<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: BAHASA INGGRIS DAN MITOS</title>
	<atom:link href="http://satriadharma.com/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://satriadharma.com/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/</link>
	<description>Centre for the Betterment of Education (CBE)</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 04:40:15 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: AWESOMEDONG:</title>
		<link>http://satriadharma.com/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/comment-page-1/#comment-789</link>
		<dc:creator>AWESOMEDONG:</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 05:56:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/#comment-789</guid>
		<description>Komentar AWESOMEDONG:
 

Tulisan yang sangat bagus dari Satria Dharma karena membangunkan kita 
kepada sikap ambigu dan ambivalen bangsa Indonesia selama ini terhadap 
bahasa asing (khususnya Inggris) dan bahasa Indonesia.  Berkaitan 
dengan topik yang diangkat di atas, ada beberapa hal yang ingin saya 
singgung. 

Pertama, memang benar bahwa ada kecenderungan pemakaian bahasa Inggris 
di kalangan masyarakat tertentu sarat dengan motivasi untuk pamer 
diri, supaya terlihat &quot;keren.&quot; Namun demikian, harus diakui bahwa 
fakta *keterbatasan kosa kata* bahasa Indonesia juga mendorong orang 
untuk merasa lebih nyaman memakai bahasa Inggris. 

Masalah keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia bisa dilihat, 
misalnya, dari belum pernah adanya *thesaurus* bahasa Indonesia 
sebagaimana berbagai versi (Roget&#039;s, Merriam Webster&#039;s, dll) yang 
telah berhasil dipublikasikan oleh negara-negara berbahasa-utama-
Inggris (khususnya Britania Raya dan AS). 

Belum lagi kalau kita bicara soal dunia perkamusan bahasa Indonesia. 

Berbagai kamus Inggris-Inggris ternama oleh Oxford, Merriam Webster, 
dll, telah berhasil mengeluarkan berbagai macam kamus dan edisi 
revisinya dari waktu ke waktu dengan mengikuti dinamika perkembangan 
bahasa, mulai dari ukuran kompak (saku) sampai dengan edisi unabridged 
(atau multi-volume). 

Bagaimana dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)? Tidak banyak 
perubahan yang bisa ditemukan dalam edisi lama ke edisi berikutnya 
([ter-]baru). Tidak cuma itu saja, tingkat keseriusan dan energi yang 
tertuang dalam penyusunan KBBI tidak bisa dibandingkan dengan hal yang 
sama dalam penyusunan kamus-kamus tebal seperti Oxford atau Merriam 
Webster. Miskinnya informasi etimologis tiap entri (kata) dan contoh-
contoh kalimat untuk memperjelaskan penggunaan kata menjadi salah satu 
tolok ukur rendahnya keseriusan dan tingkat kesarjanaan KBBI bila 
dibandingkan dengan kedua kamus asing di atas. 

Ini padahal adalah KBBI, yang notabene adalah kamus &quot;resmi&quot; dan 
otoritatifnya bangsa Indonesia dan yang boleh dibilang representatif 
akan bobot kesarjanaan ahli-ahli bahasa top kita. Kita tidak usah 
bicara kamus-kamus Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, edisi kertas 
koran yang banyak diterbitkan oleh penerbit kelas gurem, di mana klaim-
klaim jumlah kata yang dimuatnya bisa membuat orang yang mengerti bisa 
tertawa terpingkal-pingkal (mis. &quot;Kamus Inggris-Indonesia *150 Juta* Kata&quot;). 





Di satu sisi, terbitnya kamus-kamus kelas ecek-ecek ini membawa berkah 
bagi lapisan masyarakat kelas bawah karena harganya yang murah--ya 
gimana gak murah lah, wong bikinnya saja asal-asalan! Namun, di sisi 
lain, kehadiran kamus-kamus ini juga menimbulkan *penyesatan ilmu 
pengetahuan* dengan berbagai kesalahannya (mulai dari kesalahan cetak 
s/d kesalahan definisi kata) dan juga sekaligus menenggelamkan kaliber 
kesarjanaan bahasa secara kolektif di Indonesia.

Kedua, penyikapan yang ambigu terhadap bahasa asing (Inggris) bisa 
menghasilkan penguasaan yang setengah-setengah. Dan jika begitu banyak 
waktu yang dituangkan untuk mempelajari suatu bahasa asing sementara 
pemakaiannya minim dalam kehidupan sehari-hari, maka memang benar 
untuk apa buang-buang waktu dan energi mempelajari bahasa asing. 

Kenapa tidak meniru bangsa Jepang saja yang bisa bangkit dan maju 
dengan tetap bersikap tegar dan bangga terhadap pemakaian bahasa ibu 
sendiri? Argumen dengan memakai contoh Jepang ini menjadi atraktif 
apabila ditopang oleh asumsi bahwa kekayaan bahasa Indonesia (dari 
segi kosa kata, gramatika, dll)  adalah sedemikian rupa sehingga bisa 
menyaingi bahasa Inggris, misalnya. Akan tetapi, kenyataannya ialah 
bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang miskin--setidaknya tidak ada 
usaha serius ke arah *pengayaan* bahasa Indonesia, baik oleh para 
pakar bahasa maupun masyarakat umum. Belum lagi ditambah dengan 
kehadiran indoktrinasi--&quot;mitos&quot;--yang gencar didengungkan bahwa tanpa 
penguasaan bahasa asing di era globalisasi ini seseorang tidak akan 
bisa sukses. Jadi, lengkap sudah keterpurukan bahasa Indonesia dalam 
bersaing dengan bahasa Inggris. 

Ada lagi fenomena di masyarakat Indonesia, di mana iklim kondusif bagi 
kebanggaan dan keseriusan dalam memiliki serta menguasai bahasa 
Indonesia semakin tergerus. Saya bicara fenomena menjamurnya sekolah-
sekolah nasional plus yang lebih mengedepankan fitur pembelajaran dan 
komunikasi menggunakan bahasa asing (terutama Inggris dan Mandarin). 

Anak kecil sejak usia playgroup dan TK sudah dicekoki dengan bahasa 
asing. Secara pedagogis pembelajaran bahasa asing sejak usia dini 
mungkin tepat sasaran. Yang jadi masalah, trend ini turut membantu 
semakin terpinggirkannya eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa 
nasional. 

Saya pribadi tidak pernah silau atau terkesima dengan program 
pembelajaran bahasa asing di usia dini yang ditampilkan sebagai satu 
fitur utama sekolah-sekolah plus ini. Ada kecenderungan untuk melihat 
penguasaan bahasa (asing) sebagai *tujuan akhir* (ultimat) dari proses 
edukasi dan pembelajaran seseorang. Padahal, bagi saya, bahasa tidak 

lebih dari sekedar *alat* (sarana) untuk mencapai tujuan yang lebih 
besar. Apa tujuan yang lebih besar itu? Apalagi kalau bukan *ide* yang 
terbungkus dalam bahasa tsb. Jadi, kalaupun seseorang berusaha mati-
matian untuk menguasai suatu bahasa asing, maka seyogianya usaha keras 
tsb dilakukan bukan untuk sekedar menguasai bahasa asing tsb *sebagai 
tujuan akhir* melainkan untuk memuaskan keingintahuan dan perburuannya 
terhadap *the universe of ideas* yang terbungkus dan tersembunyi dalam 
(setiap) bahasa asing yang hendak dikuasainya. 

Oleh sebab itu pula, mungkin kita pernah menjumpai orang, khususnya 
penghobi dalam bidang bahasa (guru atau ahli bahasa [asing], misalnya) 
yang level intelektualnya terkesan &quot;begitu-begitu&quot; saja meskipun (a) 
usia sudah cukup uzur (veteran) dan (b) sudah berpuluh-puluh tahun 
bergelut dalam penguasaan dan pengajaran bahasa. Kenapa wawasan 
intelektualnya tidak pernah beranjak atau berubah secara dinamis dan 
signifikan? Ini semua karena pendekatan--keasyikan, obsesi, linguistic 
hair-splitting--terhadap bahasa dengan segala pernak-perniknya 
(gramatika, fonetika, dll) sebagai tujuan akhir, tanpa pernah tertarik 
untuk mendalami ide-ide (besar) di balik bahasa yang dipelajari dan 
ditelitinya dari sejak usia muda. 

Akhir kata, saya sependapat dengan apa yang Satria Dharma ungkapkan 
sebagai pendekatan bangsa Jepang terhadap invasi bahasa asing--
i.e. &quot;pentingkan ide di balik bahasa asing tsb dan tanggal-/tinggalkan 
kulitnya (bahasanya)&quot;--tetapi ini semua harus ditopang oleh kekayaan 
repertoar bahasa ibu (nasional) yang memadai. Tanpa kekayaan ini--dan 
usaha ke arah itu--jangan harap bahasa Indonesia bisa bertahan di 
tengah badai serbuan budaya dan bahasa asing. Pengayaan bahasa 
Indonesia harus dilakukan secara terus-menerus lewat adopsi dan 
asimilasi dengan kata-kata asing/daerah, misalnya, sama seperti yang 
selama ini dialami oleh bahasa Inggris sehingga kosa katanya menjadi 
begitu amat kaya karena kontribusi dari berbagai unsur asing/daerah 
tadi. Tidak perlu ada dikotomi antara serapan &quot;asli&quot; (yang juga 
meliputi unsur-unsur daerah) vs &quot;asing&quot; (i.e. dari luar Indonesia), di 
mana yang berbau asing harus selalu ditolak. Sikap 
provinsialis/sektarian seperti ini merupakan manifestasi nasionalisme 
yang sempit, salah-kaprah, dan tidak bisa dipertahankan di jaman 
modern sekarang. 

Longdong</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Komentar AWESOMEDONG:</p>
<p>Tulisan yang sangat bagus dari Satria Dharma karena membangunkan kita<br />
kepada sikap ambigu dan ambivalen bangsa Indonesia selama ini terhadap<br />
bahasa asing (khususnya Inggris) dan bahasa Indonesia.  Berkaitan<br />
dengan topik yang diangkat di atas, ada beberapa hal yang ingin saya<br />
singgung. </p>
<p>Pertama, memang benar bahwa ada kecenderungan pemakaian bahasa Inggris<br />
di kalangan masyarakat tertentu sarat dengan motivasi untuk pamer<br />
diri, supaya terlihat &#8220;keren.&#8221; Namun demikian, harus diakui bahwa<br />
fakta *keterbatasan kosa kata* bahasa Indonesia juga mendorong orang<br />
untuk merasa lebih nyaman memakai bahasa Inggris. </p>
<p>Masalah keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia bisa dilihat,<br />
misalnya, dari belum pernah adanya *thesaurus* bahasa Indonesia<br />
sebagaimana berbagai versi (Roget&#8217;s, Merriam Webster&#8217;s, dll) yang<br />
telah berhasil dipublikasikan oleh negara-negara berbahasa-utama-<br />
Inggris (khususnya Britania Raya dan AS). </p>
<p>Belum lagi kalau kita bicara soal dunia perkamusan bahasa Indonesia. </p>
<p>Berbagai kamus Inggris-Inggris ternama oleh Oxford, Merriam Webster,<br />
dll, telah berhasil mengeluarkan berbagai macam kamus dan edisi<br />
revisinya dari waktu ke waktu dengan mengikuti dinamika perkembangan<br />
bahasa, mulai dari ukuran kompak (saku) sampai dengan edisi unabridged<br />
(atau multi-volume). </p>
<p>Bagaimana dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)? Tidak banyak<br />
perubahan yang bisa ditemukan dalam edisi lama ke edisi berikutnya<br />
([ter-]baru). Tidak cuma itu saja, tingkat keseriusan dan energi yang<br />
tertuang dalam penyusunan KBBI tidak bisa dibandingkan dengan hal yang<br />
sama dalam penyusunan kamus-kamus tebal seperti Oxford atau Merriam<br />
Webster. Miskinnya informasi etimologis tiap entri (kata) dan contoh-<br />
contoh kalimat untuk memperjelaskan penggunaan kata menjadi salah satu<br />
tolok ukur rendahnya keseriusan dan tingkat kesarjanaan KBBI bila<br />
dibandingkan dengan kedua kamus asing di atas. </p>
<p>Ini padahal adalah KBBI, yang notabene adalah kamus &#8220;resmi&#8221; dan<br />
otoritatifnya bangsa Indonesia dan yang boleh dibilang representatif<br />
akan bobot kesarjanaan ahli-ahli bahasa top kita. Kita tidak usah<br />
bicara kamus-kamus Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, edisi kertas<br />
koran yang banyak diterbitkan oleh penerbit kelas gurem, di mana klaim-<br />
klaim jumlah kata yang dimuatnya bisa membuat orang yang mengerti bisa<br />
tertawa terpingkal-pingkal (mis. &#8220;Kamus Inggris-Indonesia *150 Juta* Kata&#8221;). </p>
<p>Di satu sisi, terbitnya kamus-kamus kelas ecek-ecek ini membawa berkah<br />
bagi lapisan masyarakat kelas bawah karena harganya yang murah&#8211;ya<br />
gimana gak murah lah, wong bikinnya saja asal-asalan! Namun, di sisi<br />
lain, kehadiran kamus-kamus ini juga menimbulkan *penyesatan ilmu<br />
pengetahuan* dengan berbagai kesalahannya (mulai dari kesalahan cetak<br />
s/d kesalahan definisi kata) dan juga sekaligus menenggelamkan kaliber<br />
kesarjanaan bahasa secara kolektif di Indonesia.</p>
<p>Kedua, penyikapan yang ambigu terhadap bahasa asing (Inggris) bisa<br />
menghasilkan penguasaan yang setengah-setengah. Dan jika begitu banyak<br />
waktu yang dituangkan untuk mempelajari suatu bahasa asing sementara<br />
pemakaiannya minim dalam kehidupan sehari-hari, maka memang benar<br />
untuk apa buang-buang waktu dan energi mempelajari bahasa asing. </p>
<p>Kenapa tidak meniru bangsa Jepang saja yang bisa bangkit dan maju<br />
dengan tetap bersikap tegar dan bangga terhadap pemakaian bahasa ibu<br />
sendiri? Argumen dengan memakai contoh Jepang ini menjadi atraktif<br />
apabila ditopang oleh asumsi bahwa kekayaan bahasa Indonesia (dari<br />
segi kosa kata, gramatika, dll)  adalah sedemikian rupa sehingga bisa<br />
menyaingi bahasa Inggris, misalnya. Akan tetapi, kenyataannya ialah<br />
bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang miskin&#8211;setidaknya tidak ada<br />
usaha serius ke arah *pengayaan* bahasa Indonesia, baik oleh para<br />
pakar bahasa maupun masyarakat umum. Belum lagi ditambah dengan<br />
kehadiran indoktrinasi&#8211;&#8221;mitos&#8221;&#8211;yang gencar didengungkan bahwa tanpa<br />
penguasaan bahasa asing di era globalisasi ini seseorang tidak akan<br />
bisa sukses. Jadi, lengkap sudah keterpurukan bahasa Indonesia dalam<br />
bersaing dengan bahasa Inggris. </p>
<p>Ada lagi fenomena di masyarakat Indonesia, di mana iklim kondusif bagi<br />
kebanggaan dan keseriusan dalam memiliki serta menguasai bahasa<br />
Indonesia semakin tergerus. Saya bicara fenomena menjamurnya sekolah-<br />
sekolah nasional plus yang lebih mengedepankan fitur pembelajaran dan<br />
komunikasi menggunakan bahasa asing (terutama Inggris dan Mandarin). </p>
<p>Anak kecil sejak usia playgroup dan TK sudah dicekoki dengan bahasa<br />
asing. Secara pedagogis pembelajaran bahasa asing sejak usia dini<br />
mungkin tepat sasaran. Yang jadi masalah, trend ini turut membantu<br />
semakin terpinggirkannya eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa<br />
nasional. </p>
<p>Saya pribadi tidak pernah silau atau terkesima dengan program<br />
pembelajaran bahasa asing di usia dini yang ditampilkan sebagai satu<br />
fitur utama sekolah-sekolah plus ini. Ada kecenderungan untuk melihat<br />
penguasaan bahasa (asing) sebagai *tujuan akhir* (ultimat) dari proses<br />
edukasi dan pembelajaran seseorang. Padahal, bagi saya, bahasa tidak </p>
<p>lebih dari sekedar *alat* (sarana) untuk mencapai tujuan yang lebih<br />
besar. Apa tujuan yang lebih besar itu? Apalagi kalau bukan *ide* yang<br />
terbungkus dalam bahasa tsb. Jadi, kalaupun seseorang berusaha mati-<br />
matian untuk menguasai suatu bahasa asing, maka seyogianya usaha keras<br />
tsb dilakukan bukan untuk sekedar menguasai bahasa asing tsb *sebagai<br />
tujuan akhir* melainkan untuk memuaskan keingintahuan dan perburuannya<br />
terhadap *the universe of ideas* yang terbungkus dan tersembunyi dalam<br />
(setiap) bahasa asing yang hendak dikuasainya. </p>
<p>Oleh sebab itu pula, mungkin kita pernah menjumpai orang, khususnya<br />
penghobi dalam bidang bahasa (guru atau ahli bahasa [asing], misalnya)<br />
yang level intelektualnya terkesan &#8220;begitu-begitu&#8221; saja meskipun (a)<br />
usia sudah cukup uzur (veteran) dan (b) sudah berpuluh-puluh tahun<br />
bergelut dalam penguasaan dan pengajaran bahasa. Kenapa wawasan<br />
intelektualnya tidak pernah beranjak atau berubah secara dinamis dan<br />
signifikan? Ini semua karena pendekatan&#8211;keasyikan, obsesi, linguistic<br />
hair-splitting&#8211;terhadap bahasa dengan segala pernak-perniknya<br />
(gramatika, fonetika, dll) sebagai tujuan akhir, tanpa pernah tertarik<br />
untuk mendalami ide-ide (besar) di balik bahasa yang dipelajari dan<br />
ditelitinya dari sejak usia muda. </p>
<p>Akhir kata, saya sependapat dengan apa yang Satria Dharma ungkapkan<br />
sebagai pendekatan bangsa Jepang terhadap invasi bahasa asing&#8211;<br />
i.e. &#8220;pentingkan ide di balik bahasa asing tsb dan tanggal-/tinggalkan<br />
kulitnya (bahasanya)&#8221;&#8211;tetapi ini semua harus ditopang oleh kekayaan<br />
repertoar bahasa ibu (nasional) yang memadai. Tanpa kekayaan ini&#8211;dan<br />
usaha ke arah itu&#8211;jangan harap bahasa Indonesia bisa bertahan di<br />
tengah badai serbuan budaya dan bahasa asing. Pengayaan bahasa<br />
Indonesia harus dilakukan secara terus-menerus lewat adopsi dan<br />
asimilasi dengan kata-kata asing/daerah, misalnya, sama seperti yang<br />
selama ini dialami oleh bahasa Inggris sehingga kosa katanya menjadi<br />
begitu amat kaya karena kontribusi dari berbagai unsur asing/daerah<br />
tadi. Tidak perlu ada dikotomi antara serapan &#8220;asli&#8221; (yang juga<br />
meliputi unsur-unsur daerah) vs &#8220;asing&#8221; (i.e. dari luar Indonesia), di<br />
mana yang berbau asing harus selalu ditolak. Sikap<br />
provinsialis/sektarian seperti ini merupakan manifestasi nasionalisme<br />
yang sempit, salah-kaprah, dan tidak bisa dipertahankan di jaman<br />
modern sekarang. </p>
<p>Longdong</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: veve</title>
		<link>http://satriadharma.com/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/comment-page-1/#comment-464</link>
		<dc:creator>veve</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 13:25:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/#comment-464</guid>
		<description>Yth. Pak Satria,

Saya kagum sekali dg ide2 yg Bapak sharing-kan kepada semua warga negara indonesia...
sehingga kami yg jd prajurit perang mrs sll dikuatkan dan disegarkan...
sungguh..rasnya tdk rela jk negeri sekaya indonesia ini harus hancurlebur krn kebijakan2 yg dangkal....

oh ya...
selain itu saya jg mau minta tolong BApak atu teman2 utk membantu saya mendapatkan data statistik kesuksesan pembelajaran bhs inggris di tingkat sekolah menengah (pertama dan atas)...
terimakasih sebelumnya...
ini utk riset studi saya di negeri sakura....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth. Pak Satria,</p>
<p>Saya kagum sekali dg ide2 yg Bapak sharing-kan kepada semua warga negara indonesia&#8230;<br />
sehingga kami yg jd prajurit perang mrs sll dikuatkan dan disegarkan&#8230;<br />
sungguh..rasnya tdk rela jk negeri sekaya indonesia ini harus hancurlebur krn kebijakan2 yg dangkal&#8230;.</p>
<p>oh ya&#8230;<br />
selain itu saya jg mau minta tolong BApak atu teman2 utk membantu saya mendapatkan data statistik kesuksesan pembelajaran bhs inggris di tingkat sekolah menengah (pertama dan atas)&#8230;<br />
terimakasih sebelumnya&#8230;<br />
ini utk riset studi saya di negeri sakura&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rose</title>
		<link>http://satriadharma.com/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/comment-page-1/#comment-216</link>
		<dc:creator>rose</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 15:56:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/#comment-216</guid>
		<description>Mas  kasih  tau  donk  alamat kursus  yang  bagus  di selangor  malaysia?.  saya  mhs,  bhs  inggris  saya  belum  bagus.

makasih ya mas?. saya  tunggu  loh  balasan nya?

wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas  kasih  tau  donk  alamat kursus  yang  bagus  di selangor  malaysia?.  saya  mhs,  bhs  inggris  saya  belum  bagus.</p>
<p>makasih ya mas?. saya  tunggu  loh  balasan nya?</p>
<p>wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dyan</title>
		<link>http://satriadharma.com/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/comment-page-1/#comment-118</link>
		<dc:creator>dyan</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2007 12:25:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/#comment-118</guid>
		<description>ikut urun rembug ya...

saya kuliah di jurusan FKIP Bahasa Inggris.dengan dosen yang notabene semua lulusan luar negeri.perlahan2 saya rasakan,kebudayaan berbahasa jawa kami makin luntur.seakan2 mau punah saja.orang jawa hilang jawanya...sangat memprihatinkan sebenarnya...
bukannya saya mengambinghitamkan bahasa inggris,tentu saja tidak.tapi hendaknya,pem-blow up-an penggunaan bahasa inggris di bidang akademik misalnya,hendaknya dibarengi dengan usaha pelestarian budaya sendiri.
mungkin seperti itu dari saya,silakan kunjungi blog saya: www.diansemangat.blogspot.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ikut urun rembug ya&#8230;</p>
<p>saya kuliah di jurusan FKIP Bahasa Inggris.dengan dosen yang notabene semua lulusan luar negeri.perlahan2 saya rasakan,kebudayaan berbahasa jawa kami makin luntur.seakan2 mau punah saja.orang jawa hilang jawanya&#8230;sangat memprihatinkan sebenarnya&#8230;<br />
bukannya saya mengambinghitamkan bahasa inggris,tentu saja tidak.tapi hendaknya,pem-blow up-an penggunaan bahasa inggris di bidang akademik misalnya,hendaknya dibarengi dengan usaha pelestarian budaya sendiri.<br />
mungkin seperti itu dari saya,silakan kunjungi blog saya: <a href="http://www.diansemangat.blogspot.com" rel="nofollow">http://www.diansemangat.blogspot.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: agus budiyanto</title>
		<link>http://satriadharma.com/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/comment-page-1/#comment-117</link>
		<dc:creator>agus budiyanto</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 May 2007 03:36:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/#comment-117</guid>
		<description>gusbud urun rembug

Nice to meet you mr. satria. I miss you .
Sudah sepatutnya sekolah-sekolah unggulan di kota seperti BPP, Smd, Bontang, menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar pembelajaran di kelas untuk beberapa mata pelajaran walaupun tidak seratus persen. Hal ini akan memberikan motivasi dan tantangan bagi guru non bahasa inggris dan siswa harus belajar bahasa ingris. Kami di SMP Vidatra akan menuju kesana. But, How to begin? Do you have any suggestion? Dalam rangka hardiknas kemarin kami mengadakan story telling contest smp se bontang tetapi sekolah dari luar belum menunjukkan respon yang cukup.

Sorry, I think that&#039;s all</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>gusbud urun rembug</p>
<p>Nice to meet you mr. satria. I miss you .<br />
Sudah sepatutnya sekolah-sekolah unggulan di kota seperti BPP, Smd, Bontang, menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar pembelajaran di kelas untuk beberapa mata pelajaran walaupun tidak seratus persen. Hal ini akan memberikan motivasi dan tantangan bagi guru non bahasa inggris dan siswa harus belajar bahasa ingris. Kami di SMP Vidatra akan menuju kesana. But, How to begin? Do you have any suggestion? Dalam rangka hardiknas kemarin kami mengadakan story telling contest smp se bontang tetapi sekolah dari luar belum menunjukkan respon yang cukup.</p>
<p>Sorry, I think that&#8217;s all</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Muly De La Vega</title>
		<link>http://satriadharma.com/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/comment-page-1/#comment-116</link>
		<dc:creator>Muly De La Vega</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 May 2007 04:06:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/#comment-116</guid>
		<description>Kawula dereng gadhah komentar babagan menika, Mas Satria Dharma! Menawi sampun gadhah gagasan, kamula badhe nyaosi panjenengan! Matur nuwun saderengipun!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kawula dereng gadhah komentar babagan menika, Mas Satria Dharma! Menawi sampun gadhah gagasan, kamula badhe nyaosi panjenengan! Matur nuwun saderengipun!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: adi caco</title>
		<link>http://satriadharma.com/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/comment-page-1/#comment-115</link>
		<dc:creator>adi caco</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2007 06:09:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satriadharma.com/index.php/2007/03/07/bahasa-inggris-dan-mitos/#comment-115</guid>
		<description>Terlepas dari apakah bahasa inggris merupakan bahasa asing (kebudayaan asing) dan apakah kita harus mengadopsinya atau tidak, saya ingin mengatakan bahwa platform globalisasi dan tujuan ekopol global tidak harus dikesampingkan dalam menelaah masalah ini. kuatnya mainstream global khususnya USA dan negara-negara eropa barat dengan tujuan-tujuan akumulasi modal dan penguasaan SDA terhadap negara-negara dunia ke-tiga termasuk Indonesia adalah salah satu kunci mengapa pemerintah melalui Depdiknas harus memprogramkan pendidikan bahasa inggris. kita semua baik pemerintah terlalu naif. apakah dengan terkooptasinya kita (indonesia) akibat telikungan perusahaan2 MNC tidak membuat kita jera? iming-iming pertumbuhan lewat investasi lintas negara tidak pernah menyentuh akar kemiskinan, bahkan kita perhadapkan lagi dengan provokasi media dan iklan tentang fantasi globalisasi dan spanduk-spanduknya yang konyol. mulai dari fast food, life style, dst. yang sarat dengan dominasi ekonomi bahkan budaya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terlepas dari apakah bahasa inggris merupakan bahasa asing (kebudayaan asing) dan apakah kita harus mengadopsinya atau tidak, saya ingin mengatakan bahwa platform globalisasi dan tujuan ekopol global tidak harus dikesampingkan dalam menelaah masalah ini. kuatnya mainstream global khususnya USA dan negara-negara eropa barat dengan tujuan-tujuan akumulasi modal dan penguasaan SDA terhadap negara-negara dunia ke-tiga termasuk Indonesia adalah salah satu kunci mengapa pemerintah melalui Depdiknas harus memprogramkan pendidikan bahasa inggris. kita semua baik pemerintah terlalu naif. apakah dengan terkooptasinya kita (indonesia) akibat telikungan perusahaan2 MNC tidak membuat kita jera? iming-iming pertumbuhan lewat investasi lintas negara tidak pernah menyentuh akar kemiskinan, bahkan kita perhadapkan lagi dengan provokasi media dan iklan tentang fantasi globalisasi dan spanduk-spanduknya yang konyol. mulai dari fast food, life style, dst. yang sarat dengan dominasi ekonomi bahkan budaya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

