prev next

SIMON DONALDSON DAN NEW ZEALAND YANG PALING ISLAMI

Tanpa banyak diketahui oleh masyarakat ternyata Perdana Mentri New Zealand John Key ternyata sedang berkunjung ke Indonesia selama tiga hari ini. Ada pun misinya adalah untuk mempererat hubungan kenegaraan antara New Zealand dan Indonesia. Agenda utamanya adalah mempererat kerjasama sektor peternakan, energi dan pendidikan.

Di bidang pendidikan New Zealand, yang dihuni oleh lebih banyak biri-biri ketimbang manusia itu, ingin sekali dapat menerima lebih banyak lagi mahasiswa dari Indonesia. Karena dari sisi biaya hidup dan biaya sekolahnya jauh lebih murah. Padahal menurut John Key kualitas pendidikan di Selandia Baru tidak kalah dengan pendidikan di Australia. Saat ini di Selandia Baru hanya terdapat 700 orang mahasiswa Indonesia yang belajar sedangkan yang ke ke Australia berjumlah sekitar 17.000 orang.

Terkait pemanfaatan energi terbarukan, Indonesia dan New Zealand telah menjalin kerja sama di bidang energi geothermal senilai 10,5 juta dollar New Zealand (sekitar Rp 80 miliar) untuk 5 tahun ke depan. Diperkirakan Indonesia memiliki 40 persen cadangan energi panas bumi dunia, sementara Selandia Baru memiliki keunggulan teknologi
(more…)

Tags:
 

Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP) saat menggelar aksi di depan Gedung Mahkama Konustitusi (MK), Jakarta, Rabu (28/12/2011), untuk menyerahkan naskah gugatan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Kompas.Com

Hari ini saya mengikuti sebuah acara yang sangat menarik, yaitu sidang Judicial Review program SBI di Mahkamah Konstitusi (MK). Seperti yang kita ketahui, program ini digugat oleh sekelompok masyarakat yang merasa dirugikan oleh program (R)SBI ini dan menganggap program ini bertentangan dengan UUD 1945. Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP) meminta MK untuk melakukan judicial review terhadap UU Sisdiknas. Permohonan tersebut dilandasi alasan mereka yang menilai adanya sekolah RSBI bertentangan dengan semangat dan kewajiban negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan dualisme sistem pendidikan di Indonesia. Program prestisius pemerintah ini dianggap mendiskriminasi siswa miskin dan hanya diperuntukkkan bagi siswa-siswa kaya. Saya datang mewakili IGI yang masuk sebagai pihak terkait dalam perkara ini. Minggu sebelumnya sidang ini telah berjalan dan IGI diwakili oleh Puti dan Habe untuk mengikuti sidangnya. Menurut agenda saya diminta untuk datang menyampaikan pandangan saya tentang program RSBI ini. Sungguh kebetulan karena dua hari yang lalu saya baru saja datang dari Jogya mengikuti acara Dialog Kebijakan RSBI di Hotel Saphir yang diselenggarakan oleh Puslitjaknov Balitbang. Betul-betul merupakan ‘RSBI Week’ bagi saya. :-D

Kemdikbud sebagai pihak yang digugat kali ini datang dengan ‘full team’ dan dipimpin oleh Prof Dr. Suyanto, Dirjen Mandikdasmen, beserta beberapa direktur seperti Dr. Hamid, Dr Ibrahim Bafadal, Dr. Didik Suhardi, Dr. Andi Pangeran, Dr. Ana Erliana, Dr. Hendarman Anwar, dll. Saksi ahli yang diminta untuk hadir membela Kemdikbud yang terdiri atas Prof Slamet, Dr. Indra Djati Sidi, Dr. Udin S. Winata, Prof. Zamroni, dan Dr. Ibrahim Musa. Selain mereka hadir juga tim saksi dari para kepala sekolah dan guru RSBI. Pokoknya ini adalah ‘gelar perang’ yang menggetarkan dari Kemdikbud. So powerful…! :-D

Di pihak penggugat hadir Bambang Wisudo, mantan wartawan Kompas, Lody F. Paat, dll yang saya tidak kenal. IGI hadir dengan tiga orang yaitu Bu Itje, Puti dan saya sendiri.
(more…)

DIALOG KEBIJAKAN RSBI

Kemarin (9/4/12) seharian penuh saya mengikuti acara Dialog Kebijakan RSBI yang diadakan oleh Puslitjaknov Balitbang di Hotel Saphir, Jogyakarta. Sebetulnya pemrakarsanya bukan Balitbang tapi konsorsium ACDP Indonesia Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership di mana European Union, AUSAID dan ADB ikut sebagai donornya.

Adapun tujuan dari acara ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang ketercapaian program RSBI dalam rangka mencari strategi pelaksanaan program RSBI secara lebih efektif dan akuntabel bagi peningkatan mutu pendidikan. Peserta dialog ini adalah para kepala RSBI, yaitu : SMAN 3 Jogya, SMPN 5 Jogya, SMAN 70 Jakarta, SMA Sutomo Medan, SMPN 1 Surabaya, dan Dr Aos Santosa, pakar dari FKIP Unram. Saya diundang nampaknya dalam kapasitas sebagai salah seorang pengritik keras program (R)SBI.

Acara dibuka langsung oleh Kabalitbang baru, Prof Dr. Khairil Notodipuro, yang dalam sambutannya menyuarakan kembali ucapan Mendikbud yang menjadi landasan mengapa sekolah RSBI harus ada, ”Apa yang salah jika kita ingin memiliki sekolah yang bagus?”. “Tidak ada yang salah,” jawab saya dalam hati, “kecuali bahwa konsep ‘sekolah yang bagus’ itu ternyata salah kaprah”. Tapi tentu saja saya tidak menyampaikan hal ini pada beliau dan hanya saya sampaikan dalam diskusi.
(more…)

Tags:
 

MISTER BIG, Tetangga Kursi Saya

Saya sedang dalam perjalanan dari Surabaya ke Jogya dengan Batavia dan duduk di kursi emergency di bagian aisle (lorong). Ini memang kursi favorit saya karena ruang kakinya lebih luas dan saya bisa ke toilet dengan bebas sewaktu-waktu tanpa mengganggu penumpang lain. Jadi setiap kali check-in saya memang selalu minta kursi emergency di bagian lorong. Kalau tidak dapat kursi emergency – karena datang check-in pas waktu – maka saya tetap minta di bagian aisle (bacanya ‘aiel’) meski pun di kursi paling belakang. Kalau lagi apes maka saya dapat kursi di tengah diapit penumpang lain. I hate middle seat. Kursi paling nyaman, sebetulnya, tentu saja di bagian tengah diapit dua pramugari cantik dan ramah beraroma wangi. Tapi tak ada kursi seperti itu. Jadi lupakan saja impian tersebut. :-D

Semestinya saya bisa menikmati perjalanan saya ke Jogya ini karena saya sudah menyiapkan bacaan saya yg belum selesai “Making Globalization Work”. Saya bahkan merasa semakin akrab dg Stiglitz.
Tapi duduk di sebelah saya adalah seorang penumpang bertubuh tambun yg saya namai saja Mister Big. Mister Big ini dengan santainya melesakkan tubuhnya ke kursinya dan meletakkan ke dua lengannya yg besarnya seperti ular Anaconda dewasa ke pembatas kursi sepenuhnya. Walhasil tubuhnya melimpah ke kursi kiri dan kanannya dan mendesak dua penumpang lainnya utk menyesuaikan diri dengan limpahan tubuh dan lengannya. Saya sampai duduk miring kena spleteran tubuhnya.

Setelah itu ia langsung jatuh tertidur. Zzzzzz….! Waks…!
(more…)

Tags:
 

MAKING GLOBALIZATION WORK

Bacaan saya kali ini adalah sebuah buku terbitan Mizan setebal 472 halaman dengan judul yang menarik “Making Globalization Work” (Bagaimana Menyiasati Globalisasi Menuju Dunia yang Lebih Adil). Sebenarnya saya agak ragu-ragu untuk membeli buku ini. Pertama, penulisnya adalah Joseph E. Stiglitz. Stiglitz, professor di Columbia University, adalah ekonom top dari Amerika Serikat yang pernah meraih penghargaan Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 2001. Selain itu Stiglitz juga pernah menjadi Senior Vice President and Chief Economist dari Bank Dunia. Agak grogi saya jika harus membaca pemikiran seorang peraih nobel lha wong pengetahuan saya tentang ekonomi makro dapatnya dari mungut sana-sini. Kedua, tebalnya itu lho! Quite intimidating. Kalau itu novel sih nggak apa-apa. Tapi kalau mesti membaca pemikiran seorang professor peraih nobel setebal itu apa nggak berasap kepala saya nanti?!

Tapi akhirnya buku ini saya tarik juga sambil merem. Kalau ternyata isinya terlalu berat toh bisa saya lemparkan saja. Tapi alasan utamanya adalah bahwa karena buku ini sedang diobral di toko buku Uranus. Buku yang ditulis pada tahun 2006 dan dicetak oleh Mizan pada tahun 2007 ini sedang diobral dan harganya setelah dibanting cuma 15 ribu rupiah. Lima belas ribu rupiah untuk sebuah karya pemenang nobel?! Sungguh menggoda! Lagipula judulnya adalah tentang globalisasi yang memang menarik minat saya. Selama ini saya selalu memandang globalisasi dengan perasaan mendua. Di satu sisi saya sadar bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang tak terelakkan. Kita tidak bisa hidup di dunia modern tanpa menerima fakta tentang globalisasi ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, globalisasi ada di depan mata kita dan kita hidup di dalamnya. Tapi di sisi lain saya juga sadar bahwa sebenarnya globalisasi ini ‘mainan’nya negara maju dan bukan untuk negara dunia ketiga macam Indonesia. Akibatnya kita dijadikan bulan-bulanan oleh negara maju seperti ketika kita digunduli 0 -10 dalam sepakbola. Walhasil kita dibanjiri oleh produk asing dan industri kita sendiri tidak pernah tumbuh. Kita jadi konsumen terus dan tidak pernah bisa jadi pemain globalisasi.

Globalisasi sendiri mencakup berbagai hal : aliran gagasan dan pengetahuan secara internasional, pemahaman budaya, kesadaran lingkungan secara global, aliran jasa dan barang antar-negara, modal dan bahkan tenaga kerja. Jadi pengiriman TKW adalah buah dari globalisasi. Hrapan besar dari globalisasi adalah peningkatan taraf hidup seluruh masyarakat di dunia agar dengan demikian produk dari negara miskin bisa masuk ke seluruh dunia dan mereka bisa belajar ke negara maju.
(more…)

Tags:
 

Sabtu pagi kemarin Mas Nanang, Habe dan saya meluncur ke Bandung utk menghadiri Pidato Ilmiah dalam acara pengukuhan guru besar Prof Iwan Pranoto di ITB. Kami diundang khusus oleh Mas Iwan utk hadir dan tentu saja ini sebuah kehormatan buat kami utk menghadirinya. Sangat jarang ada profesor yg mengundang saya pada pengukuhannya. Utamanya karena teman saya yg naik jadi profesor juga jarang lagipula teman-teman yg sudah profesor juga mungkin tidak pernah berpikir utk mengundang saya pada pengukuhan mereka. Olaopo…?!

Mas Iwan ini teman yg unik. Meski ia ilmuwan matematika tulen (dan juga sudah sama botaknya dengan saya) tapi ia teman yg asyik diajak ngobrol berbagai hal. Sebagai matematikawan ia samasekali tidak membosankan karena prinsipnya matematika itu sebenarnya bukan hanya bicara soal fungsi tapi juga bicara soal estetika. Bicara soal estetika maka jelas matematika itu kesenangan (leisure). Haah…?! Math is leisure…?! Yang bener aja bos…! Kalau ‘math is also leisure’ maka anak-anak Indonesia yg getol banget main game tentulah akan menyukai matematika. Faktanya…?!

“Justru itu”, katanya. “Kesenangan (leisure) sudah menghilang dari Matematika sehingga ia justru menjadi monster kini”.
Dan berceritalah ia dengan asyiknya tentang kesenangan dalam matematika dan saya tenggelam dalam angan-angan saya utk memfotokopi dirinya utk saya sebarkan ke mana-mana. I wish I could copy him as many as possible…
(more…)

Tags:
 

HOT, FLAT, and CROWDED (Part 3)

Saya tiba pada Bab 3 tentang China.

Bicara tentang dunia global maka China adalah faktor yang sangat penting. China adalah raksasa dalam segala ukuran. Satu dari lima penduduk dunia adalah warga China. China adalah penyumbang emisi karbon terbesar dunia. China adalah pengimpor terbesar di dunia untuk nikel, tembaga, batubara, alumunium, baja, dan bijih besi. Bahkan ada kisah ketika China membutuhkan besi dan baja dalam jumlah besar dari seluruh dunia maka penutup gorong-gorong got di hampir semua kota besar dunia tiba-tiba banyak yang hilang karena dicuri untuk dicor ulang dan dikapalkan ke China. Sedemikian kencangnya daya sedot China pada semua sumber daya untuk membangun. Ekonomi global kini benar-benar bergantung pada China. Bahkan ada yang berkata: Kalau China habis, maka habis pula planet bumi.

Ketika saya berkunjung ke Beijing, Shanghai, dan Hongkong pada tahun 2006 saya melongo melihat betapa China samasekali tidak seperti yang saya perkirakan. China jauh lebih modern daripada yang saya bayangkan. China tumbuh dengan kecepatan yang luar biasa sehingga ketika saya berada di atas sebuah jalan tol yang bertingkat tiga saya melihat sekeliling dengan ternganga. Yang nampak hanyalah hutan pencakar langit, kemana pun saya mengarahkan pandangan saya. Jakarta yang bagi orang Balikpapan seperti saya adalah kota metropolis is nothing compared to Beijing, apalagi dengan Shanghai dan Hongkong. Ada tiga juta mobil yang menyesaki jalanan kota Beijing dengan pertambahan seribu mobil SETIAP HARI….! Tapi tak ada motor yang berkeliaran di jalan-jalan kota. Bandingkan dengan Jakarta yang telah dikuasai oleh motor sampai di segala sudut.
(more…)

Tags:
 

The Wrong and Uneccesary Battle

Pagi ini saya menunggu-nunggu berita tentang apakah benar-benar akan ada demo besar-besaran tentang penolakan kenaikan harga BBM di mana-mana atau ternyata itu akan kempes seperti yang sudah-sudah. Sudah seminggu ini saya tidak ‘punya’ TV dan kami memang tidak berlangganan koran. TV berlangganan saya koit dan entah mengapa pengurusannya berlarut-larut. Tapi saya sendiri memang jarang nonton TV sehingga tidak terlalu merasa kehilangan. Kami juga tidak berlangganan koran lokal sedangkan Kompas sudah berhenti karena pengantarnya tidak mau lagi mengantarkan satu-satunya pelanggan yang berlangganan Kompas di daerah saya. Waks…!

Saya sungguh berharap agar demo ini tidak perlu terjadi. Tidak perlu terjadi ‘perang’ antara pemerintah dan masyarakat soal kenaikan harga BBM ini. Ini ‘perang’ yang salah dan tidak perlu.

Jika benar akan terjadi demo besar-besaran yang saya baca memang sengaja dimobilisasi oleh partai politik tertentu maka saya tentu akan sangat prihatin. Betapa tidak, harga BBM di Indonesia adalah yang paling murah ke tujuh di dunia. Sebagai perbandingan, harga BBM di China Rp.12.000,-, di Vietnam Rp.11.000,-, di India Rp12.000,- (sama dengan di Filipina), di Singapura Rp.16.000,-, Malaysia Rp. 6.000,-. Padahal Indonesia adalah importir bahan bakar dengan kebutuhan yang semakin meningkat. Sebagai gambaran, dengan tingkat produksi minyak sekitar 900 ribu barel per hari, kebutuhan minyak/BBM Indonesia mencapai 1,3 juta per hari, sehingga setiap hari Indonesia harus mengimpor setidaknya 400 ribu barel minyak/BBM. Bayangkan berapa banyak yang harus disubsidi jika rakyat Indonesia tetap bertahan ingin disubsidi dengan harga BBM tetap di Rp.4.500,-.
(more…)

Tags:
 

HOT, FLAT, and CROWDED (Part 2)

Pagi ini saya membaca lagi buku Friedman “HOT, FLAT, and CROWDED” dan sampai pada dua kisah menarik. Kisah menarik pertama adalah tentang bagaimana tentara Amerika yang sedang berperang di Iraq memecahkan masalah keamanan transportasi bahan bakar bagi pos-pos tentaranya yang tersebar. Kebutuhan transportasi bahan bakar bagi pos-pos tersebut (terutama karena harus berpendingin udara di tengah terik matahari yang panasnya bisa mencapai hampir 50 derajat Celsius) membuat mereka rentan diserang bom dan granat peluncur ketika mengirim bahan bakar ke setiap pos-pos tersebut . Pemecahan masalah yang mereka pilih adalah dengan menjadi ‘lebih hijau’. Pada akhirnya membuat mereka menemukan cara cerdas yang bukan hanya membuat tentara Amerika lebih aman dari serangan bom, mengurangi konvoi bahan bakar, menghemat uang dari penghematan bahan bakar, dan malah masih kelebihan listrik yang bisa dibagikan kepada penduduk sekitar. Sebuah cara cerdas yang ditemukan karena upaya untuk memecahkan masalah dengan perspektif baru, yaitu menjadi ‘lebih hijau’ dari seragam mereka.

Kisah kedua adalah bagaimana kota New York berubah menjadi lebih nyaman dan lebih sehat. Dan itu dimulai dengan upaya untuk membuat armada taksi New York menjadi lebih sehat dan tidak beracun dengan mencoba mengganti mobil Ford Crown Victoria yang sangat rakus bahan bakar dengan jarak tempuh hanya 4 km/liter dengan mobil hibrida.
(more…)

Tags:
 

HOT, FLAT, and CROWDED

Sampai pagi ini saya masih membaca bukunya Thomas Friedman “HOT,FLAT, and CROWDED”. Buku ini begitu menarik sehingga membuat saya tidak ingin segera menamatkannya. Saya seolah ditarik ke dalam sebuah petualangan global yang berupa fakta-fakta tentang bumi yang kita tinggali ini yang sebelum ini saya ketahui hanya kulit-kulitnya dan kemudian diminta untuk bertualang sendiri ke dalamnya.

Tapi sebenarnya buku ini memang bukan seperti novel yang meski menarik membuat kita terus membacanya sampai habis. Buku ini membuat saya harus berhenti setiap dua atau tiga halaman untuk sekedar menarik nafas panjang untuk mencerna gempuran fakta yang disuguhkan oleh Friedman. Faktanya saya memang harus berhenti setiap dua atau tiga halaman karena pemaparan yang disampaikannya benar-benar membuat saya sesak nafas dan tidak mampu untuk meneruskannya. Pada beberapa halaman saya juga harus berhenti untuk mencerna dan BENAR-BENAR MEMAHAMI PESAN yang disampaikan oleh Friedman dalam bukunya yang dianggap sebagai karya terbaiknya. Buku ini “Berani, tajam, memandang jauh ke depan dan kaya akan fakta-fakta mengejutkan tentang dunia yang saat ini kita huni”. Apa yang ditulisnya benar-benar mengejutkan saya dan membuat saya harus menarik nafas dan menenangkan pikiran di setiap dua atau tiga halaman yang ditulisnya. It’s a shocking book!

Meski buku ini ditulis dengan pesan dan kritik pedas kepada Amerika Serikat, negaranya sendiri, yang dianggapnya tidak cukup berupaya untuk mengambil kepemimpinan dalam revolusi hijau untuk memperbarui masa depan global manusia, saya justru merasa bahwa Friedman sedang berbicara dan menohok keras kepada Indonesia, Dan itu yang membuat saya harus sering-sering menahan nafas dan tidak mampu meneruskan membaca. Saya harus sering-sering menenangkan diri sebelum melanjutkan membaca lagi.
(more…)

Tags: