowest-performing students—especially those who are young women and students of color.’
Penemuan lainnya adalah bahwa ujian kelulusan ini TIDAK MEMOTIVASI anak-anak minoritas, kulit berwarna dan pelajar perempuan. Meski ini adalah kasus di AS tapi ini sebuah hasil studi yang membantah bahwa UNAS akan membuat semua siswa menjadi termotivasi untuk belajar lebih keras.
Anda mungkin masih rancu dan mengidentikkan antara KUALITAS PENDIDIKAN dengan UJIAN NASIONAL. Itu adalah dua hal yang berbeda.
(more…)
“Tiga dari sepuluh tukang ojek di Jakarta adalah sarjana,”

Pangkalan Ojek. padang-today.com
Anda pasti tahu apa itu ‘Tukang Ojek’. Gak mungkin nggak tahulah! Siapa tahu jika Anda seorang sarjana di Jakarta Anda justru salah satu ‘tukang ojek’ tersebut. Hehehe…! Saya baru tahu apa itu ‘tukang ojek’ setelah lulus SMA dan ‘merantau’ ke Lombok. Bukan ‘merantau’ sebenarnya. Cocoknya ya jalan-jalan gitu. Tapi kalau pakai istilah ‘merantau’ kok kayaknya keren gitu lho!
Saya dulu tinggal di Surabaya, di Jalan Darmokali. Sebetulnya dulu daerah ini tidak masuk bagian kota Surabaya dan disebut Wonokromo. Jadi dulu Surabaya dan Wonokromo itu dianggap dua daerah yang terpisah. Padahal Wonokromo itu hanya sebuah wilayah tak seberapa luas dan merupakan terusan dari jalan Raya Darmo, jalan kota paling prestisius dulu (sampai sekarang rasanya). Hanya orang-orang kaya raya yang tinggal di jalan Raya Darmo.
(more…)

Fernando Alonso. Google.com
Saya sedang mengerjakan tugas rutin saya (membuka dan membalas email) ketika Tara, anak bungsu saya muncul di ruang komputer dan berkata,”Pak, Mas Alif nggak masuk sekolah.”. Alif itu sepupunya yang satu sekolah dengannya dan ia biasanya ikut dengan Alif berangkat mau pun pulang sekolah. Kebetulan Alif tinggal satu jalan dan jaraknya hanya beberapa rumah dari rumah kami.
Karena tak ada antaran pagi itu maka mau tak mau saya harus mengantarkan Tara ke sekolah. Komputer kutinggalkan dan segera berkemas. Ketika mobil mulai meluncur kuperhatikan jam penunjuk waktu di dashboard. 7:05.
“Jam berapa sekolahmu masuk, Nak?” tanyaku
“Gak tahu. Jam 7:15 barangkali.” jawabnya tak yakin. Ia tak pernah memperhatikan jam berapa sekolahnya mulai karena ia tidak pernah terlambat masuk sekolah.
“Kenapa Mas Alif gak masuk hari ini? Sakitkah” tanyaku.
“Nggak. Mau bolos aja.” Jawabnya.
“Soalnya semua orang libur jadi dia juga mau libur.” Tambahnya seolah tahu bahwa saya akan menanyakan hal ini.Saya lalu ingat bahwa kakaknya, Yufi, libur hari ini.
(more…)

Ilustrasi. Hardiknas 2011.
Sebuah pesan dari Facebook masuk pagi ini.
Yth Pak Satria Dharma
Pengelola Web ISPI (www.ispi.or.id) akan meminta pendapat tentang hardiknas dan bapak termasuk yang dimohon memberikan pendapat.
Pertanyaannya :
Bagaimana makna Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2011 ini?
Jawaban sebanyak 10-15 kalimat.
mengirim photo yang paling keren.
pendapat akan dimuat di www.ispi.or.id pada tanggal 2 Mei 2011.Terima kasih
Salam ISPI
Deni Kurniawan As’ari
Dan tiba-tiba darah saya tersirap. Tanpa bisa saya cegah saya merasakan amarah dan kesedihan yang menjadi satu. Hari Pendidikan Nasional di tahun 2011 dan apa yang saya rasakan dan pikirkan saat ini…?! Saya menggeleng-gelengkan kepala saya mengusir rasa marah dan sedih yang datang tiba-tiba tersebut.
Bagaimana saya tidak marah dan sedih jika saya dingatkan betapa kacaunya dunia pendidikan kita saat ini. Berita dibanjiri dengan kabar kecurangan UN yang baru saja berlangsung. Salah satu berita yang kuterima di Facebook adalah sbb : (more…)

Ilustrasi. Tenggang Rasa
Apa tepa slira itu…?! Bagi yang tidak mengenal kultur Jawa istilah ‘tepa slira’ paling tepat diterjemahkan menjadi tenggang rasa. Kita menenggang rasa terhadap apa yang diyakini, disikapi, dan dilakukan oleh orang lain.
kalau kita beda, itulah fakta,
bila tidak sama, itupun nyata,
namun dalam beda, kita bisa bersama,
saling tepa-selira, harmoni tercipta.Perbedaan adalah kenyataan yang kita hadapi setiap hari. Tidak ada di dunia ini dua benda yang persis sama, masing-masing pasti memiliki perbedaan. Manusiapun berbeda-beda, terdiri atas berbagai ras, dan tiap-tiap ras memiliki bermacam suku, sukupun memiliki bermacam daerah asal, daerah asal memiliki bermacam keluarga/marga dan seterusnya. Di dalam satu keluargapun memiliki perbedaan, ada yang lebih tua dan yang lebih muda. Demikianlah fakta hidup di dalam dunia ini yang memiliki berbagai macam perbedaan.
Perbedaan antara suami dengan istri bisa menjadi cerita yang sangat panjang, seperti dalam tayangan televisi yang gencar menayangkan perceraian para selebritis. Lebih luas lagi perbedaan antara golongan dapat menjadikan perang saudara, saling mencederai dan bahkan saling membunuh. Mengapa hal demikian terjadi? Semuanya dikarenakan ego masing-masing, entah itu ego pribadi, marga, daerah, golongan dan sebagainya. Sepanjang manusia mementingkan diri sendiri tanpa mau mengerti orang lain, pasti akan bersinggungan kepentingan dengan yang lainnya, kemudian terjadilah saling bertentangan, saling bermusuhan, saling menyakiti satu terhadap yang lain. (more…)

Skiiping School. Ilustrasi. ourfamilynest.com
“ Hai Adul! Kamu tidak sekolahkah…?!” Tanya saya. Saya biasa memanggilnya “Adul” seperti semua tetangga lain (meski kemudian saya baru tahu bahwa ia punya panggilan lain di sekolah).
“Tidak Pak. Saya bolos, Pak.” Jawabnya singkat dan meneruskan pekerjaannya menggores-gores.
Bolos…?! Saya langsung terkesiap. Anak sulung saya paling kerap membolos dulu dan itu membuatnya diganjar tidak naik kelas. Tingkat bolosnya sudah begitu tinggi sehingga bahkan status orang tuanya dan hubungan baik dengan kepala sekolah tetap tidak bisa membantunya untuk naik kelas. Lagipula kami orang tuanya memang tidak berniat untuk ‘membantu’nya naik kelas dengan cara apa pun. Sudah menjadi prinsip kami bahwa setiap anak harus menerima konsekuensi dari tindakannya sendiri. Jika membolos membuatnya tidak bisa naik kelas so be it!
(more…)

Ilustrasi: Keceriaan Anak-anak
Seorang ibu datang ke dokter gigi dan mengeluhkan gigi anaknya yang kropos. Si dokter memeriksa gigi anak tersebut dengan cermat. Ternyata gigi si anak memang kropos. Ada delapan buah gigi si anak yang kropos dan berlubang. Dua diantaranya tidak bisa ditambal karena tinggal separoh.
Ketika si ibu mengeluhkan gigi anaknya dan membela diri bahwa si anak sebenarnya rajin dan teratur menyikat giginya dengan cara menyikat yang benar dan dengan pasta gigi yang berflorida si dokter hanya senyum-senyum saja.
Ketika selesai mengerjakan gigi si anak sang dokter gigi kemudian berkata bahwa masalahnya bukan terletak pada perawatan gigi si anak yang kurang tepat atau pasta gigi yang digunakan kurang berkualitas tapi memang pada kondisi gigi si anak yang memang dari asalnya kurang bagus. Gigi si anak memang buruk kualitasnya karena kurang kalsium. Si ibu kurang asupan kalsiumnya ketika sedang hamil dulu. Jadi masalahnya jauh lebih kompleks. Karena kurang asupan kalsium (dan kemungkinan kurang asupan gizi) ketika hamil maka dampaknya mengenai si anak ketika ia lahir dan beberapa dampak dari kekurangan gizi pada masa kehamilan tersebut akan terbawa sampai si anak lahir dan tumbuh dewasa. Dalam kasus di atas gigi si anak akan bisa cacat permanen. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh si ibu agar gigi anaknya bisa tumbuh sehat dan kuat seperti anak-anak yang memiliki asupan kalsium yang cukup ketika masih dalam kandungan. Apa yang bisa dilakukannya hanyalah menjaga agar kualitas gigi yang ada sekarang tidak semakin merosot karena perawatan yang salah.
(more…)
Alkisah …
Di sebuah perkampungan yang selama ini suasananya aman tentram kerta raharja tiba-tiba terjadi perubahan. Terjadi ketegangan antara para suami dan para istri di kampung tersebut. Suasana yang biasanya romantis dan rukun berubah menjadi tegang dan tidak ada lagi tawa dan canda diantara mereka. Para suami tiba-tiba dimusuhi oleh para istri. Mengapa demikian?
Para ibu ternyata melihat gejala yang aneh dari para suami mereka yang tiba-tiba menjadi lebih genit daripada biasanya. Para suami yang biasanya sarungan setiap pagi dan tidak mandi kalau tidak diteriaki berkali-kali oleh istirnya tiba-tiba sejak pagi sudah mandi bersih dan berpakaian lengkap dengan sisiran yang klimis .Usut punya usut ternyata hal tersebut disebabkan oleh munculnya sebuah perkumpulan eksklusif bernama “Polgam Club” di kampung tetangga yang punya slogan “Why Only One If You Can Get More?”, “God Bless Those Who Allow Husbands.”, “Why Go Illegal If You Can Go Legal?”, dll… dll…
Ringkasnya, para suami menuntut agar mereka juga bisa memperoleh privilege yang diperoleh para anggota “Polgam Club” tersebut.’ Mosok mereka bisa kami tidak bisa?’, demikian kilah mereka. Lagipula berdasarkan statistik jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Entah statistic darimana yang mereka sampaikan. Kami tidak ingin terperosok dalam perzinahan yang semakin lama semakin mewabah. Alangkah baiknya kalau syahwat disalurkan secara syar’i daripada terjerumus, dll… dll… Tentu saja argumen mereka ini dijawab oleh para istri mereka dengan argumen,’Apakah servis kami selama ini kurang memuaskan sehingga perlu tukang servis lain? Satu aja ngak habis-habis kok.’. Dll… dll…
(more…)
Tidak perduli apa pun profesi Anda. Tidak perduli seberapa sulit pekerjaan Anda. Anda punya dua pilihan dalam menghadapinya : Mengeluh atau Mengubah Keadaan.
Anak-anak saya juga sering menggerutu dan mengeluhkan berbagai hal dan karena bosan mendengar keluhan itu-itu juga maka saya menuliskan di sebuah kertas kuarto dan melaminating pesan berikut : “Kita Tidak Mengeluh dan Menggerutu. Kita Mengambil Tindakan dan Mengubah Keadaan.” Jadi setiap kali mereka mulai menggerutu atau mengeluh saya akan bertanya,:”Apakah kamu mengeluh? dan menyuruh mereka untuk membaca kembali pesan yang sudah saya laminating tersebut. It works! Mereka akan berhenti mengeluh meski sering juga mereka membantah,:”Nggak! Aku nggak mengeluh kok! Aku cuma bilang …”
Berikut ini ada cerita yang saya pungut dari milis lain yang mungkin menarik untuk kita jadikan sebagai pertimbangan dlam mengubah sikap kita dalam memandang hidup.
Enjoy!
Salam
Satria
(more…)










Recent Comments