Mencium tangan seseorang adalah tanda hormat kepada yg dicium tangannya. Ini bisa kita lihat pada kebiasaan para santri jika bertemu dg guru atau kyainya. Jadi jangan heran jika Anda melihat seorang pejabat yg perlente begitu bertemu dg seorang kyai bukan hanya menyalaminya tapi sekaligus mencium tangannya. Itu karena adanya kedekatan hubungan antara keduanya, di mana yg dicium tangannya biasanya adalah guru yg sangat dihormati. Kita mencium tangan seseorang karena sangat menghormatinya. Saya sendiri selalu berupaya utk mencium tangan ayah, almarhum ibu saya (dan salah seorang tante saya) karena rasa hormat dan cinta kepada mereka ketika bertemu. Meski demikian tak satu pun rasanya ada guru, kyai, atau siapa selain mereka pun yg saya perlakukan demikian hormat.
Siapakah orang yg paling patut utk kita cium tangannya selain orang tua kita sendiri? Rasanya kita sebagai umat Islam dengan senang hati mencium tangan Nabi Muhammad seandainya beliau ada bersama kita. Rasulullah adalah orang yg paling kita cintai dan hormati sebagai umat Islam. Beliau menempati urutan tertinggi utk kita hormati dan cium tangannya jika kita bisa bertemu. Bahkan ada riwayat yg menceritakan dua orang Yahudi yg mencium tangan dan kaki Rasulullah karena kekagumannya atas kerasulan Muhammad SAW.
(more…)
Dunia adalah keajaiban, yang indah dan misterius!
Saat saya menyantap hidangan dessert ice cream Walls di ketinggian lebih dari 10.000 kaki dalam perut pesawat Garuda pada perjalanan pulang dari Jakarta ke Balikpapan…
Anak bungsu saya mungkin sedang mengayuh sepeda meluncur dari ketinggian ujung jalan bersama anak-anak tetangga sambil berteriak-teriak gembira. Kesenangan tak terperikan.
Pada saat yang sama ribuan jamaah haji baru saja mendarat di bandara King Abdul Aziz, Jeddah dengan seragam ihram putih berbaris rapi dengan bibir tetap melantunkan dzikir. Kelelahan yang penuh khidmat.
Para induk burung elang di ketinggian puncak-puncak gunung sibuk menyuapi bayi-bayi mereka dengan mulut menganga kelaparan satu persatu. Cinta yg tak terlukiskan.
Ikan-ikan berenang dengan cepat dalam gerombolan besar menuju perairan yg lebih hangat di Samudera Pasifik. Keharusan yg tak pernah ditanyakan.
(more…)
Masih tentang ‘branding’. Saat ini saya berada di The Harvest, toko kue sing larang iku lho! Tahukah anda mengapa kue-kue di The Harvest mahal (tapi tetap laris)? Ya karena mereka punya ‘brand’ yg kuat sebaga toko roti yg enak dan mewah. Kue-kuenya enak dan nampak cantik-cantik menggoda selera. Cobalah minta sepotong cheese cakenya yg nampak begitu menggiurkan. Potong sesendok kecil dan suapkan ke mulut Anda. Pejamkan mata, kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya. Nyaaam..! Lumer boss…!:-D
Beberapa kue keringnya sebetulnya rasanya not so special tapi dikemas dengan cantik sehingga nampak luxurious (foto terlampir). Kita akan tergoda utk membawanya sebagai oleh-oleh camilan di rumah. So pretty…! (Yet so expensive to many of us)
Setelah saya amati ternyata wadahnya cuma plastik yg sebetulnya ada dijual bebas di toko-toko plastik. So it’s not so special. Ia menjadi mewah setelah diberi cap tempelan ‘The Harvest’ dan dipajang di toko yg didisain begitu wah! Kue Crispy Almond dg berat sekitar 100 gram lebih sedikit dijual dg harga 40 ribu karena ‘it’s The Harvest’ gitu loh! Kue Kastengelnya malah dibandrol 85 ribu rupiah! (gak sidho ngambil aku) Padahal dg uang sejumlah yg sama Anda bisa mendapatkan kue kering di pasar-pasar seberat satu kilogram! Satu berbanding sepuluh, bleh!
(more…)
Minggu, 2 Oktober 2011 kemarin saya menghadiri acara Reuni Akbar SMAN 7 Sby di mana saya pernah bersekolah 35 tahun yg lalu. Acaranya diadakan di ballroom Hotel Garden Palace sejak jam 9 pagi dan baru berakhir sekitar jam 3 sore. Karena yg reuni adalah angkatan 66 (angkatan pertama) sampai angkatan 83 maka yg datang jelas sudah banyak angkatan gaek pensiunan. Saya sendiri termasuk yg sudah ‘pensiun’ dari mencari nafkah meski dalam usia sebenarnya masih belum. Kebanyakan teman-teman saya saat ini sedang berada di puncak kariernya karena dalam beberapa tahun lagi akan pensiun. Tak ada di antara mereka yg berkarir sebagai guru atau dosen yg bisa pensiun pada usia lebih tua.
Karena sudah sekitar 35 tahun tidak pernah bertemu maka ketika bertemu kembali kebanyakan kami tidak bisa langsung saling mengenali. Ada di antara kami yg berubah total penampilannya dan ada juga yg masih dengan mudah diingat-ingat wajahnya karena tidak mengalami banyak perubahan. Beberapa di antara kami memang masih saling berhubungan baik karena lokasi tempat tinggal yg bertetangga atau berdekatan atau karena faktor pekerjaan yg masih berhubungan. Biasanya yg begini adalah teman-teman yg masih tinggal dan bekerja di Surabaya. Saya sendiri hampir tidak berhubungan sama sekali dg teman-teman alumni setelah lepas SMA walau pernah cukup lama kuliah dan bekerja di Surabaya sebelum pindah ke Bontang dan Balikpapan. Faktor pekerjaan dan kesibukan membuat saya tidak punya waktu dan kesempatan utk mencaritahu di mana mereka. Saya sendiri sebetulnya tetap berkumpul dg teman-teman kuliah dulu setiap kali ke Surabaya. Tapi tidak berhubungan lagi dg teman-teman SMA (dan sudah tidak ingat lagi dg teman-teman SMP). Jadi bisa bertemu kembali dg teman-teman SMA kemarin itu adalah sesuatu yg luar biasa bagi saya.
Pertanyaan standar yg kita lontarkan ketika bertemu teman lama adalah : apa kabar, di mana bekerja, berapa anakmu, di mana tinggal skrg, dan dari situ kemudian percakapan meluncur ke mana-mana bergantung seberapa akrab kita dg teman lama tersebut. Semakin akrab kita dulu maka semakin hangat percakapan. Tak jarang ‘pisuhan’ lama berhamburan lagi saking senangnya kita bertemu. Kami kembali berprilaku seperti ketika masih SMA dulu. Saling lempar guyonan, olok-olokan, pisuhan, cerita kekonyolan, dan gablok-gablokan. Tentunya dalam suasana riang gembira. (more…)

Saya biasanya menulis di PC atau laptop saya tapi kini saya mulai menulis dg Blackberry saya. Beberapa tulisan terakhir saya di web adalah hasil tulisan melalui Blackberry yg lebar layarnya cuma beberapa senti dan tuts ketiknya begitu kecilnya sehingga hanya akan efektif jika dipencet dg kuku jempol. Lapangan menulis saya mengkerut dengan drastis.










Recent Comments