
Ilustrasi. dok. islington.gov.uk
“Apakah Islam mengajarkan kekerasan? Terhadap pertanyaan ini saya akan menjawab tegas dan lantang: YA!” demikian tulis Kang Hasan dalam blognya dan ia pun menjelaskan panjang lebar pendapatnya tersebut dengan mengutip beberapa kisah yang terjadi dalam sejarah kebangkitan Islam yang diabadikan dalam beberapa hadist. Tulisan saya ini saya buat untuk menjawab tantangan Kang Hasan untuk menjawab argumennya tersebut.
Dalam blognya tersebut Kang Hasan memberikan beberapa contoh tentang PERISTIWA kekerasan yang kemudian disimpulkannya sebagai AJARAN KEKERASAN dalam Islam.
“Dikisahkan tentang seorang lelaki buta. Istrinya suka mencaci maki Muhammad. Laki-laki ini dengan meraba-raba mencari sebilah pisau. Dan ketika ia temukan, pisau itu ia gunakan untuk menikam dan membunuh istrinya, Ketika hal itu sampai ke telinga Muhammad, ia mendiamkannya. Diamnya Muhammad umumnya diartikan sebagai persetujuan.
(more…)
Jika Anda punya sedikit waktu untuk membaca dipagi, siang atau malam hari maka saya menganjurkan Anda untuk membaca buku “Stones into Schools”, sebuah buku tentang perjuangan Greg Mortenson dalam membangun lebih dari 145 sekolah di Pakistan dan Afghanistan selama 17 tahun ini. Buku ini adalah sekuel memoar laris “Three Cups of Tea” yang bukunya telah terjual 3,4 juta kopi dan diterbitkan di tiga lusin negara di seluruh dunia dan bertahan sebagai buku terlaris New York Times untuk kategori jenis nonfiksi selama tiga tahun terus menerus! Fakta ini saja sebenarnya cukup untuk membuktikan bahwa buku ini dahsyat! Sebuah buku yang patut untuk Anda baca dan sebarluaskan semangatnya pada siapa saja yang ingin memiliki hidup yang memiliki arti bagi orang lain. Buku ini bahkan menjadi buku bacaan wajib bagi para perwira militer yang mengikuti pendidikan penumpasan pemberontakan (countersurgency) di Pentagon. Buku ini dapat mengajar para perwira tersebut agar mereka memahami semangat dan visi Greg Mortenson dalam membangun peradaban di negara yang diluluhlantakkan oleh perang yang tiada henti.
Buku ini diberi kata pengantar oleh Khaled Hosseini, penulis novel fenomenal laris “The Kite Runner”, yang memberikan penghargaan yang tinggi terhadap upaya Greg Mortenson untuk membangun sekolah di negara-negara yang luluh lantak oleh perang dan pertikaian suku itu. Greg tidak hanya membangun sekolah bagi anak-anak di daerah sangat terpencil di sudut-sudut dunia yang tak terbayangkan oleh kita tapi ia juga mengutamakan dedikasinya tersebut bagi anak-anak perempuan yang paling menderita oleh karena situasi perang dan pertikaian tersebut. Greg percaya pada fenomena ‘Girl Effect’ pada pepatah Afrika yang menyatakan “Jika kita mengajar anak laki-laki, kita mendidik individu; tapi jika kita mengajar anak perempuan, kita mendidik satu komunitas.” Dari upayanya ini Greg berhasil menumbuhkan anak-anak perempuan yang berasal dari suku paling terpencil di Pakistan dan Afghanistan menjadi pahlawan dan pemimpin komunitasnya masing-masing, sesuatu yang bahkan takkan terbayangkan waktu sekolah itu dibangun.
(more…)

Ilustrasi Polisi Cepek
Ingin jadi bos secara instan dengan biaya murah? Saya anjurkan Anda untuk datang ke Jakarta. Di Jakarta dengan mudah Anda akan jadi bos dengan biaya cukup seribu rupiah! Kalau tidak punya uang seribu rupiah maka koin 500 atau bahkan 100 rupiah pun jadilah.
Bagaimana caranya? Melintaslah di jalanan di Jakarta dengan mobil pribadi (atau taxi juga bisa) dan jika kebetulan Anda hendak berbelok atau berputar maka Anda akan menemui orang-orang yang akan membantu Anda menjadi ‘Boss’. Mereka adalah para pemuda yang dengan gagah berani dan dengan penuh kesungguhan bekerja untuk mencegat kendaraan dari lain jurusan agar kita bisa lewat di belantara lalulintas Jakarta yang sungguh ruwet tersebut.
Pekerjaan mereka adalah membantu mengatur lalu lintas yang lewat dengan mengatur kapan kendaraan dari berbagai arah untuk lewat. Orang-orang menyebut mereka sebagai ‘Polisi Cepek, One Hundred Rups Cop’. Dan untuk melakukan tugas mulia tersebut kita cukup memberi mereka sekeping uang koin senilai berapa pun, cepek pun Oklah! Mereka bahkan tidak pernah memaksa atau memelototi kita jika kita tidak memberi mereka apa-apa. Mereka akan tetap melaksanakan tugas mereka dengan sukacita dan penuh dedikasi. (more…)












Recent Comments