prev next

Bagaimana Anda Ingin Dikenang?

Beberapa tahun yang lalu saya diundang reuni oleh sebuah SMP dimana saya pernah mengajar di Surabaya. Reuni ini agak unik karena yang reuni bukan bekas siswanya tapi para bekas gurunya dengan pemrakarsa para bekas muridnya. Saya pernah mengajar di sekolah itu selama beberapa tahun pada tahun 80an. Saya sendiri sebelumnya juga lulus dari sekolah itu dan juga diajar oleh para guru yang akhirnya jadi kolega saya pada saat itu. Saya mengajar di sekolah itu setelah pindah dari sebuah sekolah di sebuah kecamatan kecil di kabupaten Madiun. Saya pindah ke kota Surabaya karena kuliah lagi. Jadi sambil kuliah di IKIP saya mengajar di sekolah itu dengan status PNS.

(more…)

 

Mau Pakai Cara Terminalan atau Cara Sekolahan?

Dulu saya tinggal di daerah Wonokromo di Surabaya. Waktu itu tidak banyak anak di kampung saya yang meneruskan sekolah hingga perguruan  tinggi. Paling banter mereka hanya bersekolah sampai SMA dan sebagian besar hanya lulusan SMP. Mereka berpikir praktis saja. Kalau bisa bekerja untuk apa sekolah? Lagipula sekolah memang membutuhkan biaya yang keluarga mereka tidak miliki. Idaman pemuda kampung saya adalah jika bisa bekerja di PT Colibri (sekarang PT Unilever). Tapi memang tidak banyak yang bisa bekerja di sana karena perusahaan tersebut juga punya persyaratan. Biasanya hanya mereka yang punya keahlian di bidang olahraga, seperti volley atau sepakbola, saja yang bisa diterima. Tak
heran jika banyak teman saya yang giat berlatih sepakbola atau volley jaman itu. Tapi memang tidak banyak yang bisa lolos seleksi. Sebagian besar ya terpaksa menganggur.  Karena dekat dengan terminal Joyoboyo maka banyak dari teman-teman saya yang nongkrong dan jadi anak terminal. Sebagaimana umumnya anak-anak  terminal kemudian banyak yang jadi preman. Tak heran jika kampung saya dulunya banyak premannya. Bagi preman siapa yang paling berani maka itu yang paling disegani. Otot (keberanian berkelahi) sangat dihargai.
(more…)

 

Ada dua tantangan Bambang Sudibyo, Mediknas, kepada kota Balikpapan dalam kunjungannya kemarin, Pertama, menjadikan Balikpapan sebagai Kota Pelajar dan kedua menjadikan Balikpapan sebagai Ciber City.. Menjadikan Balikpapan sebagai Kota Pelajar dan Cyber City ? Siapa takut!
(more…)

 

Dunia pendidikan (terutama di Kaltim) sekali lagi harus berkabung mendengar berita dari rektor UNMUL mengenai rendahnya kemampuan berbahasa Iggris para dosennya yang sudah berpendidikan master (Kaltim Post, 30/8/04). Jika yang sudah magister saja hanya memiliki skor TOEFL rata-rata dibawah 300 maka bisa dibayangkan mereka yang masih belum magister. Ini betul-betul membuktikan bahwa keinginan kita untuk ‘meleverage’ kualitas pendidikan di Kaltim setara dengan ASEAN adalah bak mimpi disiang bolong. Mengapa demikian?

(more…)

 

Anak TK Tidak Boleh Diajari Membaca?

Pagi ini ada acara silaturrahmi orang tua siswa sekolah anak kami dan salah satu acaranya adalah ceramah tentang pendidikan yang disampaikan oleh Prof Suharyadi dari UI. Ceramahnya disampaikan dengan sangat menarik karena beliau pandai berkomunikasi dan suka humor.

Tapi ada hal yang disampaikan beliau yang mengganjal pikiran saya. Sebetulnya saya pingin berdiskusi dengan beliau tapi beliau terburu-buru ada acara lain sehingga pertanyaan saya ini terpaksa saya lemparkan ke milis ini. Saya berharap bisa memperoleh jawaban.
(more…)

 

Anak Saya dan Handphone

s3700044a.jpg

Apakah Anda membekali anak Anda dengan handphone ke sekolah? Banyak orang tua yang kebingungan menghadapi anak-anak mereka yang menuntut untuk dibekali handphone karena hampir semua teman mereka membawa HP ke sekolah, tak terkecuali kami.

Anak tertua saya yang baru kelas 6 SD sudah merengek-rengek untuk dibelikan HP sejak setahun yang lalu. Alasannya tentu saja karena semua teman-temannya membawa HP ke sekolah kecuali dia. Alasan yang tidak bisa kami terima. HP adalah alat komunikasi dan bukan gadget pelengkap penampilan.

(more…)

 

AHMADINEJAD

ahmadinejad.jpgPagi ini, seperti biasa, setelah sholat Subuh saya menarik sebuah buku dari rak dan mulai melakukan ritual keluarga, membaca. Anak-anak saya sudah asyik tenggelam dalam bacaannya masing-masing. Anak saya tertua, Yubi, yang duduk di kelas 2 SMP telah dua hari ini mulai membaca buku Karl May “Winnetou” yang agak saya ‘paksa’kan untuk membacanya.

Selama ini ia terus membaca buku-buku petualangan macam Harry Potter, Eragon, dan Narnia dan samasekali tidak tertarik pada buku karangan Karl May meski telah saya ‘rekomendasi’kan berkali-kali. Beberapa buku petualangan yang lebih ‘dewasa’ pun ditolaknya. Nampaknya ia telah ‘tersihir’ oleh buku dengan genre imajinatif macam Harry Potter, Eragon, dan Narnia tersebut. Meski saya gembira bahwa ia membaca dengan ‘rakus’ tanda ia sudah masuk dalam tahap ‘ a real book worm’ tapi saya agak cemas juga dengan materi yang ia baca. Ia semestinya mulai membaca materi yang lebih luas dan bervariasi.

(more…)