prev next

SORE ITU…

Sore itu saya sedang membaca koran pagi yang tidak sempat saya baca
ketika anak saya, Yubi, mendekati saya dengan pelan-pelan.

“Pak,” sapanya

“Hmm,” gumam saya, tanpa menghentikan bacaan saya.

“Aku mau ngomong sama Bapak tapi Bapak jangan marah ya!” katanya sambil
duduk di depan saya.

Konsentrasi membaca saya langsung buyar mendengar ucapannya ini.
Kalimat ini biasanya ia luncurkan jika anak saya ini melakukan
kesalahan.

“Ya.” jawab saya, “bicaralah!”

“Tapi Bapak harus janji untuk tidak marah.” Katanya sekali lagi minta
jaminan bahwa saya tidak akan memarahinya.
(more…)

 

Perkembangan sekolah-sekolah berbasis keagamaan baik di tanah air
maupun di negara-negara maju akhir-akhir ini adalah fenomena yang
menarik. Di berbagai kota di tanah air bermunculan dengan pesatnya
sekolah berbasis keagamaan, baik itu Islam ataupun Nasrani (Kristen,
Katholik, maupun Advent). Boleh dikata 80% sekolah-sekolah swasta yang baru dibuka adalah sekolah berbasis keagamaan, baik itu di
kompleks-kompleks perumahan mewah maupun di daerah-daerah.
Sekolah-sekolah dengan label SDIT/SMPIT (Sekolah Dasar/Menengah Islam Terpadu) marak didirikan dimana-mana. Sekolah-sekolah berbasis agama Nasrani juga tidak kurang gencarnya dibuka dimana-mana. Saat ini hampir di semua kompleks perumahan atau properti besar berdiri sekolah-sekolah Nasrani. TPA-TPA (Taman Pengajian AlQur’an) dan Sekolah-sekolah Minggu semakin marak. Bahkan sekolah-sekolah negeri dan swasta umum juga mulai menekankan pentingnya peran agama dalam kurikulum mereka. Beberapa sekolah umum mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian seragam yang bernuansa agamis seperti rok panjang dan jilbab bagi para siswinya. Di negara-negara maju pun (Australia, Inggris, USA) sekolah berbasis keagamaan tumbuh subur dan semakin banyak peminatnya. Ada apa yang terjadi dengan semua ini? Darimana tumbuhnya kesadaran keagamaan macam ini? Apa peran penting sekolah-sekolah berbasis keagamaan ini di masa depan?

(more…)