prev next

Dialog Imajiner antara Muslim dan David

Sebuah dialog imajiner antara seorang bernama ‘Muslim’ dan ‘David’ muncul di beberapa milis yg saya ikuti seperti ini.

Muslim : Bagaimana natalmu ?
David : Baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku ?
Muslim : Tidak, agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu, tapi masalah ini, agama saya melarangnya..
David : Tapi kenapa, bukankah hanya sekedar kata2 ? Teman muslimku yg lain, mengucapkannya padaku ?
Muslim : Mungkin mereka belum mengetahuinya… David, kau bisa mengucapkan dua kalimat syahadat ?
David : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya… Itu akan mengganggu kepercayaan saya…
Muslim : kenapa ? Bukankah hanya kata2 ? Ayo, ucapkanlah ;)
David : sekarang, saya mengerti.. ;)

Saya tercengang membaca dialog ini. Jelas bahwa si pembuat dialog ingin menyampaikan bhw bagi seorang muslim mengucapkan ‘Selamat Natal’ sama dengan mengucapkan syahadat dalam Islam…! Bagaimana mungkin ia sesembrono itu?

Pengharaman ucapan selamat natal jelas merupakan masalah khilafiah. Ada ulama yg melarang tapi ada ulama lain yg justru menganjurkan. Salah satunya adalah Syeh Qaradhawi. Beliau menganggap mengucapkan selamat merayakan Natal adalah perbuatan muamalah yg baik utk mempererat hubungan baik dg umat Nasrani. Beliau tidak menganggap ini sebagai bagian dari akidah melainkan muamalah yg baik utk dilakukan.
(more…)

Tags:
 

The Magic of Love

Me and my wifeBeberapa waktu yg lalu saya sedang meluncur santai di jalanan yg tidak begitu padat ketika mendengar Ustad Hasan Firdaus memberikan ceramah di Radio IDC, radionya masjid Istiqamah Balikpapan. “Menikahi orang yg kita cintai itu biasa. Tetapi tetap mencintai orang yg telah kita nikahi itu yang luar biasa. Dan jika kita mampu tetap mencintai orang yg kita nikahi selama belasan atau puluhan tahun maka itu keajaiban.” Dan saya pun terkekeh. Bisa-bisa aja Ustad Hasan itu…!

Saya telah menikah hampir dua puluh tahun dan sampai detik ini masih tetap mencintai istri saya dengan kualitas dan kuantitas cinta yang tidak berkurang sedikit pun. Begitu juga sebaliknya.

Jadi ini sebuah keajaiban seperti kata Ustad Hasan.
(more…)

Tags:
 

RAPORT ANAKKU

Yubi Karena punya anak tiga masih sekolah semua maka kadang-kadang saya harus ke sekolah untuk mengambil raport mereka. Kadang ada sekolah dan masa ketika raport diberikan langsung pada siswanya. Tapi kadang-kadang mereka meminta orang tua yang harus mengambil dan tidak boleh diwakilkan. Ke tiga anak saya bersekolah di tempat yang berbeda-beda. Yubi di SMA Patra Darma Pertamina, Yufi di SMP Istiqomah, dan Tara di Lukman Al-Hakim. Meski demikian para guru mereka hampir mengenal saya semua. Saya pernah menjadi Ketua Komite Sekolah di Istiqomah dan saya termasuk salah seorang pendiri awal Luqman Al-Hakim. Di Patra Darma saya kenal baik dengan kaseknya karena saya pernah jadi ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan.

Raportan kali ini saya kebetulan sedang berada di Balikpapan sehingga saya sempatkan untuk datang sendiri. Biasanya kami bagi tugas kalau waktu terima raportnya bersamaan. Saya ke sekolah ini dan istri saya ke sekolah yang lain. Tapi karena kali ini hanya Yubi yang terima raport maka saya sendiri yang datang. Kebetulan juga istri saya mengurus perpanjangan STNK (yang atas namanya) sehingga saya datang sendirian ke Patra Darma. Itu pun baru diberitahu olehnya ketika ia tahu bahwa raport harus diambil oleh orang tua. Jadi saya segera meluncur ke sekolahnya.

Prinsip saya kalau terima raport adalah ‘stay quiet and let the teacher say as much as possible’, saya akan diam saja dan biar wali kelasnya yang bicara tentang anak saya. Saya akan cuma mendengarkan dengan khidmat dan tidak akan membantah apa pun kata gurunya. Saya juga tidak akan pernah menanyakan bagaimana ‘posisi’ anak saya di kelas. Bagi saya masalah akademik anak saya bukan sesuatu yang perlu saya diskusikan dengan wali kelasnya. Saya memang tidak seberapa perduli dengan nilai raport anak-anak saya. Jadi masalah ranking atau peringkat anak saya di sekolah bukan hal yang perlu saya ketahui. Perkara anak saya mau berprestasi di sekolah atau berprestasi di bidang pelajaran tertentu sepenuhnya saya serahkan pada mereka sendiri. Saya hanya perduli pada seberapa bahagia mereka di sekolah. Kalau mereka berangkat ke sekolah dengan riang gembira dan pulangnya juga riang gembira maka saya anggap it’s more than enough.
(more…)

BERAPA LAMA MENULIS BUKU SEPERTI INI…?


‘Tebalnya…! Berapa lama menulis buku seperti ini…?!”

Demikian komentar dari seorang kerabat ketika saya beri buku saya “For the Love of Reading and Writing” yang tebalnya memang hampir mencapai 500 halaman tersebut. Apalagi buku itu ditulis dengan huruf yang kecil dan rapat sehingga lebih nampak padat. Mungkin ia mengira saya harus menghabiskan waktu berbulan-bulan ‘ngebleng’ menulis buku setebal itu. Padahal buku itu hanyalah kumpulan artikel yang dalam blog dan web pribadi saya yang saya cetak dalam bentuk buku. Itu juga belum semua artikel karena setelah saya periksa masih ada beberapa artikel sekitar seratusan halaman lebih yang belum masuk dalam buku tersebut. Kalau saya kumpulkan bersama tulisan-tulisan baru saya maka sebetulnya saya sudah siap untuk menerbitkan lagi sebuah buku setebal separoh dari buku pertama.

Tapi buku saya yang tebal tersebut memang terasa ‘fenomenal’. Pertama memang karena tebalnya dan dicetak dengan hard-cover. Kedua, karena saya memang bukan seorang ‘penulis buku’, meski buku itu memang bukan buku pertama saya. Sebelumnya saya sudah pernah menulis beberapa buku, baik itu buku diktat bagi siswa-siswa saya belajar bahasa Inggris maupun buku kumpulan artikel yang ditulis secara kolaboratif dengan teman lain. Tapi saya memang bukan seorang penulis buku. Saya hanya menulis artikel sesekali dan dimuat di koran lokal seperti Kaltim Pos dan Jawa Pos. Tulisan saya hanya pernah sekali dimuat di koran Kompas. Tapi that’s all. Saya tidak tertarik untuk terus menulis di media

Lalu bagaimana saya tiba-tiba menjadi seorang ‘penulis buku’…?!
Barangkali itu karena faktor kebetulan. (more…)

Tags:
 

Engkau Lebih Tahu Urusan Duniamu…

Syahdan…

Suatu ketika Rasulullah mendapati penduduk Madinah sedang mengawinkan benih kurma dengan penyerbukan. Melihat ini Rasulullah lalu mengomentari apa yang dilakukan oleh penduduk Madinah tersebut dan bertanya mengapa benih kurma itu mesti dikawinkan segala. Mengapa tidak dibiarkan begitu saja secara alamiah. Penduduk Madinah yang petani kurma itu sangat menghormati Nabi Muhammad sebagai pemimpin panutannya. Ia lalu mengikuti saran Rasulullah dan berhenti mengawinkan kurmanya. Kemudian ternyata produksi kurmanya menurun karenanya.

Panennya berkurang karena mengikuti saran Rasulullah. Para petani kurma kemudian melaporkan panen kurma yang menurun itu kepada Rasulullah. Rasulullah kemudian sadar akan keterbatasan pengetahuannya tentang menanam kurma. Maka keluarlah sabda Rasulullah: Wa Antum A’lamu biAmri Dunya-kum, kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu. http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg00446.html

Apa artinya ini?

Ketika Nabi saw memberikan nasihat tentang cara mengawinkan pohon kurma supaya berbuah, ini bisa dianggap bahwa beliau sudah memasukkan otoritas agama untuk urusan duniawi yang di mana beliau tidak mendapatkan wahyu atau kewenangan untuk itu. Untuk manusia setingkat Nabi apa pun perkataannya, sikapnya, dan bahkan diamnya pun bisa dianggap sebagai hukum, aturan, dan ketentuan. Tapi ternyata dalam masalah menanam kurma ini pendapat beliau keliru. Pohon kurma itu malah menjadi mandul. Maka para petani kurma itu mengadu lagi kepada Nabi saw, meminta pertanggungjawaban beliau. Dan beliau menyadari kesalahan advisnya waktu itu dan dengan rendah hati berkata, “Kalau itu berkaitan dengan urusan agama ikutilah aku, tapi kalau itu berkaitan dengan urusan dunia kamu, maka “Antum a’lamu bi umuri dunyaakum” kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu. Rasulullah mengakui keterbatasannya. Rasulullah bukanlah penentu untuk segala hal. Rasul bukanlah orang yang paling tahu untuk segala hal. Bahkan untuk urusan dunia di jaman beliau pun beliau bukanlah orang yang paling tahu. Jadi tidak mungkin jika kita menuntut Rasulullah untuk mengetahui segala sesuatu hal tentang urusan dunia. Apalagi kalau mengurusi urusan kita di jaman modern ini…! Tentu tidak mungkin kita harus mencari-cari semua aturan tetek-bengek dalam hadist beliau. Itu namanya set-back. Lha wong di jamannya saja Rasulullah menyatakan bahwa ada hal-hal yang tidak beliau pahami dan hendaknya tidak mengikuti pendapat beliau dalam ‘urusan duniamu’ tersebut.
(more…)

 

SIDAK BB

Singapore, June, 2010

Dokumentasi, Singapore, June, 2010

“Terima kasih, Yang, sudah mempercayaiku.” Demikian tiba-tiba istri saya berkata sambil mencium pipi saya dengan mesra. Saya sejenak terpana dan bertanya-tanya dalam hati untuk apa ciuman dan ucapan terima kasih tersebut. Setelah sadar barulah saya paham bahwa ia rupanya berterima kasih karena saya tidak pernah memeriksa telpon genggamnya atau pun ingin tahu dengan siapa ia berhubungan dengan BB-nya selama ini. Waks…! :-D

Kami memang baru saja membicarakan ttg seorang kerabat yg harus sering menghapus pesan di BB-nya karena suaminya sering ‘sidak’ ke BB-nya dan marah kalau menemukan ada hal-hal yg tidak berkenan di hatinya. Ia memang tidak bebas berkomunikasi dengan siapa saja dan kapan saja seperti istri saya. Kami jadi kasihan padanya dan sering menjadikan hal tersebut sebagai olok-olok. Kami memang memandang hal yg dilakukan oleh suaminya tersebut berlebihan.
Sebaliknya, saya bahkan tidak pernah bertanya siapa saja teman-teman yg berhubungan dengan istri saya dan urusan apa. Istri saya punya urusan pribadi dan saya juga punya urusan pribadi yg tidak perlu harus dilaporkan satu sama lain. Dan saya memang menjaganya agar tetap demikian.
(more…)

Tags:
 

Spice Your Life Up

Ilustrasi. facebook.com

Hidup yg datar, monoton, dan begitu-begitu saja tentu sangat membosankan. Tidak perduli apakah kita ada di atas, di tengah, atau di bawah. Dinamika hidup itu perlu. Bayangkan detak jantung yg rata begitu saja di monitor kontrol. Kalau penunjuknya sudah datar lurus saja berarti pemiliknya sudah almarhum tentu saja. :-D

Seorang teman pernah bercerita bahwa ia mengenal seseorang yg kaya raya (karena warisan dr ortunya) tapi hidupnya begitu membosankan. Ia tinggal di rumah besar bak istana dengan beberapa pembantu plus sopir. Tapi sehari-hari kerjanya cuma tidur dan main game. Sesekali ia belanja keperluan hidup di mall dekat rumahnya. Ia sering mengeluh kalau belanja terlalu banyak. Padahal pembantunya kan juga perlu makan ikut dia. Sisa hidupnya ya main game di komputer dan tidur. Sungguh membosankan meski pun hanya mendengarnya. Lha kekayaannya untuk apa ya? Orang seperti ini sebetulnya tidak perlu memiliki banyak harta lha wong hidupnya nyaris vegetatif gitu!

Hidup kita itu sebenarnya didorong oleh gairah kita dalam menjalaninya. Kalau kita sedang tidak punya gairah maka apa pun kesenangan dunia yg ‘gemletak’ di sekitar kita tidak akan ada artinya. Betapa pun cantik dan seksinya istri kita kalau sedang tidak berghoiroh ya akan nampak seperti manekin saja. Jadi jangan heran kalau ada pasangan suami istri yg sehari-hari mengisi kebersamaan mereka dengan bertengkar. Mungkin itu semacam usaha utk menghidupkan kembali ‘ghoiroh’ dalam perkawinan mereka. :-D
(more…)

 

Ikrar Siswa Jujur : Persoalan Siswa atau Guru?

Ilustrasi. rumahlutfi.wordpress.com

Sebuah posting dari Mas Syamsul ‘Hadir&Mengalir’ Hadi ke milis Surabaya Jujur kemarin (5/12/11) menarik perhatian diskusi. Posting itu menanggapi tentang adanya ‘Ikrar Siswa Jujur’ di Surabaya pada hari sebelumnya (4/12/11). Pertanyaan Mas Syamsul sendiri memang menggugah. Berikut ini postingnya dan diskusi yg berlanjut.

“Pagi ini harian Jawa Pos memuat berita tentang ikrar siswa jujur dalam ujian.
Ikrar tersebut dilakukan oleh 1.150 siswa SD dan MI se-surabaya barat, disela-sela tryout UASBN.
Ikrar tersebut dilanjutkan dg pembubuhan tandatangan diatas banner.

Pertanyaannya, mengapa perlu ada ikrar untuk anak2 SD ini?
(more…)

Tags:
 

Harga Kaget

Ilustrasi. blogspot.com

Sebagai warga Balikpapan (kota yg terkenal mahal) saya sering terkaget-kaget dengan harga makanan di Jawa. Sebagai contoh, saya kemarin iseng-iseng mencegat penjual bakmi dorong yg lewat di depan rumah mertua saya di Rungkut Surabaya. Meski tahu bahwa rasanya pasti di bawah standar Mie Tokyo langganan saya tapi saya pikir bolehlah sesekali makan mie ‘ecek-ecek’.

Saya perhatikan penjualnya masih sangat muda. Seperti pemuda yg baru saja lepas dari masa remajanya. Wajahnya bersih dan tampangnya lugu. Saya langsung merasa simpati padanya. Anak ini mau bersusah payah jualan mie dorong utk membangun kehidupannya. Ia memilih jualan dan tidak larut dalam kehidupan pengangguran kebanyakan pemuda putus sekolah yg cuma nongkrong-nongkrong saja di pinggir jalan. Saya selalu ‘jatuh hati’ pada anak-anak muda seperti ini. Minimal mereka telah mengambil keputusan penting untuk menjadi sesuatu dalam hidup ketimbang jadi pengangguran tak jelas yang lama-lama jadi parasit. Kapan hari saya bertemu dengan seorang remaja berusia 17 tahunan yg jualan pukis di pinggir jalan hanya dengan berbekal gerobak sangat mungil. Namanya Hanafi. Saya langsung ingat anak saya yg seusia dengannya. Anak saya sungguh beruntung punya orang tua yg bisa terus membiayai sekolahnya sehingga tidak harus jualan pukis di pinggir jalan. Apa jadinya jika kita tidak mampu lagi membiayai sekolah anak kita pada usia tersebut? Apakah kita akan mendorong mereka utk melakukan pekerjaan apa saja utk bisa hidup agar tidak jadi pengangguran yg menyedihkan? Pengangguran bisa mendorong anak-anak muda utk terjerembab dalam tindak kriminal. Dan itu jauh lebih menyedihkan. Itu sebabnya saya selalu angkat topi pada anak-anak muda yg mau bekerja apa saja utk bisa hidup dan tidak jadi pengangguran. Rasa hormat dan kagum saya yang tinggi utk mereka para pekerja belia (anak-anak yg tidak beruntung memiliki orang tua yg mampu membiayai pendidikan mereka lebih lanjut).

Mie pesanan saya ternyata porsinya cukup besar utk ukuran saya (dan terpaksa tidak bisa saya habiskan) dan cukup lengkap isinya. Selain mie juga ada sayuran sawi, siomay, potongan ayam, dan gorengan. Semua yg reguler di resto Chinese food ada juga di situ. Saya perhatikan bahwa pengerjaannya juga butuh waktu lumayan lama. Tentu saja berbeda dengan menu pecel yg tinggal ambil dan masukkan ke piring. Mie ayam perlu direbus dalam jangka waktu tertentu sebelum bisa disajikan.
(more…)

 

Berpikir “Gek Ngene Gek Ngono”

Ilustrasi. wordpress.com

Pagi ini sebuah posting menarik dilempar masuk oleh Mas Ihsan ke milis IGI. Begini bunyinya :

Status fesbuk saya pagi ini:

Mas ihksan saya kepsek SMK N ***, Ketua MKKS SMK se ***, di *** belum masuk IGI, bagaimana cara saya gabung dgn IGI sekaligus buka cabang IGI di ***. Info : anggotaku MKKS SMK sebanyak 32 Kepsek…. Apa nanti PGRI tdk protes jika saya gabung IGI?

Apa yg menarik? Ternyata seorang kepala sekolah sekaligus Ketua MKKS kuatir jika ‘dimarahi’ oleh PGRI jika bergabung dg organisasi lain…!:-D

Hal ini menunjukkan paling tidak dua hal. Pertama, sang kasek ini menganggap PGRI sebagai ‘atasan’ tidak langsung yg punya hak untuk menghardik atau mengancamnya. Pokoknya PGRI adalah semacam organisasi yg bisa menekan dan memaksa mereka utk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kedua, ini menunjukkan bahwa para guru dan bahkan kepala sekolah belum memiliki kemandirian dalam berpikir, bersikap dan bertindak dalam pengembangan profesi mereka.

Apakah PGRI memang berprilaku menekan dan mengintimidasi para guru dan kepala sekolah? Tidak jelas benar tapi banyak laporan dari guru-guru di setiap daerah di mana IGI ingin didirikan yg menyatakan demikian. Mereka ditekan, diancam dan diintimidasi agar tidak masuk IGI atau bahkan utk mengikuti kegiatan seminar dan pelatihan IGI. Entah apa yg ada di benak para oknum yg melancarkan ancaman dan intimidasi ini tapi itu sungguh sikap dan prilaku yg tidak layak dilakukan, utamanya di jaman (pasca) reformasi seperti ini.

Sikap-sikap hegemonik, mengancam, menindas, menakut-nakuti adalah prilaku Orde Baru yg sangat ketinggalan jaman dan layak ditendang ke jurang agar tidak muncul-muncul lagi.
(more…)

Tags: